Pendidikan dan Mobilitas Sosial


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
      Era globalisasi telah terjadi pergeseran sosial yang signifikan. Dampak dari ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong akses akulturasi dan asimilasi semakin cepat, berakibat pada ‘runtuhnya’ nilai-nilai sosial yang dianut dalam suatu komunitas. Interaksi social tidak lagi ada gap antar komunitas global dan ranah ruang dan waktu semakin ‘mengecil’ dalam proses sosialisasi antar bangsa. Begitu juga, konsep ideology bangsa semakin mengarah pada Akselerasi teknologi mutakhir, berbagai persoalan dan perubahan sosial (masyarakat) yang unpredictability (ketidakmampuan untuk memperhitungkan apa yang akan terjadi). Era ini menuntut adanya peningkatan sumber daya manusia yang kompetitif dan kualifikatif. Perubahan itu sendiri didorong oleh tiga faktor, yaitu: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kependudukan, dan faktor ekologi atau lingkungan hidup. Kemudian pendidikan mengambil bagian penting dalam proses perubahan sosial yang dapat menjawab permasalahan-permasalahan tersebut.
Dalam masyarakat manapun bisa ditemui berbagai golongan masyarakat yang pada praktiknya terdapat perbedaan tingkat antara golongan satu dengan golongan yang lain. Adanya golongan yang berlapis-lapis ini mengakibatkan terjadinya stratifikasi sosial baik itu secara ketat ataupun lebih bersifat terbuka. Masyarakat yang menganut pelapisan sosial secara ketat tidak memungkinkan adanya kenaikan tingkat bagi para warganya secara mudah. Sebaliknya, dalam masyarakat yang menganut pelapisan sosial yang bersifat terbuka,  warga yang bersangkutan bisa dengan leluasa naik atau bahkan turun dart tingkat satu ke tingkat lainnya atas dasar faktor-faktor tertentu.
         Pada dasamya setiap warga dalam suatu masyarakat mem­punyai kesempatan untuk menaikan kelas sosial mereka dalam struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Termasuk dalam masyarakat yang menganut sistem pelapisan yang tertutup atau kaku. Inilah yang biasa; disebut dengan mobilitas sosial.
       Menurut Horton da Hunt (1999) Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak perpin­dahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lainnya. [1]
Masyarakat dengan sistem stratifikasi terbuka memilki tingkat mobilitas yang tinggi dibanding masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial yang tertutup. Dalam dunia modern seperti sekarang ini, banyak negara mengupayakan peningkatan mobilitas sosial dalam masyarakatnya, karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Apabila tingkat mobilitas tinggi, meskipun latar belakang sosial individu berbeda,  maka mereka  tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Apa­bila tingkat mobilitas sosial rendah, maka tentu saja kebanyakan orang akan terkungkung dalam status pars nenek moyang mereka
       Apabila  berbicara menyangkut mobilitas sosial, biasanya dipikirkan tentang perpindahan dari suatu tingkat yang rendah ke suatu tingkat yang lebih tinggi, sesungguhnya mobilitas dapai berlangsung dalam dua arah sebagaimana orang berhasil mencapai status yang tinggi, namun beberapa orang mengalami kegagalan, dan selebihnya tetap tinggal pads tingkat status yang dimiliki oleh orangtua mereka, bahkan turun lebih rendah dari ­pada itu. Mobilitas jenis di atas merupakan bentuk mobilitas dalam lingkup antar generasi yakni bisa memperbandingkan status pekerjaan ayah dan anak, selain itu kita juga bisa menge­tahui sampai sejauh mans sang anak mengikuti jejak sang ayah dalam hal peker aan. Mobilitas juga bisa ditelaah dari segi gerak "infra generasi", yakni bisa mengukur sejauh mana individu yang sama mengalami perubahan sosial dalam. Masa hidupnya.[2]
       Pendidikan adalah suatu sarana yang dapat dimanfaatkan sebagai media dalam memobilisasi tingkat sosial seseorang atau suatu komonitas masyarakat. Karena  melalui pendidikan tersebut seseorang dapat mengalami perkembangan dan atau perubahan taraf  berfikir atau prilaku yang pada gilirannya dapat melahirkan tingkat kesejahteraannya.


