cinta yang datang disaat yang tepat :)


                Dengan perasaan bahagia, senang dan rindu. Kyara duduk manis menunggu kedatangan Ryu di sebuah taman kecil ditengah kota. Sambil menyanyikan lagu-lagu cinta yang biasa ia nyanyikan, Kyara kembali mengingat-ngingat kenangan lama dirinya dengan Ryu sebelum Kyara memutuskan untuk kuliah diluar kota.
                Detik, menit, jam berlalu. 2 jam lebih sudah Kyara menunggu kedatangan Ryu. Bingung dan takut mulai mnjalar dipikirannya. Bingung kenapa Ryu belum datang juga mnjemputnya, dan takut akan sesuatu hal buruk yang terjadi pada Ryu.
                Tiba-tiba, suara dering handphone nya berbunyi. Sebuah nama orang yang sedari tadi ia tunggu muncul di layar handphonenya, Ryu.
“Hallo” ucap Kyara dengan nada agak kesal.
“Hallo mbak” jawab suara asing diseberang sana.
“Eh, loh.. ini nomer Ryu tapi kenapa kamu yang nelpon? Kamu siapa?” tanya Kyara menyelidik.
“Maaf mbak, saya Dion adik nya mas Ryu.” Jawab suara yang tadi terasa asing ditelinga Kyara.
“Oh, Dion. Bilang kek dari tadi. Ada apa Di? Ryu mana?”
“Mas Ryu ngga bisa jemput mbak.” Terdengar jelas sebuah getaran di nada suara Dion, sebuah penyesalan dan kesedihan.
“Lah, kenapa?” tanya Kyara kecewa.
“Nanti setelah aku jemput mbak, aku akan bawa mbak menemui mas Ryu, dan disana mbak akan tahu jawabnya.” Ucap Dion sesaat sebelum kemudian mematikan panggilannya.
                Kyara terdiam sejenak, kecewa dengan Ryu yang ternyata lebih mementingkan urusan lain dibandingkan dirinya, dibanding dengan kekasih yang menjalani hubungan Long Distance Relationship dengannya.
                Beberapa menit kemudian, Dion datang dan langsung membawa Kyara pergi dari taman kota menuju sebuah tempat yang telah ia janjikan, tanpa berbicara sepatah katapun. Setelah tak berapa lama mereka berada didalam mobil, tibalah mereka pada sebuah jalan sepi yang masih tenang dan terhindar dari keributan kota besar.
                Saat mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah pintu gerbang bertuliskan “Tempat Pemakaman Umum”. Kyara terenyak, terdiam dan terpaku. Antara percaya atau tidak, ia mengikuti langkah Dion menuruni mobil dan berjalan menuju kesebuah nisan yang bertuliskna nama Ryu Agra Putra. Sebuah nisan yang tampak masih baru dan terawat. Sebuah nisan yang tak pernah terpikirkan oleh Kyara akan membaca nama itu diatasnya.
“Mbak.. maaf, selama ini aku bohong.” Ucap Dion berusaha untuk menyadarkan Kyara.
                Seperti terhipnotis oleh sesuatu, Kyara tidak mendengarkan apa yang Dion katakan tadi. Matanya terus memandang nisan dihadapannya ini, air matanya pun menetes tak tertahankan. Kyara terjatuh, tepat disamping nama Ryu terukir untuk selamanya.
“Mas Ryu meninggal 1 bulan yang lalu tepat saat mbak Kyara sidang skripsi terakhir. Mas Ryu meninggal saat pulang dari rumah Mbak Kyara untuk mengantarkan kado yang sampai sekarang tidak ada satupun yang mengetahui isinya. Kami sekeluarga juga keluarga mbak ngga mau mengabari mbak Kyara, karena kami sayang dengan mbak, kami ngga ingin mbak kehilangan konsentrasi untuk sidang terakhirnya. Itulah sebabnya, kami terpaksa membohongi mbak Kyara.”
                Kyara yang mendengar semua cerita Dion tersebut tak bisa lagi berkata dan berbuat apa-apa selain menangis diatas pusara kekasihnya yang kini telah terbaring tanpa bisa lagi menghapuskan air matanya yang jatuh.
...
1 tahun berlalu sejak kematian Ryu.
