ASESMEN
KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN PENDIDIKAN JENJANG SEKOLAH MENENGAH
(SMA DAN SMK)
(SMA DAN SMK)
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan
Pendidikan
Dosen Pengasuh : Drs.
Sulaiman, M.Pd., Ph.D
![]() |
Oleh :
ANNISA MAULIDA (1720111320005)
RAMANG (1720111310026)
RIZKI AMALIA (1720111320028)
PROGRAM
MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
2018
Kata
Pengantar
Dengan
memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Taufiq
dan Hidayah, sehingga penulis dapat menyusun salah satu tugas mata kuliah Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan.
Tugas yang kami susun ini membahas tentang Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan pada jenjang Sekolah
Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan.
Tentu saja tugas yang kami paparkan ini masih banyak terdapat
kekurangan-kekurangannya di sana sini, baik yang menyangkut isi nya, tata
bahasanya maupun sistematikanya. Oleh karena itulah, kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang sifatnya membangun guna perbaikan selanjutnya sangat kami nantikan pada
saat presentasi nanti.
Dengan telah selesainya penyusunan makalah ini
dan masukan-masukan yang sifatnya membangun
pada saat presentasi nanti, sebelum dan sesudahnya penulis haturkan terima
kasih kepada:
1.
Bapak Drs. Sulaiman, M.Pd., Ph.D. selaku Dosen pembimbing mata kuliah Asesmen
Kebutuhan dan Perencanaan Pendidikan.
2.
Rekan – rekan mahasiswa(i) Program Magister Manajemen Pendidikan Angkatan 2017
Semoga makalah ini
ada manfaatnya bagi kita semua Amin Ya Rabbal
alamin.
.
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang........................................................................................ 1
1.2 RumusanMasalah.................................................................................... 1
1.3 Batasan Masalah..................................................................................... 2
1.4 TujuanPenulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Asesmen Kebutuhan .............................................................................. 3
B. Perencanan Pendidikan........................................................................... 5
C. Contoh Asesmen Kebutuhan dan
Perencaan Pendidikan....................... 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...........................................................................................
3.2 Saran......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mayoritas
masyarakat memiliki keinginan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.
Keinginan tersebut selalu diupayakan melalui berbagai cara, salah satunya
adalah melalui pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu cara yang dipilih
untuk meraih kemajuan. Dengan kata lain, sekolah merupakan instrumen untuk
memajukan masyarakat.
Sementara
itu, dalam konteks muatan wajib yang diajarkan pada sekolah dasar dan menengah
di Indonesia sesuai dengan UU No.,20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan
Nasional meliputi hal-hal sebagai berikut: pendidikan agama, pendidikan
kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan
sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga,
keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.
Pendidikan
menengah berperan besar dalam mempersipakan peserta didik untuk melanjutkan ke
perguruan tinggi (bagi pendidikan menengah umum) dan untuk memasuki dunia kerja
(bagi pendidikan menengah kejuruan). Dewasa ini kita dihadapkan pada kebutuhan
untuk mempersiapkan generasi muda dalam masyarakat yang berteknologi tinggi,
dan satu segi kita dihadapkan pada hal-hal yang terkai dengan masalah moral,
karakter, budaya, dan masalah lainnya.
Sekolah
hendaknya menentukan prioritas yang dapat membekali siswa dengan pondasi ilmu
pengetahuan, logika, dan moral dasar masyarakat yang kokoh. Oleh karena itu,
tiap-tiap sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah, harus melakukan asesmen
kebutuhan dan perencanaan yang matang, agar dapat memberikan kompetensi dasar
yang sesuai bagi peserta didik untuk kehidupan saat ini dan masa yang akan
datang.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
cakupan materi yang terdapat pada makalah ini adalah:
1. Apa
dan bagaimana asesmen kebutuhan yang terdapat pada sekolah?
2. Bagaimana
perencanaan yang baik dilakukan oleh sekolah terhadap asesmen kebutuhan?
3. Bagaimana
contoh rencana strategis pengembangan sekolah (SMA/SMK)?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam
makalah ini adalah:
1. Asesmen
kebutuhan pada sekolah
2. Perencaannya
pada sekolah
3. Contoh
rencana strategis pengembangan sekolah menengah
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan asesmen kebutuhan yang ada pada sekolah
2. Untuk
mengetahui bagaimana perencanaan pada sekolah terhadap asesmen kebutuhan yang
ada
3. Dapat
mengimplementasikan asesmen kebutuhan dan perencanaan pada sekolah setelah
mempelajari materi ini
4.
