Dengan
perasaan bahagia, senang dan rindu. Kyara duduk manis menunggu kedatangan Ryu
di sebuah taman kecil ditengah kota. Sambil menyanyikan lagu-lagu cinta yang
biasa ia nyanyikan, Kyara kembali mengingat-ngingat kenangan lama dirinya
dengan Ryu sebelum Kyara memutuskan untuk kuliah diluar kota.
Detik,
menit, jam berlalu. 2 jam lebih sudah Kyara menunggu kedatangan Ryu. Bingung
dan takut mulai mnjalar dipikirannya. Bingung kenapa Ryu belum datang juga
mnjemputnya, dan takut akan sesuatu hal buruk yang terjadi pada Ryu.
Tiba-tiba,
suara dering handphone nya berbunyi. Sebuah nama orang yang sedari tadi ia
tunggu muncul di layar handphonenya, Ryu.
“Hallo” ucap Kyara dengan nada
agak kesal.
“Hallo mbak” jawab suara asing
diseberang sana.
“Eh, loh.. ini nomer Ryu tapi
kenapa kamu yang nelpon? Kamu siapa?” tanya Kyara menyelidik.
“Maaf mbak, saya Dion adik nya
mas Ryu.” Jawab suara yang tadi terasa asing ditelinga Kyara.
“Oh, Dion. Bilang kek dari tadi.
Ada apa Di? Ryu mana?”
“Mas Ryu ngga bisa jemput mbak.” Terdengar
jelas sebuah getaran di nada suara Dion, sebuah penyesalan dan kesedihan.
“Lah, kenapa?” tanya Kyara
kecewa.
“Nanti setelah aku jemput mbak,
aku akan bawa mbak menemui mas Ryu, dan disana mbak akan tahu jawabnya.” Ucap
Dion sesaat sebelum kemudian mematikan panggilannya.
Kyara
terdiam sejenak, kecewa dengan Ryu yang ternyata lebih mementingkan urusan lain
dibandingkan dirinya, dibanding dengan kekasih yang menjalani hubungan Long Distance Relationship dengannya.
Beberapa
menit kemudian, Dion datang dan langsung membawa Kyara pergi dari taman kota
menuju sebuah tempat yang telah ia janjikan, tanpa berbicara sepatah katapun.
Setelah tak berapa lama mereka berada didalam mobil, tibalah mereka pada sebuah
jalan sepi yang masih tenang dan terhindar dari keributan kota besar.
Saat
mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah pintu gerbang bertuliskan
“Tempat Pemakaman Umum”. Kyara terenyak, terdiam dan terpaku. Antara percaya
atau tidak, ia mengikuti langkah Dion menuruni mobil dan berjalan menuju
kesebuah nisan yang bertuliskna nama Ryu Agra Putra. Sebuah nisan yang tampak
masih baru dan terawat. Sebuah nisan yang tak pernah terpikirkan oleh Kyara
akan membaca nama itu diatasnya.
“Mbak.. maaf, selama ini aku
bohong.” Ucap Dion berusaha untuk menyadarkan Kyara.
Seperti
terhipnotis oleh sesuatu, Kyara tidak mendengarkan apa yang Dion katakan tadi.
Matanya terus memandang nisan dihadapannya ini, air matanya pun menetes tak
tertahankan. Kyara terjatuh, tepat disamping nama Ryu terukir untuk selamanya.
“Mas Ryu meninggal 1 bulan yang
lalu tepat saat mbak Kyara sidang skripsi terakhir. Mas Ryu meninggal saat
pulang dari rumah Mbak Kyara untuk mengantarkan kado yang sampai sekarang tidak
ada satupun yang mengetahui isinya. Kami sekeluarga juga keluarga mbak ngga mau
mengabari mbak Kyara, karena kami sayang dengan mbak, kami ngga ingin mbak
kehilangan konsentrasi untuk sidang terakhirnya. Itulah sebabnya, kami terpaksa
membohongi mbak Kyara.”
Kyara
yang mendengar semua cerita Dion tersebut tak bisa lagi berkata dan berbuat
apa-apa selain menangis diatas pusara kekasihnya yang kini telah terbaring
tanpa bisa lagi menghapuskan air matanya yang jatuh.