                Kyara masih terbayang akan sosok Ryu yang selama 7 tahun selalu menyayangi, menjaga dan melindunginya. Hampa, kosong dan sunyi, batin Kyara berkelut dengan kehidupannya sekarang tanpa Ryu. Siapa pun orang yang mengajaknya berkenalan selalu ia tolak, tak ada satupun laki-laki yang bisa menerobos benteng terkuat Kyara untuk menggantikan posisi Ryu dihidupnya.
                Sampai pada suatu waktu, saat Kyara mengunjungi pemakaman Ryu. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang tersenyum menjulurkan sebuah sapu tangan saat melihat Kyara menangis diatas sebuah nisan.
“Kamu selalu menangis yah.” Ucap laki-laki itu.
                Kyara tak menghiraukan ucapan laki-laki itu, ia hanya mengambil sapu tangan yang diserahkan oleh laki-laki tersebut.
“Perkenalkan namaku Rio.” Ucap laki-laki itu kemudian.
                Seperti merasakan adanya angin sejuk yang datang dari belakangnya, Kyara terdiam mendengar ucapan Rio barusan. Seakan Rio bisa menenangkan semua beban pikirannya yang berkecamuk saat itu.
                Kyara menoleh kebelakang, menatap kembali wajah orang yang memberikan sapu tangan untuknya. Wajah Rio begitu teduh menenangkan, sejuk dan damai. Kyara tersenyum memandang Rio yang sedari tadi menunggu balasan atas kata-kata yang disampaikannya.
“Aku Kyara” ucap Kyara kemudian dengan sebuah senyuman dibibirnya, senyum yang entah berapa lama tak pernah terlihat lagi.
“Dia... suami kamu?” Tanya Rio kemudian saat melihat kearah nisan yang penuh dengan bunga-bunga pemberian orang-orang terdekat Ryu.
“Bukan, dia kekasih aku. Aku dan dia udah pacaran sejak 8 tahun yang lalu, dan hingga sekarang belum ada yang bisa menggantikan dia dihati aku.” Ucap Kyara pada Rio.
                Setelah perbincangan yang tidak begitu lama, keduanya kemudian pergi meninggalkan makam tempat Ryu tidur untuk selamanya. Kyara yang saat itu seperti menemukan kehidupannya yang telah lama hilang kini kembali bisa tersenyum. Mendengar semua perkataan bijaknya Rio dan kedewasaan sikapnya untuk menenangkan pikiran Kyara yang saat itu sedang galau.
“Kamu selalu mengenakan shall itu yah saat kepemakaman?” tanya Rio saat mereka berdua sudah berada dimobil.
“Selalu? Darimana kamu tau aku selalu mengenakan shall ini?” tanya Kyara kemudian.
“Aku sering memperhatikan kamu saat aku mengunjungi makam adikku yang tak jauh dari makan kekasih kamu itu. Setiap kali aku melihat kamu, kamu selalu mengenakan shall itu. Dan anehnya lagi, kamu tak pernah menghapus air mata mu menggunakannya, kamu selalu membiarkan air matamu jatuh ketanah.” Ucap Rio kemudian.
“Shall ini pemberian terakhir Ryu sesaat sebelum ia meninggal. Aku ngga mungkin mengotorinya dengan air mataku, aku akan selalu menjaga dan merawatnya selama ini, karena aku yakin dari shall ini Ryu bisa menemani dan menjagaku.” Jelas Kyara dengan lembut, dengan perasaan senang karena seakan Ryu lah orang yang ada dihadapannya ini.
...
                Bulan berganti, Kyara selalu pergi kepemakaman bersama Rio. Entah mengapa, Kyara merasa nyaman dengan Rio, nyaman untuk menangis dihadapannya, nyaman untuk berbagi semua kisah suka dan duka nya dengan Rio.
                Setiap kali mereka pergi, kemana pun itu. Tak pernah luput sebelumnya untuk mampir kepemakaman Ryu, dengan lemah lembut Kyara meminta izin kepada nisan Ryu untuk pergi bersama Rio. Bahkan terkadang, Kyara menceritakan kemana dan apa yang akan ia lakukan dengan Rio kepada nisan yang dibawahnya tertidur seseorang yang dulunya selalu menemaninya.
                Kyara yang sudah tidak merasa asing lagi dengan sosok Rio, tidak merasa risih saat ia berbagi kisah hidupnya dengan nisan Ryu. Karena Rio pernah berkata saat Kyara bertanya mengapa ia selalu mau saat diajak ke pemakaman Ryu.
