---Kemana
lagi aku harus mengadu tentang semua masalah ku? Harus dengan siapa lagi aku
berbagi? Semua yang ku alami. Dirinya yang bersama ku sekarang sudah tidak
peduli. Harus bagaimana aku mengatasi semua ini? Aku lelah. Sangat lelah bila
terus begini. Dia yang harusnya ada saat aku terjatuh malah sibuk dengan
dunianya sendiri. Sakit bila terus begini. Selalu menahan semua yang dia
berikan. Apa harus dia kehilangan ku dulu untuk bisa membuatnya mengerti? Ku
mohon mengertilah.. dengan cara apa lagi ku ungkapkan sakit yang kurasakan
karena dirinya?---
Dion setengah
berlari menuju lapangan bola, sekitar 5 menit lagi pertandingan bola antar
sekolah akan dimulai. Tanpa memerhatikan siapa orang-orang yang ia temui dari koridor
sekolah sampai ditepi lapangan saat itu.
Heni terdiam,
tertunduk dan tak bisa menahan kesedihannya. Senyumannya yang mengembang saat
menyambut Dion ditepi lapangan tadi tak dihiraukan sama sekali oleh Dion. Dion
hanya segera bergegas bergabung dengan teman-temannya ditengah lapangan.
Dengan langkah
lemah, Heni pergi meninggalkan lapangan. Berjalan menuju tempat duduk penonoton
yang berada tidak jauh dari tempatnya tadi.
“Dia mungkin ngga liat Hen” ucap Dela menghibur.
“Dia memang ngga pernah liat aku Del” jawab Heni dengan nada putus
asa.
“Sudahlah Hen, aku yakin setelah pertandingan ini selesai dan tim
kita menang, Dion pasti akan perhatian lagi sama kamu”
“Semoga saja Del.. tapi aku tak yakin dengan semua itu”
...
Pertandingan
berakhir. SMA 18 menang dengan skor 3-0. Semuanya terlihat bahagia. Tak
terpungkiri juga bagi Heni yang melihat pangeran hatinya begitu bangga dengan
dirinya sendiri, yang berhasil mencetak 2 gol untuk tim sekolahnya.
Dengan cepat
Heni pergi menuju tempat istirahat Dion dan teman-temannya. Saat Heni ingin
mengucapkan selamat kepada Dion, tiba-tiba saja para pemain itu didatangi
beberapa orang anak perempuan-adik kelas mereka- yang membawakan beberapa botol
minuman dan makanan ringan untuk mereka.
Batin Heni
semakin sakit, tak bisa ia terima ini. Didepan matanya langsung, Dion
berbincang begitu akrabnya dengan anak-anak perempuan yang menghampiri mereka.
Seperti tak ada beban dan masalah yang selama ini sering ia katakan kepada
Heni. Dion begitu menikmati pembicaraan itu, sampai-sampai ia tidak melihat
Heni yang berada tidak lebih 2meter didepannya.
...
Sejak saat itu,
setiap harinya disekolah Heni selalu melihat Dion bersama teman-temannya,
bercanda dan tertawa tanpa ada masalah satupun. Setiap kali sms yang dikirimkan
Heni kepada Dion selalu dibalas dengan kekecewaan karena memang tak pernah ada
balasan sms dari Dion. Begitu pula dengan panggilan yang ditujukan ke nomer
Dion selalu berhasil direject Dion dengan biadabnya.
Tanpa pernah
Dion sadari, betapa sakitnya Heni saat itu. Betapa sakitnya Heni yang selalu memikirkan
Dion. Betapa tersiksanya perasaan Heni yang terbelenggu oleh sosok Dion yang
selama ini selalu menemaninya dan memberikan perhatian lebih padanya. Tapi
tidak sekarang, tidak ada lagi perhatian itu, tidak akan pernah ada lagi
sms-sms masuk dari Dion, dan tidak akan pernah ada lagi lantunan suara Dion
dimalam hari.
...
Dion masih asik
berbincang dengan teman-temannya saat sosok Heni lewat didepannya dengan
Agil-teman satu kelas Heni-. Seperti memang tidak ada hubungan spesial antara
mereka berdua, Dion tetap melanjutkan pembicaraanya dengan teman-temannya saat
melihat Heni berlalu didepannya.
“F*ck U boy!!!” ucap Heni dengan tertekan setelah melihat ekspresi
Dion yang biasa-biasa saja melihatnya berjalan dengan Agil. Padahal dulu,
jangankan untuk berjalan bersama, bicara dengan cowok selain Dion pun Heni
selalu dilarang. Tapi kini, Dion seperti benar-benar sudah melupakannya.
...
Untuk kesekian
kalinya, Heni mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Dion “Kenapa? Ada apa
dengan kamu? Begitu hina kah aku sampai kamu menghindar seperti ini? Salahkah
perasaan ku kepada mu? Bila memang aku tak pantas untuk mu, aku tak apa. Tapi
aku mohon, sedetik saja bicara padaku. Begitukah kamu, begitukah kerasnya
pendirian kamu? Sekarang ini aku tak minta apa-apa. Bukan menginginkanmu
menjadi milikku lagi. Atau inginkan hal lainnya. Yang aku inginkan hanya kamu
pandang kearahku ! Kasih aku lagi senyum itu, senyum yang selalu kamu berikan
kepada ku sekali saja. Walaupun itu yang terakhir !!”