...
1 tahun berlalu sejak kematian
Ryu.
Kyara
masih terbayang akan sosok Ryu yang selama 7 tahun selalu menyayangi, menjaga
dan melindunginya. Hampa, kosong dan sunyi, batin Kyara berkelut dengan
kehidupannya sekarang tanpa Ryu. Siapa pun orang yang mengajaknya berkenalan
selalu ia tolak, tak ada satupun laki-laki yang bisa menerobos benteng terkuat
Kyara untuk menggantikan posisi Ryu dihidupnya.
Sampai
pada suatu waktu, saat Kyara mengunjungi pemakaman Ryu. Dia bertemu dengan
seorang laki-laki yang tersenyum menjulurkan sebuah sapu tangan saat melihat
Kyara menangis diatas sebuah nisan.
“Kamu selalu menangis yah.” Ucap
laki-laki itu.
Kyara
tak menghiraukan ucapan laki-laki itu, ia hanya mengambil sapu tangan yang
diserahkan oleh laki-laki tersebut.
“Perkenalkan namaku Rio.” Ucap
laki-laki itu kemudian.
Seperti
merasakan adanya angin sejuk yang datang dari belakangnya, Kyara terdiam
mendengar ucapan Rio barusan. Seakan Rio bisa menenangkan semua beban
pikirannya yang berkecamuk saat itu.
Kyara
menoleh kebelakang, menatap kembali wajah orang yang memberikan sapu tangan
untuknya. Wajah Rio begitu teduh menenangkan, sejuk dan damai. Kyara tersenyum
memandang Rio yang sedari tadi menunggu balasan atas kata-kata yang
disampaikannya.
“Aku Kyara” ucap Kyara kemudian
dengan sebuah senyuman dibibirnya, senyum yang entah berapa lama tak pernah
terlihat lagi.
“Dia... suami kamu?” Tanya Rio
kemudian saat melihat kearah nisan yang penuh dengan bunga-bunga pemberian
orang-orang terdekat Ryu.
“Bukan, dia kekasih aku. Aku dan
dia udah pacaran sejak 8 tahun yang lalu, dan hingga sekarang belum ada yang
bisa menggantikan dia dihati aku.” Ucap Kyara pada Rio.
Setelah
perbincangan yang tidak begitu lama, keduanya kemudian pergi meninggalkan makam
tempat Ryu tidur untuk selamanya. Kyara yang saat itu seperti menemukan
kehidupannya yang telah lama hilang kini kembali bisa tersenyum. Mendengar
semua perkataan bijaknya Rio dan kedewasaan sikapnya untuk menenangkan pikiran
Kyara yang saat itu sedang galau.
“Kamu selalu mengenakan shall itu
yah saat kepemakaman?” tanya Rio saat mereka berdua sudah berada dimobil.
“Selalu? Darimana kamu tau aku
selalu mengenakan shall ini?” tanya Kyara kemudian.
“Aku sering memperhatikan kamu
saat aku mengunjungi makam adikku yang tak jauh dari makan kekasih kamu itu.
Setiap kali aku melihat kamu, kamu selalu mengenakan shall itu. Dan anehnya
lagi, kamu tak pernah menghapus air mata mu menggunakannya, kamu selalu
membiarkan air matamu jatuh ketanah.” Ucap Rio kemudian.
“Shall ini pemberian terakhir Ryu
sesaat sebelum ia meninggal. Aku ngga mungkin mengotorinya dengan air mataku,
aku akan selalu menjaga dan merawatnya selama ini, karena aku yakin dari shall
ini Ryu bisa menemani dan menjagaku.” Jelas Kyara dengan lembut, dengan
perasaan senang karena seakan Ryu lah orang yang ada dihadapannya ini.
...
Bulan
berganti, Kyara selalu pergi kepemakaman bersama Rio. Entah mengapa, Kyara
merasa nyaman dengan Rio, nyaman untuk menangis dihadapannya, nyaman untuk
berbagi semua kisah suka dan duka nya dengan Rio.