B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan ?
2.      Apa yang dimaksud dengan Mobilitas Sosial
3.      Bagaimanakah Proses terjadinya  Mobilitas Sosial  ?
4.      Melalui apa sajakah saluran Mobilitas Sosial dapat terjadi ?
5.      Bagaimanakah Peran Pendidikan dalam Mobilitas Sosial ?

C.  Tujuan Penulisan
Dengan demikian, tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1.      Pengertian dari Pendidikan
2.      Pengertian dari Mobilitas Sosial
3.      Proses terjadinya  Mobilitas Sosial
4.      Saluran Mobilitas Sosial
5.      Peran Pendidikan dalam Mobilitas Sosial
BAB II
ISI

A.  Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”.Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
Pengertian Pendidikan  adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pengertian Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau  untuk kemajuan lebih baik. Secara sederhana, Pengertian pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir.
Pengertian pendidikan – Secara Etimologi atau asal-usul, kata pendidikan dalam bahasa inggris disebut dengan education, dalam bahasa latin pendidikan disebut dengan educatum yang tersusun dari dua kata yaitu E dan Duco dimana kata E berarti sebuah perkembangan dari dalam ke luar atau dari sedikit banyak, sedangkan Duco berarti erkembangan atau sedang berkembang. Jadi, Secara Etimologi pengertian pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan diri sendiri dan kekuatan individu.  Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Kata pendidikan secara bahasa datang dari kata “pedagogi” yaitu “paid” yang artinya anak serta “agogos” yang artinya menuntun, jadi pedagogi yaitu pengetahuan dalam menuntun anak. Sedang secara istilah pengertian pendidikan adalah satu sistem pengubahan sikap serta perilaku seorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia atau peserta didik lewat usaha pengajaran serta kursus.
Pengertian pendidikan adalahpendidikan dapat diperoleh baik secaraformal dan non formal. Pendidikan secara formal diperoleh dengan mengikuti program-program yang telah direncanakan, terstruktur oleh suatu insititusi, departemen atau kementtrian suatu negara seperti di sekolah pendidikan memerlukan sebuah kurikulum untuk melaksanakan perencanaan penganjaran. Sedangkan pendidikan non formal adalah pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari dari berbagai pengalaman baik yang dialami atau dipelajari dari orang lain.

B.  Pengertian Mobillitas Sosial
Secara etimologis, ”mobilitas” berasal dari bahasa Latin ”mobilis” yang berarti mudah dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain. Mobilitas sosial merupakan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain secara sosial.
Mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari lapisan (strata sosial) yang satu ke lapisan yang lain. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan “gerak” atau “perpindahan”. Mobilitas sosial merupakan suatu konsep dinamika sosial yang secara harfiah seringkali diartikan sebagai suatu gerakan yang terjadi akibat berpindah atau berubah posisi sosial seseorang atau sekelompok orang pada saat yang berbeda.
Pengertian mobilitas sosial yang dikemukakan oleh beberapa ahli sosiologi:
·      Menurut Soerjono Soekanto: mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
·      Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack: mobilitas sosial adalah suatu mobilitas dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
·      Menurut William Kornblum: mobilitas sosial adalah perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok sosialnya dan satu lapisan ke lapisan sosial lainnya.
·      Menurut H.EdwardRansford: Mobilitas sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah dalam lingkungan sosial secara hirarki.
·      Menurut Robert M.Z. Lawang: mobilitas sosial adalah perpindahan posisi dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain atau dari satu dimensi ke dimensi yang lainnya.
·      Menurut Horton dan Hunt: mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya.
Pada dasarnya setiap warga dalam suatu masyarakat mempunyai kesempatan untukmenaikan kelas sosial mereka dalam struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Termasukdalam masyarakat yang menganut sistem pelapisan yang tertutup atau kaku. Inilah yang biasa disebut dengan mobilitas sosial.
Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lainnya (Horton & Hunt, 1999). Masyarakat dengan sistem stratifikasi terbukamemilki tingkat mobilitas yang tinggi dibanding masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial yangtertutup. Dalam dunia modern seperti sekarang ini, banyak negara mengupayakan peningkatanmobilitas sosial dalam masyarakatnya, karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuatorang melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Apabila tingkat mobilitastinggi, meskipun latar belakang sosial individu berbeda, maka mereka tetap dapat merasamempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Apabila tingkatmobilitas sosial rendah, maka tentu saja kebanyakan orang akan terkungkung dalam status paranenek moyang mereka.

