ASESMEN KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN PENDIDIKAN JENJANG SEKOLAH MENENGAH


ASESMEN KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN PENDIDIKAN JENJANG SEKOLAH MENENGAH
(SMA DAN SMK)

Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan

Dosen Pengasuh : Drs. Sulaiman, M.Pd., Ph.D
logounlam
 






Oleh :
ANNISA MAULIDA        (1720111320005)
RAMANG                        (1720111310026)
RIZKI AMALIA              (1720111320028)




PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2018

Kata Pengantar
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Taufiq dan Hidayah, sehingga penulis dapat menyusun salah satu tugas mata kuliah Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan.
Tugas yang kami susun ini membahas tentang Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Tentu saja tugas yang kami paparkan ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangannya di sana sini, baik yang menyangkut isi nya, tata bahasanya maupun sistematikanya. Oleh karena itulah,  kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun guna perbaikan selanjutnya sangat kami nantikan pada saat presentasi nanti.
Dengan telah selesainya penyusunan makalah ini dan masukan-masukan yang sifatnya membangun pada saat presentasi nanti, sebelum dan sesudahnya penulis haturkan terima kasih kepada:
1.   Bapak Drs. Sulaiman, M.Pd., Ph.D. selaku Dosen pembimbing mata kuliah Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan.
2.   Rekan – rekan mahasiswa(i) Program Magister Manajemen Pendidikan  Angkatan 2017
Semoga makalah ini ada manfaatnya bagi kita semua Amin Ya Rabbal alamin.
  .

                                                                                                  Penyusun






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................................       i
KATA PENGANTAR........................................................................................      ii
DAFTAR ISI......................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1   LatarBelakang........................................................................................      1
1.2  RumusanMasalah....................................................................................      1
1.3  Batasan Masalah.....................................................................................      2
1.4  TujuanPenulisan......................................................................................      2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Asesmen Kebutuhan ..............................................................................      3
B.     Perencanan Pendidikan...........................................................................      5
C.     Contoh Asesmen Kebutuhan dan Perencaan Pendidikan.......................    11
BAB III PENUTUP
3.1   Kesimpulan ...........................................................................................
3.2   Saran......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................            


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Mayoritas masyarakat memiliki keinginan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik. Keinginan tersebut selalu diupayakan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu cara yang dipilih untuk meraih kemajuan. Dengan kata lain, sekolah merupakan instrumen untuk memajukan masyarakat.
Sementara itu, dalam konteks muatan wajib yang diajarkan pada sekolah dasar dan menengah di Indonesia sesuai dengan UU No.,20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional meliputi hal-hal sebagai berikut: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.
Pendidikan menengah berperan besar dalam mempersipakan peserta didik untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (bagi pendidikan menengah umum) dan untuk memasuki dunia kerja (bagi pendidikan menengah kejuruan). Dewasa ini kita dihadapkan pada kebutuhan untuk mempersiapkan generasi muda dalam masyarakat yang berteknologi tinggi, dan satu segi kita dihadapkan pada hal-hal yang terkai dengan masalah moral, karakter, budaya, dan masalah lainnya.
Sekolah hendaknya menentukan prioritas yang dapat membekali siswa dengan pondasi ilmu pengetahuan, logika, dan moral dasar masyarakat yang kokoh. Oleh karena itu, tiap-tiap sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah, harus melakukan asesmen kebutuhan dan perencanaan yang matang, agar dapat memberikan kompetensi dasar yang sesuai bagi peserta didik untuk kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam cakupan materi yang terdapat pada makalah ini adalah:
1.      Apa dan bagaimana asesmen kebutuhan yang terdapat pada sekolah?
2.      Bagaimana perencanaan yang baik dilakukan oleh sekolah terhadap asesmen kebutuhan?
3.      Bagaimana contoh rencana strategis pengembangan sekolah (SMA/SMK)?
1.3  Batasan Masalah
Batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Asesmen kebutuhan pada sekolah
2.      Perencaannya pada sekolah
3.      Contoh rencana strategis pengembangan sekolah menengah