“Jangan pernah lupakan ia, karena orang yang telah meninggal itu hanya akan hidup pada kenangan kita, orang yang masih memiliki kesempatan menggunakan nyawa pemberian Yang maha Kuasa ini.”
...
                2 tahun sudah berlalu sejak Kyara bertemu dengan sosok Rio dipemakan, dan 3 tahun sudah Ryu pergi meninggalkan mereka yang menyayanginya untuk selamanya.
                Selama 2 tahun ini pula lah, tak pernah sekalipun Kyara dan Rio melewatkan waktu setiap kali mereka akan pergi, tanpa mampir ketempat Ryu tertidur untuk selamanya.
                Sampai pada suatu waktu, disebuah senja saat Rio dan Kyara memutuskan untuk pergi makan malam berdua. Mereka tetap singgah dahulu kepemakaman Ryu, mengantarkan sebuah bunga yang memang sudah dipersiapkan untuk Ryu. Matahari senja saat itu tampak lebih indah dari biasanya, terlihat megah dengan warna jingga yang menghiasi langit disekitar pemakaman saat itu.
“Ryu, ini aku Rio” ucap Rio saat mereka berdua berada didepan nisan Ryu.
                Kyara takjub, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengarkan tadi. Rio yang selama ini hanya diam dan tak pernah bicara saat mereka mampir kepemakaman ini, kini bicara seperti layaknya Kyara yang selalu menyampaikan apa yang terjadi dengannya saat berada disamping nisan Ryu.
“Mulai sekarang, aku yang akan menggantian tugasmu. Menjaga, melindungi dan menyayangi Kyara semampuku, seumur hidupu. Tenanglah kamu disana, karena disini kami akan selalu mendoakanmu, mengunjungi dan merawat makam ini selama kami bisa. Aku akan memperlakukan Kyara seperti halnya kamu dulu dengannya, aku akan menjadikan Kyara satu-satunya orang yang paling berharga dihidup aku, dan aku berjanji tidak akan mengecewakanmu Ryu.” Ucap Rio sembari memegang nisan yang terpahatkan nama Ryu diatasnya.
“Rio..” ucap Kyara yang sejak tadi hanya bisa berdiri menatap Rio yang berbicara kepada nisan Ryu dengan lemah lembut tapi jelas terdengan kepastian dari ucapannya. Kyara menangis, haru atas keberanian dan kesabaran Rio selama ini menghadapinya.
“Kyara..” Ucap Rio yang kemudian berbalik bada menghadap Kyara.
“Would you marry me?” Tanya Rio kemudian, memicu meledaknya tangis Kyara senja itu.
“Aku mau Rio.” Ucap Kyara disela tangisnya yang semkain menjadi-jadi, dengan disaksikan oleh binatang-binatang yang ada dipemakaman senja itu, dengan disaksikan oleh nisan dimana disana tertuliskan nama orang yang seakan tersenyum menyaksikan semua ini, tersenyum bahagia merelakan mereka berdua, melihat bahwa kini telah ada orang yang menggantikanya menjaga dia yang ia sayangi.
...


“Masih adakah laki-laki seperti itu, laki-laki yang dengan sabar mencintai dan menjaga seorang perempuan yang dihatinya ada dua laki-laki, yaitu orang yang dulu menyayangi dan menjaganya dan orang yang sekarang ini menyayangi dan menjaganya. Masih adakah laki-laki yang sesabar itu menghadapi keinginan perempuan untuk kembali mengingatkannya pada masa lalunya, dan tidak berusaha untuk menyuruhnya lupa akan masa lalunya itu. Memang bukan kisah cinta yang selama ini diinginkan, jika memang harus berakhir dengan kematian, tapi dibalik sebuah kehilangan saat ini, percayalah kalau Tuhan akan memberikan pengganti yang datang disaat yang tepat untuk menghapuskan air matamu lagi, untuk membuat perasaan mu bahagia, dan untuk menjadikan kesedihanmu menjadi sebuah senyuman manis kembali”


Comments

  1. eaaa mana muhanya yg tukang ulah nihh :D

    ReplyDelete
  2. ini cerpen yang masuk koran itu keh..? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kak.. yg masuk koran itu kda diposting disini :) hheee

      Delete

Post a Comment