C.  Proses terjadinya mobilitas sosial
Apabila kita berbicara menyangkut mobilitas sosial, biasanya kita berpikir tentang perpindahan dari suatu tingkat yang rendah ke suatu tingkat yang lebih tinggi, sesungguhnya mobilitas dapat berlangsung dalam dua arah. Sebagaimana orang berhasil mencapai status yang tinggi, namun beberapa orang mengalami kegagalan, dan selebihnya tetap tinggal pada tingkat status yang dimiliki oleh orang tua mereka, bahkan turun lebih rendah daripada itu. Mobilitas jenis di atas merupakan bentuk mobilitas dalam lingkup antar generasi yakni kita bisamemperbandingkan status pekerjaan ayah dan anak, selain itu kita juga bisa mengetahui sampai  sejauh mana sang anak mengikuti jejak sang ayah dalam hal pekerjaan. Mobilitas juga bisa ditelaah dari segi gerak “intra generasi”, yakni kita bisa mengukur sejauh mana individu yang sama mengalami perubahan sosial dalam masa hidupnya sendiri.
Proses terjadinya mobilitas sosial melalui tipe-tipe gerak sosial terdiri dari dua macam, yaitu gerak social Horizontal dan Vertical.
1.      Gerak social horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek social lainnya dari suatu kelompok social ke kelompok social lainnya yang sederajat.
2.      Gerak sosial vertikal adalah perpindahan individu dari objek sosial, dari kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.
Sesuai dengan arahnya, karena itu dikenal dua jenis mobilitas vertikal, yakni:
a.     Gerak sosial miningkat (social climbing), yaitu gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi.
b.    Gerak sosial yang menurun (social singking), yakni perpindahan anggota masyarakat    dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial yang lebih rendah posisinya
Kembali seperti pembahasan sebelumnya, dalam kedua hal itu yang kita perhatikan adalah tingkat keterbukaan masyarakat secara ekstrim, suatu masyarakat terbuka adalah masyarakat di mana hubungan antara pekerjaan ayah dan pekerjaan anak, umpamanya, sama sekali acak sifatnya. Ini adalah sebuah masyarakat dimana status diperoleh, berkat prestasi (achievement), di mana mengetahui pekerjaan seorang ayah tidak akan membantu kita untuk meramalkan pekerjaan anak-anaknya. Di ujung ekstrtim lainnya, sebuah masyarakat yang tertutup sama sekali adalah masyarakat dimana status sudah merupakan bawaan (ascribed) sejak lahir, penyapu jalan melahirkan (calon) penyapu jalan, juru rawat melahirkan (calon) juru rawat, pengemis melahirkan (calon) pengemis pula. Akan tetapi, dalam setiap masyarakat terdapat suatu campuran antara prestasi dan askripsi, hubungan timbal balik antara usaha sendiri dan keturunan adalah kompleks dan berubah-ubah.
Meskipun mobilitas sosial memungkinkan masyarkat untuk mengisi kursi jabatan dengan orang yang paling ahli dan memberikan kesempatan bagi orang untuk mencapai tujuan hidupnya, namun mobilitas sosialpun mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya tidak kita inginkan, seperti rasa ketegangan pada pribadi yang berusaha untuk naik status, rasa ketidakpuasan akan kegagalan, sikap angkuh dan sombong atas keberhasilan, rasa khawatir akan turunnya status, dan secara sosial bisa memperlemah solidaritas kelompok sebagai akibat dari dinamika antargolongan sosial dalam masyarakat. Dalam masyarakat berkasta, kita bisa temui contoh-contoh ekstrim dari konsekuensi-konsekuensi mobilitas sosial di atas, di sana perbedaan antara golongan yang menduduki tingkat tertentu dalam masyarakat sangat menonjol sekali dengan garis pembatas yang jelas. Norma-norma, nilai dan gaya hidup dari masing-masing kelompok juga sangat mencolok perbedaannya. Jadi menjadi hal yang biasa manakala rasa kekhawatiran orang kasta atas timbul saat posisinya terancam untuk turun ke kasta bawah.
Bahkan orang kasta tertentupun jika melakukan pelanggaran atas norma yang berlaku dengan serta merta akan dikeluarkan dari kelompoknya dan dikucilkan oleh orang-orang sekasta bahkan keluarga sendiri. Dalam masyarakat yang struktur sosial dan politiknya menciptakan kemungkinan mobilitas sosial yang tidak sehat akan lebih memperparah konsekuensi nagatif atas proses dinamika sosial dan bahkan bisa menimbulkan sebuah antagonisme sosial yang tinggi antarkelompok.
Kemajuan teknologi memang tidak menghilangkan ketidakadilan sosial, akan tetapi ia memperlemah efeknya. Masyarkat modern adalah masyarakat yang kompleks, dimana keragaman jenis pekerjaan yang berbeda-beda kepentingannya membawa penghasilan yang tidak sama serta kondisi kerja yang tidak sama pula. Kita harus memahami situasi ini secara jelas. Adalah mungkin untuk menampilkan dua pandangan yang berbeda tentang evolusi masyarakat industri. Pada satu pihak, bisalah ditunjukkan bahwa mereka bergerak ke arah stratifikasi sosial yang kompleks, menuju diversifikasi pekerjaan dan jenis pekerjaan, akan tetapi, di pihak lain kita dapat melukiskan suatu situasi yang persis sebaliknya, penguburan garis-garis kelas.
Masih menurut Duverger, di pihak lain, peningkatan umum dalam standar hidup, penginkatan dalam kemakmuran material, pengembangan waktu senggang dan fasilitasnya. Semua faktor ini, merupakan ciri khas ekonomi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi, cenderung menyebabkan ketidaksamaan yang bertautan langsung dengan antagonisme sosial.