1.4  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan asesmen kebutuhan yang ada pada sekolah
2.      Untuk mengetahui bagaimana perencanaan pada sekolah terhadap asesmen kebutuhan yang ada
3.      Dapat mengimplementasikan asesmen kebutuhan dan perencanaan pada sekolah setelah mempelajari materi ini

4.       
BAB II
ISI

A.  ASESMEN KEBUTUHAN PADA SEKOLAH

Dalam bukunya Fundamentan of Curriculum Decisions, Kaufman (1983) mengulas mengenai model-model utama asesmen kebutuhan pada sekolah. Kaufman juga membahas perbedaan antara asesmen kebutuhan dan evaluasi serta menekankan bahwa asesmen kebutuhan hendaknya dilaksanakan ketika terdapat kerisausan mengenai “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya ada”.
Patterson dan Czajkowski (1976) juga mengembangkan model untuk asesmen kebutuhan di sekolah yang dapat dipertimbangkan penerapannya di Indonesia. Model ini merupakan model kesenjangan kebutuhan untuk menentukan “apa yang ada” dan “apa yang harusnya ada”. Di bawah ini merupakan kerangka model beserta langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktik asesmen kebutuhan pada sekolah. Langkah-langkah tersebut adalah berikut ini.
1.    Mengembangkan rencana kerja:
a.       Membentuk komite asismen
b.      Mencapai kesepakatan tentang strategis selanjutnya
2.    Menyusun Tujuan (Goal):
a.       Menggunakan daftar “apa yang ada saat ini”
b.      Mencapai konsensus antara kelompok representatif
c.       Mendapatkan goal dari komite asismen
3.    Validasi Tujuan:
a.       Menggunakan struktur komite
b.      Mengadakan survei tertulis
c.       Mengadakan wawancara terstruktur
4.    Skala prioritas tujuan:
a.       Memilih butir yang dianggap paling penting
b.      Mencari butir yang paling penting sampai dengan yang paling tidak penting
c.       Mengurutkan butir berdasarkan priorotas
5.    Mempersiapkan indikator kinerja:
a.       Mempertimbangkan tujuan yang dikembangkan secara komersial
b.      Memanfaatkan keahlian profesional
c.       Mengembangkan harapan masyarakat
6.    Mengidentifikasi alat asesmen:
a.       Menggunakan instrumen yang sudah disiapkan secara komersial
b.      Mengembangkan instrumen secar amandiri
c.       Menggunakan observasi, wawancara dan sebagainya
7.    Menentukan tingkatan kriteria untuk tiap kelompok dan pengujian:
a.       Menentukan tingkatan yang diharapkan untuk tiap kelompok
b.      Mengembangkan tingkatan untuk pengujian kinerja
8.    Pengumpulan data:
a.       Menentukan nilai untuk tiap kelompok
b.      Melakukan pengujian pada populasi atau sampel
c.       Mengumpulkan data pendukung
9.    Analisis data untuk mencari kesenjangan:
a.       Membandingkan kinerja dengan harapan
10.     Menentukan kemungkinan alasan terhadap adanya kesenjangan:
a.       Mengevaluasi faktor lain yang mempengaruhi kinerja
b.      Memeriksa kembali harapan yang dicanangkan
c.       Melaksanakan anilisis secara mendalam
Model tersebut dapat diadaptasikan sebagai langkah-langkah dasar untuk melaksanakan asesmen kebutuhan untuk tiap-tiap sekolah. Pada tahap pengembangan rencana kerja (tahap pertama) asesor dapat mendiskusikan ide mengenai perlu tidaknya dilakukan asesmen kebutuhan dengan para staf, komite evaluasi, dan warga sekolah yang relevan. Selanjutnya, pada langkah kedua, informasi yang berisikan tujuan-tujuan sekolah hendaknya dikirimkan ke orang tua/wali murid seta masyarakat di sekitar sekolah. Nantinya, mereka akan memilih tiga tujuan yang dirasa paling penting dan tiga tujuan yang dirasa paling tidak penting, untuk mengetahui bagaimana tujuan akhir yang dicanangkan tersebut dari wawasan mereka. Kemudian, sekolah mendesain atau mempersiapkan butir yang relevan untuk tiap-tiap tujuan umum.
Jika butir sudah ditentukan dan tujuan umum yang dianggap sebagai prioritas utama sudah disepakati oleh orang tua siswa atau masyarakat, maka sekolah dapat mulai menentukan instrumen yang sesuai untuk melakukan asesmen kebutuhan. Instrumen yang dipergunakan untuk menjaring data dapat dilakukan dengan wawancara, observasi, rekaman, kuesioner, foto dan sebagainya. Apabila semuanya sudah siap, sekolah harus menentukan standar nilai, baik untuk kinerja siswa di setiap kelas, kinerja kelompok dalam kelas, maupun populasi lain. Hasil dari penilaian tersebut (apa yang ada) nantinya dibandingkan dengan standar (apa yang diharapkan).
Dengan demikian, kesenjangan dapat dinilai dan dibuktikan. Baru kemudian, perencanaan dapat dilakukan untuk mempersempit atau bahkan meniadakan kesenjangan tersebut. Perlu dicatat bahwa sekolah hendaknya tidak menurunkan standar nilai (apa yang diharapkan) dengan tujuan untuk mempersempit kesenjangan yang ada, sebelum suatu strategi dapat dikonkretkan.