Tidak sampai 5
menit sejak Heni mengirimkan pesan singkat itu, sebuah panggilan masuk ke
hapenya. “Dion !!!”ucap Heni histeris.
“Halo..”
“Apa maksud kamu ngirim sms kayak gitu?” tanya Dion kesal.
“Kamu memang ngga pernah ngerti Dion”
“Yang ngga pernah ngarti itu aku atau kamu? Aku udah bilang berapa
kali ke kamu kalau aku ngga bisa menghubungi kamu, itu berarti aku sibuk. Dan
sekarang aku lagi benar-benar sibuk Heni...”
“Kamu bohong !! buktinya, setiap kali aku liat kamu disekolah, kamu
tidak pernah terlihat sibuk. Kamu terlihat begitu santai dengan teman-teman
kamu”ucap Heni setengah berteriak.
“Itu menurut kamu. Tapi nyatanya salah. Kamu memang tak pernah bisa
paham keaadaanku. Kamu egois.”
Hening.. tak ada jawaban dari Heni..
“Heni..?” panggil Dion dengan hati-hati.
Kini keheningan itu berubah dengan isak tangis yang samar-samar
terdengar diujung telpon.
“Heni? Kamu nangis?”Tanya Dion dengan nada bersalah
“Kamu tau Dion, aku ini perempuan. Aku ngga mungkin bisa tahan kalau
orang yang aku suka, yang dulunya memberikan aku perhatian dan kasih sayang
hilang begitu saja. aku tau, aku memang egois dan tak mengerti kamu. Tapi apa
salahnya kalau setiap kali aku kirim sms ke kamu, kamu balas dan bilang ke aku
kalau kamu sibuk. Bukankah dulu kamu selalu bilang kalau kamu akan selalu ada
untuk aku...”
Hening.. kali ini giliran Dion yang terdiam dengan kata-kata Heni.
“Dion, besok mungkin kita tidak akan bertemu lagi..” Ucap Heni
memecah keheningan.
“Kenapa Hen? Kamu mau ninggalin aku?”
“Aku harus ikut orang tua aku, mereka dipindah tugaskan keluar
pulau. Aku ngga mungkin tinggal disini sendirian”
“Kenapa kamu ngga bilang dari dulu sama aku?” Tanya Dion dengan nada
marah.
“Mana mungkin aku bisa memberitahukan ini ke kamu, sudah satu bulan
ini sikap kamu cuek sama aku. Aku juga ngga mau bilang ini ke kamu, takut kalau
kamu akan merasa lebih terbebani dengan semua ini”
“Jadi, waktu kita untuk bertemu tidak ada lagi?” Ucap Dion menyesal.
“Ada, tapi sayang... waktu-waktu terakhir itu sudah kamu sia-siakan.
Aku sudah berusaha untuk selalu ada buat kamu selama ini, tapi kamunya tidak
pernah mau mengetahui bagaimana tersiksanya batin aku saat itu.”
“Tapi kita masih bisa bertemu, smsan atau telponan kan?”
“Mungkin tidak, sekolah baru aku nanti adalah sekolah asrama yang
perturannya ketat, jangankan untuk keluar buat jalan-jalan. Bawa hape aja
dilarang”
“Aku menyesal Hen...”
“Penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah Dion, nanti.. kalau
kamu punya cewek kasih tau aku yah.. juga aku pesen sama kamu, jangan sampai
kamu ngelakuin hal kayak gini lagi ke orang yang kamu sayang. Ini rasanya ngga
enak tau” Ucap Heni dengan tenang, seakan semua beban masalahnya telah keluar
dari kepalanya.
“Entahlah.. akankah masih berarti hidupku besok. Tak ada salahnya
kan jika aku disini menunggu kamu? walaupun kamu ngasih kabar ke aku hanya satu
bulan sekali atau satu tahun sekali pun itu tak masalah. Aku ngga mau
kehilangan kamu Heni.. Aku sangat sayang kamu.. juga cinta sama kamu.. aku ngga
mungkin mencari pengganti kamu apalagi
melupakan mu,, ngga akan pernah sanggup !”
“Susah untukku percaya semua itu Dion, setelah apa yang telah kamu
lakukan ke aku. Tapi, aku pasti tidak akan bisa melupakan kamu juga karena kamu
orang yang sangat aku sayangi dan cintai selama ini.. jangan buat aku sakit
lagi untuk kesekian kalinya”
...
C’est
la vie..
Jika kamu mencari orang yang sempurna di dunia
ini, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Tapi, jika kamu mencoba
menganggapnya sempurna untuk kamu, maka kamu akan mendapatkannya.
Jika kesempatan pertama dibuang dan kesempatan
kedua disia-siakan, akan kah masih ada kesempatan ketiga ?
Comments
Post a Comment