D.  Saluran Mobilitas Sosial
Zaman dahulu seseorang mendapat status tinggi dalam sistem stratifikasi dalam masyarakatnya karena faktor keturunan dan inipun akan berlangung selama seumur hidup tanpa ada proses kompetisi untuk menggapai ataupun mempertahankan status tertentu (kecuali atas dasar pengkhianatan terhadap golongan kelas dan perkawinan). Inipun sangat jarang terjadi, kini pada masyarakat industri modern kesempatan-kesempatan untuk berkompetisi meraih status pada kelas-kelas atas sangat terbuka sekali. Dalam masyarakat seperti ini yang lebih dihargai pada diri seseorang adalah prestasi, kecakapan, keahlian dan faktor determinan utama, yakni struktur sosial yang menentukan jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang terdistribusi dan kemudaha untuk memperolehnya. Ketika individu yang ada di dalamnya adalah pemainnya yang akan menentukan siapa yang berhasil mencapai keududukan tertentu dalam masyarakat.
Dalam masyarakat juga terdapat saluran-saluran tertentu bagi mobilitas sosial, melalui saluran-saluran ini status seseorang warga bisa bergerak naik dari lapisan yang rendah ke dalam lapisan yang lebih tinggi.
Menurut Ptirim A Sorokin, mobilitas sosial dapat dilakukan melalui beberapa  saluran berikut :
1.      Angkatan Bersenjata
Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata biasanya ikut berjasa dalam membela nusa dan bangsa sehingga dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah penghargaan dan naik ke status yang lebih tinggi.
2.      Pendidikan
Pendidikan baik formal maupun nonformal merupakan saluran untuk mobilitas vertikal yang sering digunakan, karena melalui pendidikan seseorang bisa mengubah statusnya dari status di strata bawah ke status strata atas.
3.      Organisasi Politik
Seorang anggota parpol yang profesional dan punya dedikasi yang tinggi serta loyal terhadap partainya, kemungkinan besar akan cepat mendapat status dalam partainya, bahkan mendapat peluang yang besar menjadi anggota dewan legislatif maupun ekseskutif
4.      Lembaga Keagamaan
Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama menanggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat, tetapi pemuka-pemuka agama selalu berusaha keras untuk menaikkan status mereka yang berkedudukan rendah ke kedudukan yang lebih tinggi.
5.      Oraganisasi ekonomi
Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahaan maupun jasa pada umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas vertikal karena dalam organisasi ini posisi sosial bersifat relatif terbuka.
6.      Organisasi Profesi
Organisasi profesi lainnya yang dapat dijadikan sebagai saluran mobilitas vertikal antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan lain sebagainya.
7.      Perkawinan
Melalui perkawinan seseorang dapat menaikkan statusnya. Misalnya, seorang wanita yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja menikah dengan pria yang status sosial ekonominya lebih tinggi. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan naiknya status sosial ekonomi wanita tersebut.
8.      Organisasi Keolahragaan
Melalui organisasi keolahragaan seseorang dapat meningkatkan statusnya ke strata yang lebih tinggi.