B.  PERENCANAAN PADA SEKOLAH

Asesmen kebutuhan saja tidak akan banyak berguna bagi suatu sekolah, apabila tidak diikuti dengan perencanaan untuk perbaikan atau setidaknya untuk mempersempit kesenjangan antara apa yang ada dengan apa yang diharapkan. Patterson dan Czajkowski (1980) mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian, sekolah yang sangat serius mengoordinasikan perubahan kurikulum, pengembangan sumber daya manusia, dan evaluasi programnya berdasarkan asesmen kebutuhan serta perencanaan, sekolah tersebut lebih berpotensi untuk sukses.
Perencanaan merupakan suatu proyeksi tentang apa yang harus dilaksanakan guna mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan (Kaufman 1972; Hadikumoro 1980). Sebagai suatu proyeksi, perencanaan memiliki unsur kegiatan mengidentifikasi, menginventarisasi dan menyeleksi kebutuhan berdasarkan skala prioritas, mengadakan spesifikasi yang lebih rinci mengenai hasil yang akan dicapai, mengidentifikasi persyaratan atau kriteria untuk memenuhi setiap kebutuhan, serta mengidentifikasi kemungkinan alternatif, strategi, dan sasaran bagi pelaksanaannya. Kebutuhan terhadap perencanaan pendidikan diakibatkan oleh adanya kompleksitas masyarakat dewasa ini, seperti masalah jumlah penduduk, kebutuhan akan tenaga kerja, masalah lingkungan, dan adanya keterbatasan sumber daya alam. Hal tersebut antara lain dikemukakan Banghart dan Trull (1973:5) dalam bukunya yang menyatakan bahwa: “The need for planning arose with the intensified complexcities of modern technological society. Problems such as population, manpower needs, ecology, decreasing natural resources and haphazard aplication of scientific developments all place demand on educational institutions for solution” yang artinya kebutuhan untuk perencanaan muncul dengan kompleksitas yang semakin meningkat dari masyarakat teknologi modern. Masalah seperti populasi, kebutuhan tenaga kerja, ekologi, penurunan sumber daya alam dan aplikasi yang serampangan dari perkembangan ilmiah semua menempatkan permintaan pada lembaga pendidikan sebagai solusi.
Perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), menggerakkan atau memimpin (actuating atau leading), dan pengendalian (controlling) merupakan fungsi-fungsi yang harus dijalankan dalam proses manajemen. Jika digambarkan dalam sebuah siklus, perencanaan merupakan langkah pertama dari keseluruhan proses manajemen tersebut. Perencanaan dapat dikatakan sebagai fungsi terpenting diantara fungsi-fungsi manajemen lainnya. Apapun yang dilakukan berikutnya dalam proses manajemen bermula dari perencanaan. Daft (1988:100) menyatakan: “When planning is done well, the other management functions can be done well.”
Perencanaan pada intinya merupakan upaya pendefinisian kemana sebuah organisasi akan menuju di masa depan dan bagaimana sampai pada tujuan itu. Dengan kata lain, perencanaan berarti pendefinisian tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dan pembuatan keputuan mengenai tugas-tugas dan penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Sedangkan rencana (plan) adalah hasil dari proses perencenaan yang berupa sebuah cetak biru (blueprint) mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan, jadwal, dan tindakan-tindakan lain yang diperlukan dalam rangka pencapaian tujuan.
Dalam pengertian tersebut, tujuan dan alokasi sumber daya merupakan dua kata kunci dalam sebuah rencana. Tujuan (goal) dapat diartikan sebagai kondisi masa depan yang ingin diwujudkan oleh organisasi. Dalam organisasi, tujuan ini terdiri dari beberapa jenis dan tingkatan. Tujuan pada tingkat yang tertinggi disebut dengan tujuan strategis (strategic goal), kemudian berturut-turut di bawahnya dijabarkan menjadi tujuan taktis (tactical objective) kemudian tujuan operasional (operational objective). Tujuan strategis merupakan tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang, sedangkan tujuan taktis dan tujuan operasional adalah tujuan jangka pendek yang berupa sasaran-sasaran yang terukur.