BAB II
ISI
ISI
A. ASESMEN
KEBUTUHAN PADA SEKOLAH
Dalam
bukunya Fundamentan of Curriculum
Decisions, Kaufman (1983) mengulas mengenai model-model utama asesmen
kebutuhan pada sekolah. Kaufman juga membahas perbedaan antara asesmen kebutuhan
dan evaluasi serta menekankan bahwa asesmen kebutuhan hendaknya dilaksanakan
ketika terdapat kerisausan mengenai “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya
ada”.
Patterson
dan Czajkowski (1976) juga mengembangkan model untuk asesmen kebutuhan di sekolah
yang dapat dipertimbangkan penerapannya di Indonesia. Model ini merupakan model
kesenjangan kebutuhan untuk menentukan “apa yang ada” dan “apa yang harusnya
ada”. Di bawah ini merupakan kerangka model beserta langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam praktik asesmen kebutuhan pada sekolah. Langkah-langkah
tersebut adalah berikut ini.
1. Mengembangkan
rencana kerja:
a. Membentuk
komite asismen
b. Mencapai
kesepakatan tentang strategis selanjutnya
2. Menyusun
Tujuan (Goal):
a. Menggunakan
daftar “apa yang ada saat ini”
b. Mencapai
konsensus antara kelompok representatif
c. Mendapatkan
goal dari komite asismen
3. Validasi
Tujuan:
a. Menggunakan
struktur komite
b. Mengadakan
survei tertulis
c. Mengadakan
wawancara terstruktur
4. Skala
prioritas tujuan:
a. Memilih
butir yang dianggap paling penting
b. Mencari
butir yang paling penting sampai dengan yang paling tidak penting
c. Mengurutkan
butir berdasarkan priorotas
5. Mempersiapkan
indikator kinerja:
a. Mempertimbangkan
tujuan yang dikembangkan secara komersial
b. Memanfaatkan
keahlian profesional
c. Mengembangkan
harapan masyarakat
6. Mengidentifikasi
alat asesmen:
a. Menggunakan
instrumen yang sudah disiapkan secara komersial
b. Mengembangkan
instrumen secar amandiri
c. Menggunakan
observasi, wawancara dan sebagainya
7. Menentukan
tingkatan kriteria untuk tiap kelompok dan pengujian:
a. Menentukan
tingkatan yang diharapkan untuk tiap kelompok
b. Mengembangkan
tingkatan untuk pengujian kinerja
8. Pengumpulan
data:
a. Menentukan
nilai untuk tiap kelompok
b. Melakukan
pengujian pada populasi atau sampel
c. Mengumpulkan
data pendukung
9. Analisis
data untuk mencari kesenjangan:
a. Membandingkan
kinerja dengan harapan
10. Menentukan
kemungkinan alasan terhadap adanya kesenjangan:
a. Mengevaluasi
faktor lain yang mempengaruhi kinerja
b. Memeriksa
kembali harapan yang dicanangkan
c. Melaksanakan
anilisis secara mendalam
Model tersebut dapat diadaptasikan sebagai
langkah-langkah dasar untuk melaksanakan asesmen kebutuhan untuk tiap-tiap
sekolah. Pada tahap pengembangan rencana kerja (tahap pertama) asesor dapat
mendiskusikan ide mengenai perlu tidaknya dilakukan asesmen kebutuhan dengan
para staf, komite evaluasi, dan warga sekolah yang relevan. Selanjutnya, pada
langkah kedua, informasi yang berisikan tujuan-tujuan sekolah hendaknya
dikirimkan ke orang tua/wali murid seta masyarakat di sekitar sekolah.
Nantinya, mereka akan memilih tiga tujuan yang dirasa paling penting dan tiga
tujuan yang dirasa paling tidak penting, untuk mengetahui bagaimana tujuan
akhir yang dicanangkan tersebut dari wawasan mereka. Kemudian, sekolah
mendesain atau mempersiapkan butir yang relevan untuk tiap-tiap tujuan umum.