Cara Umum Untuk Memperoleh Status Sosial
Secara umum terdapat da cara yang dapat digunakan untuk memperoleh suatu status sosial, yaitu melalui askripsi dan melalui prestasi.
a.       Askripsi
Askripsi adalah cara untuk memperoleh kedudukan melalui keturunan. Contohnya sistem kasta dan gelar kebangsawanan.
b.      Prestasi
Prestasi adalah cara untuk memperoleh kedudukan pada lapisan tertentu dengan usaha sendiri. cara inilah yang banyak ditempuh orang untuk mencapai status yang lebih tinggi.

Cara Khusus untuk Menaikkan Status Sosial
Adapun secara khusus, cara-cara yang digunakan untuk menaikkan status sosial adalah sebagai berikut :
a.       Perubahan Standar Hidup
Kenaikan penghasilan seseorang tidak otomatis menaikkan status seseorang, tetapi akan merefleksikan standar hidup yang lebih baik sehingga dapat berpengaruh pada peningkatan status. ,isalnya, seseorang yang memilki mobil akan dipandang memiliki status yang lebih tinggi.
b.      Perubahan Nama
Mobilitas sosial dapat dilakukan dengan cara mengubah nama, karena dalam masyarakat sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu.
c.       Perubahan Tempat Tinggal
Seseorang dapat berpindah tempat tinggalnya dari yang lama ke baru dengan fasilitas lebih baik dalam rangka meningkatkan status sosial. Misalnya, tinggal di perumahan mewah akan dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi.
d.      Perubahan Tingkah Laku
Seseorang yang berusaha menaikkan status sosialnya akan berusaha mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku dan sifat dari kelas yang lebih tinggi.
e.       Bergabung dengan Organisasi Tertentu
Untuk meningkatkan status sosialnya, seseorang bisa melibatkan diri dengan salah satu oraganisasi tertentu, misalnya kelompok hobi yang berkelas.