Dalam organisasi sekolah, tujuan strategis merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai pada tingkat sekolah. Tujuan ini bersifat umum dan biasanya tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan-tujuan taktis merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh-oleh bagian-bagian utama organisasi sekolah, misalnya bidang kurikulum, kesiswaan, atau kerja sama dengan masyarakat. Untuk SMK tujuan-tujuan taktis ini dapat berupa tujuan-tujuan yang harus dicapai pada tingkat jurusan atau program keahlian. Sedangkan tujuan operasional merupakan tujuan yang harus dicapai pada bagian-bagian yang secara struktur yang lebih rendah dari bagian-bagian utama sekolah tersebut. Tujuan mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran, misalnya, dapat dikategorikan sebagai tujuan operasional.
Masing-masing tingkatan tujuan tersebut terkait dengan proses perencanaan. Tujuan strategis merupakan tujuan yang harus dicapai pada tingkat rencana strategis (strategic plan). Tujuan taktis dan tujuan operasional masing-masing merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai pada rencana taktis (tactical plan) dan rencana operasional (operational plan).
Perlu dicatat bahwa semua organisasi, apapun bentuknya, ada atau diadakan atas dasar asumsi, keyakinan, sistem nilai dan mandat tertentu. Dalam kaitannya dengan perencanaan, dasar-dasar keberadaan ini disebut dengan premis organisasi. Secara formal permis-premis perencanaan itu biasanya disajikan dalam bentuk rumusan visi, misi, dan nilai-nilai fundamental organisasi. Visi dapat dipandang sebagai alasan atas keberadaan lembaga dan merupakan keadaan “ideal” yang hendak dicapai oleh lembaga; sedangkan misi adalah tujuan utama dan sasaran kinerja dari lembaga. Keduanya harus dirumuskan dalam kerangka filosofis, keyakinan dan nilai-nilai dasar yang dianut oleh organisasi yang bersangkutan dan digunakan sebagai konteks pengembangan dan evaluasi atas strategi yang diinginkan. Premis-premis tersebut harus menjadi titik-tolak dalam perencanaan. Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan yang tertuang dalam rencana harus berada dalam kerangka premis-premis itu.
Perencanaan pengembangan sekolah (school development planning) merupakan proses pengembangan sebuah rencana untuk meningkatkan kinerja sebuah sekolah secara berkesinambungan. Perbedaan pokok rencana pengembangan dengan rencana lainnya terletak pada tujuan. Sedangkan herarkhi tujuan dan rencana sebagaimana telah diuraikan di atas juga berlaku dalam rencana pengembangan. Tujuan yang akan dicapai dalam rencana pengembangan merupakan hasil-hasil yang lebih baik dari apa yang selama ini telah dicapai oleh sekolah. Rencana pengembangan sekolah disusun agar sekolah terus-menerus meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu, selain didasarkan pada visi dan misi sekolah, perencanaan pengembangan harus didasarkan atas pemahaman yang mendalam tentang keberadaan dan kondisi sekolah pada saat rencana pengembangan itu disusun. Pemahaman semacam ini dapat dilakukan melalui kajian dan telaah mendalam terhadap kondisi internal maupun lingkungan eksternal dimana sekolah itu berada.
Kerangka umum proses perencanaan pengembangan sekolah sebenarnya dapat digambarkan sebagai sebuah siklus yang bergerak mengelilingi sebuah titik pusat. Siklus itu terdiri dari empat langkah kunci: Telaah (Review) atau evaluasi diri (self evaluation), Rancangan Strategi (StrategyDesign), Implementasi (Implementation), dan evaluasi. Sedangkan titik pusatnya terdiri dari: Visi, Misi, dan Tujuan.
Untuk mengoperasionalkan siklus tersebut, langkah-langkah dalam proses perencanaan dapat diubah menjadi sejumlah pertanyaan pokok. Ma­sing-masing langkah dapat direpresentasikan dengan sebuah pertanyaan pokok yang dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan khusus. Pertanyaan-pertanyaan khusus ini kemudian digunakan untuk menentukan tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam proses perencanaan pengembangan.
De Reche (1985) dalam Sunhadji dan Huda (2015) memaparkan siklus proses perencanaan pada sekolah, seperti gambar dibawah ini







