Review Resensi Sinopsis Buku Stop Pikun di Usia Muda




Judul Buku          :  Stop Pikun di Usia Muda
Penulis                 :  Yuda Turana
Tahun Terbit      :  2020
Penerbit              :  PT Gramedia Pustaka Utama

Buku ini dulunya pernah terbit pertama kali pada tahun 2014, tetapi penulis memperbarui berbagai data penelitian yang ada di buku ini dengan referensi terbaru, sehingga buku ini dapat dikatakan lebih fresh dan sesuai dengan penelitia terbaru dari segi kesehatan.

Buku ini terdiri dari 6 bab yang ditulis secara runtun dari awal mula asal muasal kepikunan hingga diakhir bab disajikan tentang apa yang harus dilakukan bila sudah mengalami kepikunan.

Banyak dari kita yang masih belum begitu aware tentang penyakit yang satu ini, yaitu “pikun”. Banyak dari kita yang masih beranggapan bahwa pikun hanya terjadi di usia tua dan sudah wajar. Masih banyak persepsi dari sebagian kita yang beranggapan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang, daya ingatnya pun semakin berkurang, dan kepikunan adalah suatu yang wajar. Padahal masih sangat banyak juga para lansia yang memiliki daya ingat bagus hingga usia 70an ke atas.

Buku ini menjelaskan kepada pembacanya tentang apa itu pikun dan penyakit utama penyebabnya adalah “Dimensia Alzheimer”. Dari buku ini dijelaskan dengan penuh penekanan bahwa ternyata gaya hidup dan emosi yang kita lakukan di masa muda memiliki dampak yang sangat besar di usia tua. Segala sesuatu yang kita perbuat di masa muda merupakan tabungan untuk masa tua. Begitu juga dengan berbagai penyakit lainnya. Tapi ada satu hal yang perlu ditegaskan disini, jika berbagai penyakit lain masih bisa dilakukan penangan medis untuk membantu penyembuhan, beda halnya dengan  penyakit Dimensia Alzheimer.

Penyakit Alzheimer sampai saat ini belum ada obatnya, tapi terbukti dapat diperlambat kejadiannya. Artinya pencegahan dapat dilakukan jika terdeteksi sejak awal.

 Dimensia merupakan penyakit yang terjadi karena proses penuaan, dimana pada saat proses penuaan berlangsung tidak hanya kulit bertambah keriput, rambut beruban, penglihatan kabur, tetapi otak pun juga ikut mengerut. Pada kasus demensia, pengerutan otak terjadi begitu cepat sehingga fungsi otak menurun.

Kejadian dimensia kebanyakan diawali dari usia 60 tahun. Tapi satu hal yang perlu disadari dengan penuh, setiap dari kita pasti mengalami proses penuaan atau proses pengerutan di otak. Hanya saja kita masuh punya banyak kesempatan untuk memperlambat proses pengerutan otak ini.
Gejala Dimensia Alzheimer:
  1. Gangguan memori
  2. Gangguan dalam aktivitas sehari-hari
  3. Gangguan berbahasa
  4. Disorientasi tempat, waktu, dan orang
  5. Gangguan pengambilan keputusan
  6. Gangguan dalam berpikir abstrak
  7. Perubahan suasana hati
  8. Hilangnya minat dan inisiatif


Pada dimensia alzheimer sering kali ditemukan adanya gejala gangguan atensi, kemampuan berkomunikasi, dan bahkan gangguan perilaku.

Sebuah penelitian oleh Llewellyn, dkk pada tahun 2018 menjelaskan tentang tiga kelompok yang ditelitinya, yaitu kelompok risiko tinggi yaitu orang yang memiliki genetik orang tua yang juga pengidap dimensia alzheimer, lalu kelompok sedang yang memiliki riwayat keluarga pengidap dimensia alzheimer, dan kelompok rendah yang tidak memiliki genetik pengidap dimensia alzheimer. Penelitian dilakukan selama kurang lebih 10 tahun. Penelitian dilakukan dengan memantau gaya hidup dari tiap kelompok, antara lain pola makan, konsumsi alkohol, olahraga, serta aktivitas merokok. Hasilnya adalah dari 1.769 subjek yang diteliti, walaupun memiliki risiko genetik yang tinggi ternyata gaya hidup justru lebih berperan penting menentukan seseorang terkena dimensia.
Apa yang kita lakukan di masa muda merupaka  investasi otak sehat di masa mendatang.

Faktor-faktor risiko penurunan fungsi kognitif (faktor risiko kepikunan)
  1. Hipertensi
  2. Penyakit jantung
  3. Diabetes
  4. Kolesrol tinggi
  5. Defisiensi vitamin B 12
  6. Strok
  7. Cedera kepala
  8. Paparan terhadap racun dari lingkungan
  9. Stres dan depresi
  10. Insomnia
  11. Obesitas


Faktor utama penyakit alzheimer adalah usia, dimulai dari seseorang berusia 60 tahun dimana fungsi otak sudah mulai mengalami penurunan. Faktor kedua adalah genetik, sekitar 20% pasien dimensia alzheimer memiliki satu atau lebih saudara atau orangtua dengan penyakit yang sama. Faktor selanjutnya adalah jenis kelamin, perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding laki-laki, hal ini berkaitan dengan peran hormon estrogen pada penyakit alzheimer. Faktor selanjutnya adalah pola hidup seperti merokok, dan berbagai penyakit bawaan lainnya.