E.  Peran Pendidikan dalam Mobilitas Sosial
Pendidikan yang lebih tinggi adalah suatu syarat mutlak bagi mereka yang mencari kesempatan menjadi lapisan atas yang muncul dalam masyarakat ini. Namun ini saja tidak cukup, karena tidak semua orang Asia dan Afrika yang terdidik menjadi atau akan dapat menjadi anggota elit penentu di negerinya sendiri. Mereka juga harus menggunakan syarat-syarat berharga lainnya yang mungkin mereka miliki seperti kekayaan, kekerabatan atau keterampilan profesional untuk menegakkan lembaga-lembaga dan pelayanan yang berspesialisasi yang akan membantu jenis dunia yang mereka inginkan yaitu suatu masyarakat industri yang bebas dalam politik dan maju dalam ekonomi. Anggapan ini didasarkan pada pendapat yang mengandung kesangsian bahwa golongan yang berpendidikan belum tentu akan mampu melaksanakan semua fungsi yang menentukan masyarakat industri yang sedang bangkit dalam hal teknologi, ekonomi, keagamaan, bahwa seperti di Barat. Sungguhpun demikian, maka tingkat pendidikan yang tinggi dapat dikatakan telah mampu mengantarkan seseorang ke arah jenjang lapisan atas di suatu negara berkembang.
Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Bahkan jenis pekerjaan kasar yang berpenghasilan baik pun sukar diperoleh, kecuali jika seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada banyak dunia usaha dan perusahaan industri, bukan hanya terdapat satu, melainkan dua tangga mobilitas. Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, yang lainnya bermula dari kedudukan “program pengembangan eksekutif,” dan berakhir pada kedudukan pimpinan. Menaiki tangga mobilitas yang kedua tanpa ijasah pendidikan tinggi adalah sesuatu hal yang jarang terjadi.
Hal ini diduga bahwa bertambah tingginya taraf pendidikan makin besarnya kemungkinan mobilitas bagi anak-anak golongan rendah dan menengah. Ternyata ini tidak selalu benar bila pendidikan itu terbatas pada pendidikan tingkat menengah. Jadi walaupun kewajiban belajar ditingkatkan sampai SMU masih menjadi pertanyaan apakah mobilitas sosial dengan sendirinya dikemukakan di atas ijasah SMU tidak lagi memberikan mobilitas yang lebih besar kepada seseorang. Akan tetapi pendidikan tinggi masih dapat memberikan mobilitas itu walaupun dengan bertambahnya lulusan perguruan tinggi makin berkurang jaminan ijasah untuk meningkat dalam status sosial.
Pada dasarnya, pendidikan itu hanya salah satu standar saja. Dari tiga “jenis pendidikan” yang tersedia yakni pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal, tampaknya dua dari jenis yang terakhir lebih bisa diandalkan. Pada pendidikan formal dunia pekerjaan dan dunia status lebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus seseorang untuk naik jabatan dan naik status. Akan tetapi seiring dengan perkembangan kemudian mereka lebih mempercayai kemampuan atau skill individu yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilika ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kompetensi sang pemegang syarat tanda lulus itu. Inilah yang akhirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan-pendidikan nonformal, yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis-pragramatis bagi kebutuhan dunia kerja yang tentunya berpengaruh pada pencapaian status seseroang. Dalam perspektif lain, dari sisi intelektualitas, memang orang-orang berpendidikan lebih tinggi derajat sosialnya dalam masyarakat dan biasanya ini lebih terfokus pada jenjang-jenjang hasil keluaran pendidikan formal. Makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi dalam masyarakat.
Strategi pembaharuan pendidikan merupakan perspektif baru dalam dunia pendidikan yang mulai dirintis sebagai alternatif untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang belum diatasi secara tuntas. Jadi pembaharuan pendidikan dilakukan untuk memecahkan maslaah-masalah yang ada dalam dunia pendidikan dan menyongsong arah perkembangan dunia pendidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan kedepan.
Dalam proses perubahan pendidikan paling tidak memiliki dua peran yang harus diperhatikan, yaitu:
1)   Pendidikan akan berpengaruh terhadap perubhan masyarakat; dan
2)   Pendidikan harus memberikan sumbangan optimal terhadap proses ransformasi menuju terwujudnya mayarakat madani.
Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah pemikiran peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memerhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memeroleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisis sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.