 





The school
Developement
Planning Cycle





Gambar 2.1 Siklus Proses Perencanaan di Sekolah

Revie of Audit (Langkah telaah atau audit) merupakan bagian dari asesmen untuk mengetahui kebutuhan, yang dapat diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang diharapkan.
Sementara itu, perumusan dan perumusan kembali tujuan umum sekolah (definiton or redefiniton of whole school aims) diperlukan untuk mengkaji ulang tujuan sekolah, berdasarkan hasil telaah atau audit.
Penyusunan rencana pengembangan sekolah (establishment of school development plan) adalah langkah selanjutnya yang berisi sasaran program dan kegiatan untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Pada kenyataannya sebuah sekolah yang termasuk dalam sekolah sekarang masih memiliki kekurangan baik di tinjau dari output, proses maupun input sekolah. Kekurangan yang terdapat dalam tiap indikator pada tiap-tiap aspek tersebut juga sangat bervariasi. Indikator dalam aspek proses pendidikan seperti PBM, manajemen, dan kepemimpinan yang belum memenuhi kriteria. Demikian juga pada aspek input sekolah seperti indikator siswa, kurikulum, guru, kepala sekolah, tenaga pendukung, organisasi dan administrasi, sarana dan prasarana (ruang kelas, laboratorium, ruang multimedia, perpustakaan, ruang pimpinan, ruang guru, ruang TU, WC, dan prasarana fasilitas pendukung lain seperti pembiayaan, lingkungan sekolah, hubungan/kerjasama dan budaya sekolah. (Rohiat, 2012:41).
Kemudian dilanjutkan dengan proses anggaran (budgetary process) atau proses untuk menentukan seberapa besar pengeluaran yang dibutuhkan.
Apabila langkah-langkah tersebut dilakukan, implementasi rencana (implementation of plan) dapat dijalankan.
Pada akhirnya, monitoring, evaluasi dan pelaporan (monitoring evaluation and reporting) merupakan langkah yang tidak boleh dilupakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Langkah-langkah tersebut membutuhkan 8 (delapan) unsur sebagai berikut.
1.    Tim Pengembangan
Kepala sekolah memilih suatu tim yang terdiri dari guru dan unsur lain yang relevan dan kompeten, untuk nantinya menjalankan proses perencanaan. Kepala sekolah hendaknya memberikan waktu yang cukup untuk tim ini untuk mempelajari hasil yang didapat dari asesmen kebutuhan, sekaligus untuk memikirkan cara mengembangkan kondisi dari apa yang ada. Pada akhir fase pembentukan tim pengembangan tersebut, hendaknya terbentuk suatu tim yang benar-benar mengerti apa yang akan dihadapi serta apa yang diharapkan dari mereka.
2.    Alasan Perencanaan Program
Tugas pertama tim pengembangan adalah untuk mencari alasan mendasar sebelum suatu program dicanangkan.
3.    Penyusunan Tujuan dan Sasaran Program
Tim sekolah memiliki dua tugas: (a) merumuskan tujuan (goals) dan sasaran program (program objectives) sesuai dengan hasil asesmen kebutuhan; dan (b) menyempurnakan tujuan dan sasaran program yang sudah ada, jika dirasa masih terlalu rasional atau terlalu aplikatif.
4.    Pemetaan Program
English (1978) dalam Sonhadji dan Huda (2015) menjelaskan bahwa pemetaan program merupakan suatu teknik analitik untuk mengetahui seluk beluk suatu program (meliputi ruang lingkup serta urutannya), sebagaimana nantinya dimaterilisasikan di sekolah. Teknik ini dapat membantu menentukan seberapa sesuai program yang direncanakan dengan tujuan umum yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, pemetaan program juga memungkinkan sekolah untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan program tersebut. Meskipun hal tersebut bersifat relatif, dalam publikasinyua yang lain.
5.    Asesmen Perencanaan Program
Informasi yang telah didapatkan oleh tim asesmen kebutuhan dan perencanaan sekolah selanjutnya dibandingkan dengan informasi yang dikumpulkan melalui berbagai teknik asesmen lain.
6.    Panduan Program
Agar nantinya berjalan dengan efektif dan efesien, program yang direncanakan hendaknya dipandu oleh suatu prosedur operasional standar, seperti (1) jadwal: jadwal yang cukup fleksibel hendaknya dibuat sesuai dengan tujuan program yang akan dijalankan; (2) fokus program: kepada para guru hendaknya dipaparkan isi atau keterampilan yang spesifik serta memiliki landasan yang kuat; dan (3) implementasi program: sambil bekerja dengan tim asesor dan perencana, para guru dapat mencoba mengaplikasikan gagasan yang disarankan untuk perbaikan serta menentukan keefektifannya.
7.    Evolusi Program
Brickel (1969) dalam Sonhadji dan Huda (2015) memaparkan bahwa dalam proses perencanaan, tiap program akan berevolusi secara lambat tetapi pasti.
8.    Implementasi dan Evaluasi Program
Fokus evaluasi harus berkenaan dengan seberapa jauh program tersebut mencapai tujuan yang ditetapkan. Analisis data yang dilakukan oleh kepala sekolah, para guru serta tim asesor dan perencanaan dapat menentukan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan suatu program, sehingga langkah berikutnya dapat ditentukan strategi yang dipilih untuk mengimplementasikan suatu program yang sudah dievaluasi sebelumnya.