Jika butir sudah ditentukan dan tujuan
umum yang dianggap sebagai prioritas utama sudah disepakati oleh orang tua
siswa atau masyarakat, maka sekolah dapat mulai menentukan instrumen yang
sesuai untuk melakukan asesmen kebutuhan. Instrumen yang dipergunakan untuk
menjaring data dapat dilakukan dengan wawancara, observasi, rekaman, kuesioner,
foto dan sebagainya. Apabila semuanya sudah siap, sekolah harus menentukan
standar nilai, baik untuk kinerja siswa di setiap kelas, kinerja kelompok dalam
kelas, maupun populasi lain. Hasil dari penilaian tersebut (apa yang ada)
nantinya dibandingkan dengan standar (apa yang diharapkan).
Dengan demikian, kesenjangan dapat dinilai
dan dibuktikan. Baru kemudian, perencanaan dapat dilakukan untuk mempersempit
atau bahkan meniadakan kesenjangan tersebut. Perlu dicatat bahwa sekolah
hendaknya tidak menurunkan standar nilai (apa yang diharapkan) dengan tujuan
untuk mempersempit kesenjangan yang ada, sebelum suatu strategi dapat
dikonkretkan.
B. PERENCANAAN
PADA SEKOLAH
Asesmen
kebutuhan saja tidak akan banyak berguna bagi suatu sekolah, apabila tidak
diikuti dengan perencanaan untuk perbaikan atau setidaknya untuk mempersempit
kesenjangan antara apa yang ada dengan apa yang diharapkan. Patterson dan Czajkowski
(1980) mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian, sekolah yang sangat serius
mengoordinasikan perubahan kurikulum, pengembangan sumber daya manusia, dan
evaluasi programnya berdasarkan asesmen kebutuhan serta perencanaan, sekolah
tersebut lebih berpotensi untuk sukses.
Perencanaan
merupakan suatu proyeksi tentang apa yang harus dilaksanakan guna mencapai
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan (Kaufman 1972; Hadikumoro 1980).
Sebagai suatu proyeksi, perencanaan memiliki unsur kegiatan mengidentifikasi,
menginventarisasi dan menyeleksi kebutuhan berdasarkan skala prioritas,
mengadakan spesifikasi yang lebih rinci mengenai hasil yang akan dicapai,
mengidentifikasi persyaratan atau kriteria untuk memenuhi setiap kebutuhan,
serta mengidentifikasi kemungkinan alternatif, strategi, dan sasaran bagi
pelaksanaannya. Kebutuhan terhadap perencanaan pendidikan diakibatkan oleh
adanya kompleksitas masyarakat dewasa ini, seperti masalah jumlah penduduk,
kebutuhan akan tenaga kerja, masalah lingkungan, dan adanya keterbatasan sumber
daya alam. Hal tersebut antara lain dikemukakan Banghart dan Trull (1973:5)
dalam bukunya yang menyatakan bahwa: “The
need for planning arose with the intensified complexcities of modern
technological society. Problems such as population, manpower needs, ecology,
decreasing natural resources and haphazard aplication of scientific
developments all place demand on educational institutions for solution”
yang artinya kebutuhan untuk perencanaan muncul dengan kompleksitas
yang semakin meningkat dari masyarakat teknologi modern. Masalah seperti
populasi, kebutuhan tenaga kerja, ekologi, penurunan sumber daya alam dan
aplikasi yang serampangan dari perkembangan ilmiah semua menempatkan permintaan
pada lembaga pendidikan sebagai solusi.
Perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
menggerakkan atau memimpin (actuating atau leading),
dan pengendalian (controlling) merupakan fungsi-fungsi yang harus
dijalankan dalam proses manajemen. Jika digambarkan dalam sebuah siklus,
perencanaan merupakan langkah pertama dari keseluruhan proses manajemen
tersebut. Perencanaan dapat dikatakan sebagai fungsi terpenting diantara
fungsi-fungsi manajemen lainnya. Apapun yang dilakukan berikutnya dalam proses
manajemen bermula dari perencanaan. Daft (1988:100) menyatakan: “When
planning is done well, the other management functions can be done well.”