Cengkeraman kapitalisme nampaknya begitu kental dalam dunia pendidikan di Indonesia. Didorong oleh misi untuk meningkatkan akumulasi kapital sebesar-besarnya, lembaga pendidikan akan lebih banyak menerima pelajar-pelajar gedongan meski memiliki IQ pas-pasan. Pelajar yang berprestasi tetapi miskin, tidak dapat sekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Mobilitas sosial vertikal hanya akan menjadi milik orang kaya yang mampu sekolah tinggi, meskipun secara intelektual diragukan. Berbarengan dengan meningkatnya gejala privatisasi pendidikan dan aspirasi atas pendidikan yang berkualitas memang juga terjadi peningkatan kecenderungan dalam masyarakat untuk mendirikan pendidikan yang mahal tetapi menjanjikan mutu.
Clark (1944) dalam bukunya yang berjudul, An Investment in People, menyatakan bahwa, “experiments in law-income communities show cleary that education can be used to help people obtain a higher standard of living through their own efforts”. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri. Penegasan ini berdasarkan hasil penelitian yangdilakukan terhadap masyarakat yang berpenghasilan rendah. Hal ini tidak sukar untuk dipahamikarena dengan bekal pengetahuan yang mantap dan lebih-lebih lagi secara sengaja meteri yangberhubungan dengan masalah ekonomi mendapat tekanan lebih berat, maka out put daripendidikan akan dapat berusaha lebih baik dalam menghadapi segala persoalan tentangkesejahteraannya.
Sebaliknya perkembangan ekonomi juga dapat membantu proses pendidikan karena dengan meningkatnya ekonomi baik nasional maupun masyarakat sekitar tempat di gelarnya pendidikanberarti meningkat pula kekuatan untuk memikul biaya pendidikan. Masalah ekonomi mempunyaipengaruh yang sangat jelas terhadap kelancaran kegiatan pendidikan dan bahkan ditekankanbahwa kurikulum juga dipengaruhi oleh tuntutan-tuntutan dari pekerjaan perdagangan danindustri. Kenyataannya memang demikian, berbagai masalah yang berhubungan dengan perburuhan, perdagangan dan industri memang harus dipertimbangkan dalam menyusun kurikulum. Kurikulum yang baik memang memperhatikan kenyataan-kenyataan yang ada dimasyarakat.
Signifikansi antara tingkat pendidikan dengan tingkat keadaan ekonomi atau hubunganantara tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi seseorang oleh Clark (1944) tersebut bisadiutarakan sebagai berikut.
1.    Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi pula tingkat penghasilannya(tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolahmenengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruantinggi maksimal antara delapan dan sembilan ribu dolar setahun)
2.    Tamatan sekolah dasar (atau sekolah menengah pertama) akan mendapat penghasilanmaksimal pada usia sekitar 35-34 tahun; tamatan sekolah menengah atas akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun dan tamatan perguruan tinggi akan mendapat hasil maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.
3.    Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapat hasil yang lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia tua mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja.
Walau demikian tentulah dimaklumi bahwa tidak semua orang mengalami atau memiliki korelasi antara tingkat pendidikan dan penghasilan seperti diatas, penyimpangan tentu ada sebagaimana dalam masalah sosial lainnya.
Spesialisasi pekerjaan yang meningkat mendesakkan permintaan akan spesialis-spesialis berpendidikan tinggi. Hal ini berlaku pada seniman-seniman terkemuka, penulis-penulis profesional dan para cendekiawan yang umumnya tidak hanya mengandalkan hubungan-hubungan keluarga, untuk mencapai sukses atau pada ikatan-ikatan kelas yang penuh dengan penghargaan serta ijasah pendidikan tinggi. Pola ini akan menjadi semakin menentukan juga di kalangan elit di mana hubungan-hubungan demikian memainkan peranan yang menentukan dalam proses mobilisasi. Segi-segi pendidikan mengenai kecenderungan seseorang dapat mencapai karier antara lain melalui jalur pendidikan formal dan magang.
1.    Pendidikan Formal
Pentingnya pendidikan yang lebih tinggi dalam masyarakat juga dapat diamati pada lapisan elit masyarakat. Pendidikan demikian tidak dapat dihindari telah menyebabkan kebanyakan anggota elit militer, politik, ekonomi dan elit lainnya menguasai kecakapan-kecakapan kehidupan modern. Kesemuanya menjadi kian penting bagi mereka dalam proses mobilitas. Oleh karena dunia semakin kompleks dan kurang dapat dipahami oleh mereka yang tidak berpengalaman secara teknis, maka pendidikan telah berperan dalam memberi pengarahan baginya berperan dalam masyarakatnya. Semakin tinggi pendidikan formal seseorang akan semakin tinggi kemungkinan status sosial dan perannya di masyarakat.