Ada satu hal yang menarik dari buku ini, pada bagian subbab yang membahas tentang merokok bermanfaat untuk otak

Di sini dijelaskan bahwa efek positif nikotin yang ada pada rokok dapat mentransmisi zat kimia di otak yang disebut dengan neurotransmiter koligernik, yang dapat meningkatkan fungsi kognitif pada pasien alzheimer. Namun dalam pengobatan, tidak hanya melihat pada fungsinya, tetapi juga pada efek samping yang ditimbulkan dengan merokok. Sehingga tidak akan ada pembenaran untuk memberikan nikotin melalui rokok sebagai efek pencegahan alzheimer.

Banyak pakar yang menegaskan bahwa mengapa para perokok jarang terkena alzheimer adalah karena hasil penelitian itu menyatakan bahwa rata-rata perokok telah lebih dulu meninggal di usia muda dibandingkan bukan perokok, sehingga hanya sedikit perokok yang masih bertahan hidup ketika gejala alzheimer menyerang.

“Kalau sedang hamil, pikiran harus senang supaya janinnya juga sehat.” 
Petuah ini sering diutarakan turun-temurun. Dan ternyata ada fakta yang terkandung dalam petuah tersebut. Tingkat depresi ibu hamil dapat mengganggu kondisi perkembangan janin. Depresi berpengaruh pada tingkat sirkulasi hormon kortisol (hormon stres) yang berdampak pada perkembangan biologis serta gangguan nutrisi pada janin. Semakin ibu hamil depresi, semakin janin akan menjadi seorang anak dengan potensi otak yang tidak cerdas.

Dampak stres ternyata juga berakibat pada otak dan kematian. Banyak dari kita yang mempercayai adanya angka atau hari sial, sehingga pada tanggal yang dipercayai angkanya atau hari tersebut lebih dijauhi untuk melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan. Tanpa kita sadari, pola pikir dengan mempercayai akan sesuatu hal ini ternyata juga berdampak buruk bagi keadaan hidup kita. Tidak hanya itu, istilah yang biasa kita dengan I hate Monday pun ternyata berdampak pada kematian, hanya karena kita akan memasuki rutinitas bekerja atau sekolah lagi setelah merasakan rehat di hari minggu. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan, banyak orang yang meninggal karena penyakit jantung koroner di hari senin, hal ini mungkin disebabkan oleh stres psikologis pekerjaan pada hari pertama kerja. Jadi, solusi sehat untuk otak bukan hanya menghilangkan stres di akhir pekan, tetapi kita juga harus menguasai stres setiap hari.

Setelah disajikan berbagai penjelasan di bab 1,2, dan 3 tentang penyakit dimensia alzheimer beserta penyebabnya. Bab 4 dan 5 di buku ini adalah hal-hal menarik untuk dikupas, karena berisikan tentang pencegahan pikun dari usia muda.

Ternyata, pencegahan pikun bisa dilakukan dengan aktif pada kegiatan mental spiritual, ikut berpartisipasi pada kegiatan keagamaan dan sosial dapat meningkatkan kemampuan kognitif. Dengan aktif mengikuti kegiatan ini, dapat memberikan seseorang menyadari akan arti hidup, merasa berarti, sehingga dapat menstimulus fungsi kognitif.

Olahraga juga merupakan satu hal penting untuk mencegah kepikunan. Tidak hanya pikun, bahkan berbagai penyakit lain pun dapat dicegah jika kita menerapkan perilaku hidup sehat dengan salah satunya rutin berolahraga. Selain itu, perasaan cemas pun dapat dikurangi dengan berolahraga. Secara umum, aerobik diketahui efektif sebagai alternatif pengobatan gangguan kecemasan, olahraga teratur dapat menurunkan aktivitas Hipotalamus-Pituitari-Adrenal yang berkontribusi dalam menghasilkan hormon stres dalam tubuh.

Pencegahan kepikunan lainnya yang tidak kalah penting adalah Makanan Sehat. Tidak hanya mencegah kepikunan, makanan sehat juga dapat membuat otak sehat. Pada anak-anak, sarapan berhubungan dengan pembelajaran dan prestasi sekolah yang lebih baik. Peneliti menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat menimbulkan gangguan pada atensi, memori jangka pendek, dan pemecahan masalah.

Kurang cairan juga dapat membuat otak tidak dapat bekerja dengan maksimal, karena sebagian besar otak kita terdiri dari air. Temulawak, Meniran, dan Ginkgo Biloba juga dapat membuat otak cerdas.

Tips otak bugar:
  1. Atasi masalah penyakit menahun dengan konsultasi kepada dokter
  2. Olahraga teratur
  3. Nutrisi sehat dan stop merokok
  4. Hindari stres
  5. Tidur cukup
  6. Tetap dan terus belajar
  7. Aktif dalam kegiatan sosial
  8. Stimulasi mental (mengisi TTS, bermain sudoku, bermain catur, memory game, dsb)
  9. Aktif dalam kegiatan keagamaan


Apa yang harus dilakukan jika sudah terkena kepikunan? 
  1. Makan dengan gizi yang cukup setiap hari
  2. Mengoptimalkan fungsi memori yang masih ada dan melakukan pencegahan ‘disorientasi’
  3. Dengarkan musik
  4. Kegiatan terapi seni seperti menggambar, melukis, dan berdiskusi tentang seni
  5. Mendongeng
  6. Sering berjemur untuk mendapatkan vitamin D alami
  7. Memelihara kucing atau anjing



Comments