Perencanaan pada intinya merupakan upaya pendefinisian kemana
sebuah organisasi akan menuju di masa depan dan bagaimana sampai pada tujuan
itu. Dengan kata lain, perencanaan berarti pendefinisian tujuan yang akan
dicapai oleh organisasi dan pembuatan keputuan mengenai tugas-tugas dan
penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Sedangkan
rencana (plan) adalah hasil dari proses perencenaan yang berupa sebuah
cetak biru (blueprint) mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan,
jadwal, dan tindakan-tindakan lain yang diperlukan dalam rangka pencapaian
tujuan.
Dalam pengertian tersebut, tujuan dan alokasi sumber daya
merupakan dua kata kunci dalam sebuah rencana. Tujuan (goal) dapat
diartikan sebagai kondisi masa depan yang ingin diwujudkan oleh organisasi.
Dalam organisasi, tujuan ini terdiri dari beberapa jenis dan tingkatan. Tujuan
pada tingkat yang tertinggi disebut dengan tujuan strategis (strategic goal),
kemudian berturut-turut di bawahnya dijabarkan menjadi tujuan taktis (tactical
objective) kemudian tujuan operasional (operational objective).
Tujuan strategis merupakan tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang,
sedangkan tujuan taktis dan tujuan operasional adalah tujuan jangka pendek yang
berupa sasaran-sasaran yang terukur.
Dalam organisasi sekolah, tujuan strategis merupakan tujuan
tertinggi yang akan dicapai pada tingkat sekolah. Tujuan ini bersifat umum dan
biasanya tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan-tujuan taktis merupakan
tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh-oleh bagian-bagian utama organisasi
sekolah, misalnya bidang kurikulum, kesiswaan, atau kerja sama dengan
masyarakat. Untuk SMK tujuan-tujuan taktis ini dapat berupa tujuan-tujuan yang
harus dicapai pada tingkat jurusan atau program keahlian. Sedangkan tujuan
operasional merupakan tujuan yang harus dicapai pada bagian-bagian yang secara
struktur yang lebih rendah dari bagian-bagian utama sekolah tersebut. Tujuan
mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran, misalnya, dapat dikategorikan
sebagai tujuan operasional.
Masing-masing tingkatan tujuan tersebut terkait dengan proses
perencanaan. Tujuan strategis merupakan tujuan yang harus dicapai pada tingkat
rencana strategis (strategic plan). Tujuan taktis dan tujuan
operasional masing-masing merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai pada
rencana taktis (tactical plan) dan rencana operasional (operational
plan).
Perlu dicatat bahwa semua organisasi, apapun bentuknya, ada atau
diadakan atas dasar asumsi, keyakinan, sistem nilai dan mandat tertentu. Dalam
kaitannya dengan perencanaan, dasar-dasar keberadaan ini disebut dengan premis
organisasi. Secara formal permis-premis perencanaan itu biasanya disajikan
dalam bentuk rumusan visi, misi, dan nilai-nilai fundamental organisasi. Visi
dapat dipandang sebagai alasan atas keberadaan lembaga dan merupakan keadaan
“ideal” yang hendak dicapai oleh lembaga; sedangkan misi adalah tujuan utama
dan sasaran kinerja dari lembaga. Keduanya harus dirumuskan dalam kerangka
filosofis, keyakinan dan nilai-nilai dasar yang dianut oleh organisasi yang
bersangkutan dan digunakan sebagai konteks pengembangan dan evaluasi atas strategi
yang diinginkan. Premis-premis tersebut harus menjadi titik-tolak dalam
perencanaan. Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan yang tertuang dalam rencana
harus berada dalam kerangka premis-premis itu.
Perencanaan pengembangan sekolah (school development
planning) merupakan proses pengembangan sebuah rencana untuk meningkatkan
kinerja sebuah sekolah secara berkesinambungan. Perbedaan pokok rencana
pengembangan dengan rencana lainnya terletak pada tujuan. Sedangkan herarkhi
tujuan dan rencana sebagaimana telah diuraikan di atas juga berlaku dalam
rencana pengembangan. Tujuan yang akan dicapai dalam rencana pengembangan
merupakan hasil-hasil yang lebih baik dari apa yang selama ini telah dicapai
oleh sekolah. Rencana pengembangan sekolah disusun agar sekolah terus-menerus
meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu, selain didasarkan pada visi dan misi
sekolah, perencanaan pengembangan harus didasarkan atas pemahaman yang mendalam
tentang keberadaan dan kondisi sekolah pada saat rencana pengembangan itu
disusun. Pemahaman semacam ini dapat dilakukan melalui kajian dan telaah
mendalam terhadap kondisi internal maupun lingkungan eksternal dimana sekolah
itu berada.
