I am Sarahza
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Terbit: 2018
Tebal: 368
Penerbit: Republika
Novel ini merupakan cerita panjang perjuangan sang penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra dalam mendapatkan buah hati.
Novel ini bercerita dari awal mula pertemuan mereka hingga akhirnya menikah, berlanjut pada cerita kehidupan mereka dengan berbagai polemik kehidupan.
Novel yang bercerita dengan 3 sudut pandang. Hanum, Rangga, dan sesosok ruh yang telah dinasibkan di Lauhul Mahfuzh “Sarahza”
Perjuangan 11 tahun penantian dan perjuangan untuk mendapatkan buah hati yang dirangkai dengan runtun, menceritakan berbagai macam program kehamilan sudah pernah dilakukan, dari cara inseminasi hingga bayi tabung. Tapi ternyata, dari tahun pertama hingga tahun ke-8 selalu tidak membuahkan hasil yang membahagiakan.
Baru pada tahun ke-9, ditengah berbagai kesibukan Mbak Hanum menulis buku-buku yang pernah ia tulis sebelum ini dan kesuksesan novel yang diangkat menjadi film sedang ditayangkan di bioskop, ia mendapatkan sebuah kabar yang mebahagiakan. Ya, ia hamil.
Air matanya menetes ketika menonton beberapa adegan pada film 99 Cahaya di Langit Eropa 2, dimana pada beberapa tempat yang dijadikan lokasi dalam film adalah tempat dimana ia merasa jiwanya terbanting dengan berbagai usaha program hamil yang belum berhasil.
Baru pada minggu ke-8 kehamilan, Mbak Hanum dan Mas Rangga memeriksakan kehamilannya. Tapi kenyataan yang terjadi adalah kehendak Tuhan dan diluar keinginan manusia. Kehamilan ini adalah kehamilan anembrionik, saat dimana kantong kehamilan berkembang tanpa adanya embrio. Kebahagiaan yang dinantikan selama 9 tahun ini harus berakhir pada kuretase.
Setelah menjalani 5 kali program bayi tabung dan belum berhasil. Juga inseminasi berkali-kali yang juga belum sepenuhnya membuahkan hasil. Pada tahun ke-10 pernikahan, mereka kembali melalukan inseminasi yang ke-4.
Pascainseminasi, ujian kembali datang pada pasangan suami istri ini. Tidak ada kantung kehamilan yang terdapat pada rahim Mbak Hanum walaupun kadar HCGnya tinggi. Ternyata kehamilan kali ini adalah kehamilan ektopik (di luar rahim) yang mana embrio menempel pada tuba falopi.
Ternyata, ujian kenaikan level kali ini begitu luar biasa. Yaitu pengangkatan satu saluran tuba yang pecah dimana embrio tadi menempel.
Ternyata ujian kali ini hampir gagal dilalui oleh Mbak Hanum. Kebahagiaan keluarga kecil ini telah direnggut oleh depresi yang dialami Mbak Hanum. Bagaimana tidak, kegagalan demi kegagalan yang telah diterima, sayatan demi sayatan yang membekas di perutnya pasca operasi yang telah berkali-kali dilakukan, hingga pengangkatan satu tuba yang dialaminya.
Sungguh, novel ini adalah novel yang penuh dengan air mata. Melihat perjuangan dan segala ujian yang telah dilalui mereka, bagaimana cara mereka menguatkan satu sama lain, dan betapa besar rasa cinta diantara keduanya. Membuat lembar tiap lembar novel ini basah oleh air mata para pembacanya.
Tahun ke-11 pernikahan. Setelah proses penyembuhan luka batin yang teramat sangat menyakitkan. Mereka memutuskan untuk berangkat umroh. Sementara itu, di tanah air, kedua orang tua Mbak Hanum berinisiatif untuk mendaftarkan kembali program bayi tabung bagi anaknya.
Di mana ada harapan. Di situ ada kehidupan.
Dengan berbagai macam cobaan, rintangan, dan ujian yang telah dilalui. Tepat di hari ulang tahun Mbak Hanum, kabar gembira bahwa program bayi tabungnya berhasil. Hadiah ulang tahun terhebat yang pernah ia dapatkan. Kehamilan.
Hingga akhir isi novel. Epilog pada cerita ini menjadi menjadi sebuah surat cinta termanis dari orang tua untuk anaknya. Untuk anak yang begitu diharapkan kehadirannya, walaupun harus dengan berbagai cara.

Comments
Post a Comment