Setiap
kali mereka pergi, kemana pun itu. Tak pernah luput sebelumnya untuk mampir
kepemakaman Ryu, dengan lemah lembut Kyara meminta izin kepada nisan Ryu untuk
pergi bersama Rio. Bahkan terkadang, Kyara menceritakan kemana dan apa yang
akan ia lakukan dengan Rio kepada nisan yang dibawahnya tertidur seseorang yang
dulunya selalu menemaninya.
Kyara
yang sudah tidak merasa asing lagi dengan sosok Rio, tidak merasa risih saat ia
berbagi kisah hidupnya dengan nisan Ryu. Karena Rio pernah berkata saat Kyara
bertanya mengapa ia selalu mau saat diajak ke pemakaman Ryu.
“Jangan pernah lupakan ia, karena
orang yang telah meninggal itu hanya akan hidup pada kenangan kita, orang yang
masih memiliki kesempatan menggunakan nyawa pemberian Yang maha Kuasa ini.”
...
2
tahun sudah berlalu sejak Kyara bertemu dengan sosok Rio dipemakan, dan 3 tahun
sudah Ryu pergi meninggalkan mereka yang menyayanginya untuk selamanya.
Selama
2 tahun ini pula lah, tak pernah sekalipun Kyara dan Rio melewatkan waktu
setiap kali mereka akan pergi, tanpa mampir ketempat Ryu tertidur untuk
selamanya.
Sampai
pada suatu waktu, disebuah senja saat Rio dan Kyara memutuskan untuk pergi
makan malam berdua. Mereka tetap singgah dahulu kepemakaman Ryu, mengantarkan
sebuah bunga yang memang sudah dipersiapkan untuk Ryu. Matahari senja saat itu
tampak lebih indah dari biasanya, terlihat megah dengan warna jingga yang
menghiasi langit disekitar pemakaman saat itu.
“Ryu, ini aku Rio” ucap Rio saat
mereka berdua berada didepan nisan Ryu.
Kyara
takjub, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengarkan tadi. Rio yang selama
ini hanya diam dan tak pernah bicara saat mereka mampir kepemakaman ini, kini
bicara seperti layaknya Kyara yang selalu menyampaikan apa yang terjadi
dengannya saat berada disamping nisan Ryu.
“Mulai sekarang, aku yang akan
menggantian tugasmu. Menjaga, melindungi dan menyayangi Kyara semampuku, seumur
hidupu. Tenanglah kamu disana, karena disini kami akan selalu mendoakanmu,
mengunjungi dan merawat makam ini selama kami bisa. Aku akan memperlakukan
Kyara seperti halnya kamu dulu dengannya, aku akan menjadikan Kyara
satu-satunya orang yang paling berharga dihidup aku, dan aku berjanji tidak
akan mengecewakanmu Ryu.” Ucap Rio sembari memegang nisan yang terpahatkan nama
Ryu diatasnya.
“Rio..” ucap Kyara yang sejak
tadi hanya bisa berdiri menatap Rio yang berbicara kepada nisan Ryu dengan lemah
lembut tapi jelas terdengan kepastian dari ucapannya. Kyara menangis, haru atas
keberanian dan kesabaran Rio selama ini menghadapinya.
“Kyara..” Ucap Rio yang kemudian
berbalik bada menghadap Kyara.
“Would you marry me?” Tanya Rio
kemudian, memicu meledaknya tangis Kyara senja itu.
“Aku mau Rio.” Ucap Kyara disela
tangisnya yang semkain menjadi-jadi, dengan disaksikan oleh binatang-binatang
yang ada dipemakaman senja itu, dengan disaksikan oleh nisan dimana disana
tertuliskan nama orang yang seakan tersenyum menyaksikan semua ini, tersenyum
bahagia merelakan mereka berdua, melihat bahwa kini telah ada orang yang
menggantikanya menjaga dia yang ia sayangi.
...

eaaa mana muhanya yg tukang ulah nihh :D
ReplyDeleteyang gonol di profil ituh :p
Deleteini cerpen yang masuk koran itu keh..? :)
ReplyDeleteBukan kak.. yg masuk koran itu kda diposting disini :) hheee
Delete