Kerangka umum proses perencanaan pengembangan sekolah sebenarnya
dapat digambarkan sebagai sebuah siklus yang bergerak mengelilingi sebuah titik
pusat. Siklus itu terdiri dari empat langkah kunci: Telaah (Review)
atau evaluasi diri (self evaluation), Rancangan Strategi (StrategyDesign),
Implementasi (Implementation), dan evaluasi. Sedangkan titik pusatnya
terdiri dari: Visi, Misi, dan Tujuan.
Untuk mengoperasionalkan siklus tersebut, langkah-langkah dalam
proses perencanaan dapat diubah menjadi sejumlah pertanyaan pokok. Masing-masing
langkah dapat direpresentasikan dengan sebuah pertanyaan pokok yang dijabarkan
menjadi pertanyaan-pertanyaan khusus. Pertanyaan-pertanyaan khusus ini kemudian
digunakan untuk menentukan tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam
proses perencanaan pengembangan.
De Reche (1985) dalam Sunhadji dan Huda (2015) memaparkan siklus proses
perencanaan pada sekolah, seperti gambar dibawah ini

The
school
Developement
Planning
Cycle
Gambar 2.1 Siklus Proses Perencanaan
di Sekolah
Revie of Audit (Langkah
telaah atau audit) merupakan bagian dari asesmen untuk mengetahui kebutuhan,
yang dapat diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang
diharapkan.
Sementara
itu, perumusan dan perumusan kembali tujuan umum sekolah (definiton or redefiniton of whole school aims) diperlukan untuk
mengkaji ulang tujuan sekolah, berdasarkan hasil telaah atau audit.
Penyusunan
rencana pengembangan sekolah (establishment
of school development plan) adalah langkah selanjutnya yang berisi sasaran program dan
kegiatan untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Pada kenyataannya sebuah sekolah
yang termasuk dalam sekolah sekarang masih memiliki kekurangan baik di tinjau
dari output, proses maupun input sekolah. Kekurangan yang terdapat dalam tiap
indikator pada tiap-tiap aspek tersebut juga sangat bervariasi. Indikator dalam
aspek proses pendidikan seperti PBM, manajemen, dan kepemimpinan yang belum
memenuhi kriteria. Demikian juga pada aspek input sekolah seperti indikator
siswa, kurikulum, guru, kepala sekolah, tenaga pendukung, organisasi dan
administrasi, sarana dan prasarana (ruang kelas, laboratorium, ruang
multimedia, perpustakaan, ruang pimpinan, ruang guru, ruang TU, WC, dan
prasarana fasilitas pendukung lain seperti pembiayaan, lingkungan sekolah,
hubungan/kerjasama dan budaya sekolah. (Rohiat, 2012:41).
Kemudian dilanjutkan
dengan proses anggaran (budgetary
process) atau proses untuk menentukan seberapa besar pengeluaran yang
dibutuhkan.
Apabila
langkah-langkah tersebut dilakukan, implementasi rencana (implementation of plan) dapat dijalankan.
Pada
akhirnya, monitoring, evaluasi dan pelaporan (monitoring evaluation and reporting) merupakan langkah yang tidak
boleh dilupakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Langkah-langkah
tersebut membutuhkan 8 (delapan) unsur sebagai berikut.
1. Tim
Pengembangan
Kepala
sekolah memilih suatu tim yang terdiri dari guru dan unsur lain yang relevan
dan kompeten, untuk nantinya menjalankan proses perencanaan. Kepala sekolah
hendaknya memberikan waktu yang cukup untuk tim ini untuk mempelajari hasil
yang didapat dari asesmen kebutuhan, sekaligus untuk memikirkan cara
mengembangkan kondisi dari apa yang ada. Pada akhir fase pembentukan tim
pengembangan tersebut, hendaknya terbentuk suatu tim yang benar-benar mengerti
apa yang akan dihadapi serta apa yang diharapkan dari mereka.
2. Alasan
Perencanaan Program
Tugas
pertama tim pengembangan adalah untuk mencari alasan mendasar sebelum suatu
program dicanangkan.