C.  CONTOH ASESMEN KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN PADA SMK
Sebagai lembaga pendidikan menengah, SMK mengemban misi sebagai berikut: (1) melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar; (2) menyiapkan peserta didik untuk menjadi aggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitarnya; dan (3) mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja dan pendidikan yang lebih tinggi. Misi ini mendasari perumusan tujuan dan visi sekolah bagi setiap SMK.
Tujuan SMK adalah: (1) meningkatkan kemampuan siswa untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi; (2) meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya; dan (3) mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional.
Dengan menganalisis nilai dan memperhatikan perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi maka rumusan visi SMK harus mengandung keunggulan dengan indikator sebagai berikut: (1) memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif; (2) senantiasa memperhatikan kecenderungan perubahan lingkungan dan iptek; serta (3) memperhatikan kecenderungan perubahan tuntutan masyarakat.
Tujuan SMK yang didukung oleh rumusan visi keunggulan yang jelas membutuhkan sistem perencanaan pendidikan di sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu perencanaan strategik dan perencanaan operasional. Perencanaan strategik merupakan perencanaan yang disusun berdasarkan skala prioritas sehingga berbagai sumberdaya pendidikan yang dimiliki oleh sekolah dapat dimanfaatkan seefektif dan seefesien mungkin. Sedangkan perencanaan operasional merupakan perencanaan yang bersifat operasional sebagai pengembangan (penjabaran) yang lebih rinci dari perencanaan strategik.
Baik perencanaan strategik maupun perencanaan operasional pada prinsipnya harus dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah. Berbagai kebutuhan yang dimaksud mencakup: (1) layanan belajar mengajar yang lebih kondusif; (2) kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai; (3) kualitas sumber daya manusia baik guru, tenaga administrasi maupun siswa guna mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang berkualitas; dan (4) pembaharuan kurikulum sesuai dengan kecenderungan perubahan yang ada. Keempat hal itu menjadi persyaratan bagi perencanaan pendidikan yang baik.
Sistem perencanaan pendidikan yang didasari rumusan kelembagaan, visi keunggulan, dan mengakomodasi mutu lulusannya sebagaimana yang diharapkan. Artinya, lulusan SMK akan terserap ke dunia kerja atau ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika dikatikan dengan stakeholder, terserapnya lulusan SMK ke dunia kerja dan pendidikan tinggi, mengandung arti bahwa lulusan SMK tersebut mempunyai relevansi dan memberikan kepuasan, karena perolehan hasil belajar siswa selama di sekolah dapat didayagunakan secara maksimal.