2.    Sistem Magang
Hal nyata dan penting bagi golongan elit dan masyarakat lain adalah keterikatan secara dini dengan pekerjaan, latihan dengan spesialisasi yang diperpanjang serta keterlibatan yang intensif dengan kerja dan sifat-sifat karier yang panjang dalam bidang-bidang yang lainnya telah merupakan faktor penting dalam penguasaan spesialisasi. Mekanisme yang dijalankan dengan memilih kerja untuk kehidupan mereka lebih dini mengabdikan diri mereka kepada rangkaian menyeluruh dari latihan secara formal dan informal, bekerja bertahun-tahun untuk mendapatkan kemampuan ataupun promosi dapat dilalui dengan model magang.
Magang kerja telah dapat mengantarkan seseorang menguasai kompetensi kerja sehingga seseorang mendapatkan penghasilan pekerjaan. Selain pendidikan formal yang berjenjang dan magang, seseorang dapat mencapai suatu karier dengan latihan-latihan, baik dalam bentuk on the job training maupun bentuk latihan-latihan lainnya yang dapat diikuti seseorang dalam pengembangan kariernya.
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.    Pengertian pendidikan adalahpendidikan dapat diperoleh baik secaraformal dan non formal. Pendidikan secara formal diperoleh dengan mengikuti program-program yang telah direncanakan, terstruktur oleh suatu insititusi, departemen atau kementtrian suatu negara seperti di sekolah pendidikan memerlukan sebuah kurikulum untuk melaksanakan perencanaan penganjaran. Sedangkan pendidikan non formal adalah pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari dari berbagai pengalaman baik yang dialami atau dipelajari dari orang lain.
2.    Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lainnya (Horton & Hunt, 1999). Masyarakat dengan sistem stratifikasi terbuka memilki tingkat mobilitas yang tinggi dibanding masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial yang tertutup. Dalam dunia modern seperti sekarang ini, banyak negara mengupayakan peningkatan mobilitas sosial dalam masyarakatnya, karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Apabila tingkat mobilitas tinggi, meskipun latar belakang sosial individu berbeda, maka mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Apabila tingkat mobilitas sosial rendah, maka tentu saja kebanyakan orang akan terkungkung dalam status para nenek moyang mereka.
3.    Proses terjadinya mobilitas sosial dapat berlangsung dalam dua arah yaitu Gerak social horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek social lainnya dari suatu kelompok social ke kelompok social lainnya yang sederajat, serta Gerak sosial vertikal adalah perpindahan individu dari objek sosial, dari kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.
4.    Saluran terjadinya mobilitas social antara lain : 1)   Angkatan Bersenjata, 2) Pendidikan, 3) Organisasi Politik, 4) Lembaga Keagamaan, 5)  Oraganisasi ekonomi, 6)  Organisasi Profesi, 7) Perkawinan, 8)  Organisasi Keolahragaan
5.    Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Bahkan jenis pekerjaan kasar yang berpenghasilan baik pun sukar diperoleh, kecuali jika seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada banyak dunia usaha dan perusahaan industri, bukan hanya terdapat satu, melainkan dua tangga mobilitas. Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, yang lainnya bermula dari kedudukan “program pengembangan eksekutif,” dan berakhir pada kedudukan pimpinan. Menaiki tangga mobilitas yang kedua tanpa ijasah pendidikan tinggi adalah sesuatu hal yang jarang terjadi.

B.  Saran
Dalam hal mobilitas sosial dan pendidikan sekarang ini, nampaknya kebutuhan terhadap filantrofi (kedermawanan) secara khusus untuk pendidikan semakin dibutuhkan. Jika tidak, sekolah/madrasah yang berkualitas hanya bisa dimasuki oleh anak-anak dari keluarga kaya. Padahal pada kenyataannya di masyarakat, terdapat cukup banyak anak dari kalangan keluarga dengan perekonomian menengah kebawah  yang cerdas, berbakat, rajin dan mau bekerja keras.



DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Arif. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Karsidi, Ravik. 2003. Sosiologi Pendidikan. Semarang: UNS Press.
Karsidi, Ravik. 2005. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: LPP UNS.
Narwoko, Dwi. 2010. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
Naution, S. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
http://silabus.org/pengertian-pendidikan/
http://sosiologis.com/mobilitas-sosial




[1] Horton & Hunt, 1999, yang dikutip oleh Arif Budiman dalam , Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1996,h. 21

[2] Ravik Karsidi, Sosiologi Pendidikan, UNS Press, Semarang 2003, h. 25

Comments