3. Penyusunan
Tujuan dan Sasaran Program
Tim
sekolah memiliki dua tugas: (a) merumuskan tujuan (goals) dan sasaran program (program
objectives) sesuai dengan hasil asesmen kebutuhan; dan (b) menyempurnakan
tujuan dan sasaran program yang sudah ada, jika dirasa masih terlalu rasional
atau terlalu aplikatif.
4. Pemetaan
Program
English
(1978) dalam Sonhadji dan Huda (2015) menjelaskan bahwa pemetaan program merupakan
suatu teknik analitik untuk mengetahui seluk beluk suatu program (meliputi
ruang lingkup serta urutannya), sebagaimana nantinya dimaterilisasikan di
sekolah. Teknik ini dapat membantu menentukan seberapa sesuai program yang
direncanakan dengan tujuan umum yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, pemetaan
program juga memungkinkan sekolah untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan
untuk menjalankan program tersebut. Meskipun hal tersebut bersifat relatif,
dalam publikasinyua yang lain.
5. Asesmen
Perencanaan Program
Informasi
yang telah didapatkan oleh tim asesmen kebutuhan dan perencanaan sekolah
selanjutnya dibandingkan dengan informasi yang dikumpulkan melalui berbagai
teknik asesmen lain.
6. Panduan
Program
Agar
nantinya berjalan dengan efektif dan efesien, program yang direncanakan
hendaknya dipandu oleh suatu prosedur operasional standar, seperti (1) jadwal:
jadwal yang cukup fleksibel hendaknya dibuat sesuai dengan tujuan program yang
akan dijalankan; (2) fokus program: kepada para guru hendaknya dipaparkan isi
atau keterampilan yang spesifik serta memiliki landasan yang kuat; dan (3) implementasi
program: sambil bekerja dengan tim asesor dan perencana, para guru dapat
mencoba mengaplikasikan gagasan yang disarankan untuk perbaikan serta
menentukan keefektifannya.
7. Evolusi
Program
Brickel
(1969) dalam Sonhadji dan Huda (2015) memaparkan bahwa dalam proses
perencanaan, tiap program akan berevolusi secara lambat tetapi pasti.
8. Implementasi
dan Evaluasi Program
Fokus evaluasi
harus berkenaan dengan seberapa jauh program tersebut mencapai tujuan yang
ditetapkan. Analisis data yang dilakukan oleh kepala sekolah, para guru serta
tim asesor dan perencanaan dapat menentukan kekuatan, kelemahan, peluang, dan
tantangan suatu program, sehingga langkah berikutnya dapat ditentukan strategi
yang dipilih untuk mengimplementasikan suatu program yang sudah dievaluasi
sebelumnya.
C. CONTOH
ASESMEN KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN PADA SMK
Sebagai
lembaga pendidikan menengah, SMK mengemban misi sebagai berikut: (1)
melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar; (2) menyiapkan peserta didik untuk
menjadi aggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal
balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitarnya; dan (3)
mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja dan pendidikan yang
lebih tinggi. Misi ini mendasari perumusan tujuan dan visi sekolah bagi setiap
SMK.
Tujuan
SMK adalah: (1) meningkatkan kemampuan siswa untuk melanjutkan pada jenjang
pendidikan tinggi; (2) meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat
dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan
alam sekitarnya; dan (3) mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan
kerja serta mengembangkan sikap profesional.
Dengan
menganalisis nilai dan memperhatikan perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan dan
teknologi maka rumusan visi SMK harus mengandung keunggulan dengan indikator
sebagai berikut: (1) memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif; (2)
senantiasa memperhatikan kecenderungan perubahan lingkungan dan iptek; serta
(3) memperhatikan kecenderungan perubahan tuntutan masyarakat.
Tujuan
SMK yang didukung oleh rumusan visi keunggulan yang jelas membutuhkan sistem
perencanaan pendidikan di sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu perencanaan
strategik dan perencanaan operasional. Perencanaan strategik merupakan
perencanaan yang disusun berdasarkan skala prioritas sehingga berbagai
sumberdaya pendidikan yang dimiliki oleh sekolah dapat dimanfaatkan seefektif
dan seefesien mungkin. Sedangkan perencanaan operasional merupakan perencanaan
yang bersifat operasional sebagai pengembangan (penjabaran) yang lebih rinci
dari perencanaan strategik.