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dalam bukunya Fundamentan of Curriculum Decisions, Kaufman (1983) mengulas mengenai model-model utama asesmen kebutuhan pada sekolah. Kaufman juga membahas perbedaan antara asesmen kebutuhan dan evaluasi serta menekankan bahwa asesmen kebutuhan hendaknya dilaksanakan ketika terdapat kerisausan mengenai “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya ada”.
Patterson dan Czajkowski (1976) juga mengembangkan model untuk asesmen kebutuhan di sekolah yang dapat dipertimbangkan penerapannya di Indonesia. Model ini merupakan model kesenjangan kebutuhan untuk menentukan “apa yang ada” dan “apa yang harusnya ada”. Di bawah ini merupakan kerangka model beserta langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktik asesmen kebutuhan pada sekolah.
Perencanaan merupakan suatu proyeksi tentang apa yang harus dilaksanakan guna mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan (Kaufman 1972; Hadikumoro 1980). Sebagai suatu proyeksi, perencanaan memiliki unsur kegiatan mengidentifikasi, menginventarisasi dan menyeleksi kebutuhan berdasarkan skala prioritas, mengadakan spesifikasi yang lebih rinci mengenai hasil yang akan dicapai, mengidentifikasi persyaratan atau kriteria untuk memenuhi setiap kebutuhan, serta mengidentifikasi kemungkinan alternatif, strategi, dan sasaran bagi pelaksanaannya. Kebutuhan terhadap perencanaan pendidikan diakibatkan oleh adanya kompleksitas masyarakat dewasa ini, seperti masalah jumlah penduduk, kebutuhan akan tenaga kerja, masalah lingkungan, dan adanya keterbatasan sumber daya alam. Hal tersebut antara lain dikemukakan Banghart dan Trull (1973:5) dalam bukunya yang menyatakan bahwa: “The need for planning arose with the intensified complexcities of modern technological society. Problems such as population, manpower needs, ecology, decreasing natural resources and haphazard aplication of scientific developments all place demand on educational institutions for solution” yang artinya kebutuhan untuk perencanaan muncul dengan kompleksitas yang semakin meningkat dari masyarakat teknologi modern. Masalah seperti populasi, kebutuhan tenaga kerja, ekologi, penurunan sumber daya alam dan aplikasi yang serampangan dari perkembangan ilmiah semua menempatkan permintaan pada lembaga pendidikan sebagai solusi.

B.       Saran


DAFTAR PUSTAKA

Rohiat. 2012. Manajemen Sekolah: teori dasar dan praktik. PT. Redika Aditama. Bandung.
Somantri, Manap. 2014. Perencanaan Pendidikan. PT Penerbit IPB Press. Kampus IPB Taman Kencana.
Sonhadji, A. & Huda, M. 2015. Asesmen Kebutuhan, Pengambilan Keputusan dan Perencanaan – Matarantai dalam Manajemen Pendidikan. Universitas Negeri Malang.


Comments