Baik
perencanaan strategik maupun perencanaan operasional pada prinsipnya harus
dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan penyelenggaraan proses belajar mengajar
di sekolah. Berbagai kebutuhan yang dimaksud mencakup: (1) layanan belajar
mengajar yang lebih kondusif; (2) kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan
yang memadai; (3) kualitas sumber daya manusia baik guru, tenaga administrasi
maupun siswa guna mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang
berkualitas; dan (4) pembaharuan kurikulum sesuai dengan kecenderungan perubahan
yang ada. Keempat hal itu menjadi persyaratan bagi perencanaan pendidikan yang
baik.
Sistem perencanaan
pendidikan yang didasari rumusan kelembagaan, visi keunggulan, dan
mengakomodasi mutu lulusannya sebagaimana yang diharapkan. Artinya, lulusan SMK
akan terserap ke dunia kerja atau ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika
dikatikan dengan stakeholder,
terserapnya lulusan SMK ke dunia kerja dan pendidikan tinggi, mengandung arti
bahwa lulusan SMK tersebut mempunyai relevansi dan memberikan kepuasan, karena
perolehan hasil belajar siswa selama di sekolah dapat didayagunakan secara
maksimal.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
bukunya Fundamentan of Curriculum
Decisions, Kaufman (1983) mengulas mengenai model-model utama asesmen
kebutuhan pada sekolah. Kaufman juga membahas perbedaan antara asesmen
kebutuhan dan evaluasi serta menekankan bahwa asesmen kebutuhan hendaknya
dilaksanakan ketika terdapat kerisausan mengenai “apa yang ada” dan “apa yang
seharusnya ada”.
Patterson
dan Czajkowski (1976) juga mengembangkan model untuk asesmen kebutuhan di
sekolah yang dapat dipertimbangkan penerapannya di Indonesia. Model ini
merupakan model kesenjangan kebutuhan untuk menentukan “apa yang ada” dan “apa
yang harusnya ada”. Di bawah ini merupakan kerangka model beserta
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktik asesmen kebutuhan pada
sekolah.
Perencanaan
merupakan suatu proyeksi tentang apa yang harus dilaksanakan guna mencapai
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan (Kaufman 1972; Hadikumoro 1980).
Sebagai suatu proyeksi, perencanaan memiliki unsur kegiatan mengidentifikasi,
menginventarisasi dan menyeleksi kebutuhan berdasarkan skala prioritas,
mengadakan spesifikasi yang lebih rinci mengenai hasil yang akan dicapai,
mengidentifikasi persyaratan atau kriteria untuk memenuhi setiap kebutuhan,
serta mengidentifikasi kemungkinan alternatif, strategi, dan sasaran bagi
pelaksanaannya. Kebutuhan terhadap perencanaan pendidikan diakibatkan oleh
adanya kompleksitas masyarakat dewasa ini, seperti masalah jumlah penduduk,
kebutuhan akan tenaga kerja, masalah lingkungan, dan adanya keterbatasan sumber
daya alam. Hal tersebut antara lain dikemukakan Banghart dan Trull (1973:5)
dalam bukunya yang menyatakan bahwa: “The
need for planning arose with the intensified complexcities of modern
technological society. Problems such as population, manpower needs, ecology,
decreasing natural resources and haphazard aplication of scientific
developments all place demand on educational institutions for solution”
yang artinya kebutuhan untuk perencanaan muncul dengan kompleksitas
yang semakin meningkat dari masyarakat teknologi modern. Masalah seperti
populasi, kebutuhan tenaga kerja, ekologi, penurunan sumber daya alam dan
aplikasi yang serampangan dari perkembangan ilmiah semua menempatkan permintaan
pada lembaga pendidikan sebagai solusi.
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Rohiat. 2012. Manajemen Sekolah: teori dasar dan praktik. PT. Redika Aditama.
Bandung.
Somantri, Manap. 2014. Perencanaan Pendidikan. PT Penerbit IPB
Press. Kampus IPB Taman Kencana.
Sonhadji, A. & Huda, M. 2015. Asesmen Kebutuhan, Pengambilan Keputusan dan
Perencanaan – Matarantai dalam Manajemen Pendidikan. Universitas Negeri
Malang.

Comments
Post a Comment