Cerpen obsesi sosok terindah (Mengagumimu dari jauh)



“Tumben lo semangat pulang sekolah kali ini”
“Kenapa? Ngga boleh yaa?”
“Boleh-boleh aja siih, tapi beda aja dari biasanya.. jangan-jangan lo lagi jatuh cinta yaa Na?”
“Kalau iya kenapa?”
“Idiiih Rina, lagi jatuh cinta kok ngga bilang-bilang siih sama aku”
“Ngga ah, ntar kalo kamu juga suka sama incaran aku gimana?”
“aduuh Rina.. sebegitu jahatkah aku sebagai sahabat kamu?”
“Hehehe.. cuman bercanda Mei..”
            Mereka berdua terdiam sejenak memikirkan apa topik yang akan dibicarakan lagi dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba Rina memecahkan kesunyian...
“Mei,, itu mei.. itu...”
“Apa? Siapa?”
“Itu,, cowok yang aku suka..”
“Mana? Yang pake CBR biru itu?”
“Iyaa.. itu..”
“Oooh.. itu namanya Andri, dia temennya Doni”
“Jadi kamu udah kenal dia?”
“Iyaa...”
“Ieeyh,.. Mei jahat.. kenapa punya temen sekeren itu ngga bilang-bilang siih sama aku”
“Kamu siih ngga minta kenalin.. hehehe”
            Sore itu, setelah Rina selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya, dia langsung pergi kerumah Mei yang ada disebelah rumahnya. Alasan pertama adalah untuk mengetahui siapa Andri sebenarnya.
“Tumben lo kesini.. kenapa? Nggak ada makanan yaa dirumah?”
“Sialan lu Mei,, gue neh tamu lo,, setidaknya hormatin dikit napa?”
“Males gue beri hormat sama tamu kayak lu.. ehehe”
“Eh, kapan Doni lu dateng?”
“Lah,, mau ngapain lu cari Doni?”
“Cuman mau tau tentang Andri..”
“Kalo itu siih, gue pun juga tau..”
“Trus? Dia gimana?”
“Andri tuuh orangnya pinter, beda banget ama lu yang punya otak sebesar biji salak!”
“trus,, udah punya pacar belom?”
“Setau gue siih, dia naksir sama ade gue..”
“ieeh.. Berarti ade lu Maho dong”
“Ahahah.. Sialan lu Rin! Mau gue ceritain ngga neh?”
“Makanya serius dong Mei, geu lagi semangat neh..”
“Ngga nyangka gue kalau lo bisa jatuh cinta juga”
“Ya.. iyalah.. gue kan normal.. nggak kaya lo.. hahaha”
“Ayoo.. mau ngomong apa? Ngga gue lanjutin neh..?”
“Eeeh.. nggak.. lanjutin dong..”

            Malam ini, Rina merasa sangat bahagia karena dia mengetahui dari Mei sahabatnya bahwa Andri adalah orang yang punya selera humor  satu tingkat dibawah dari Doni dan sangat jago karate juga memiliki otak yang bisa diandalkan. Sangat cocok dengan kriteria yang diharapkan Rina selama ini. Apalagi Mei bilang bahwa Andri belum pernah pacaran sebelumnya.
            Keesokan Harinya.. Rina yang kali ini pergi sekolah diantar sopir pribadinya mengajak Mei dan Doni ikut pergi sekolah bersamanya.
            Didalam perjalanan. Rina yang semakin mengagumi akan sosok Andri menanyakan banyak hal tentang nya kepada Doni.
“Jadi, kak Rina suka sama Andri?”
“Ssst.. jangan keras-keras.. ntar Mei tau”
“Gue udah tau dari kemaren dodooL..!”
“Lalu, kak Rina mau pacaran gitu sama Andri?”
“Nggak, Rina mau Andri jadi pembantunya..”
“Jangan bodoh Mei.. Dia mau gue jadiin sopir pribadi gue”
“Aduuh.. yang bener mana nieh ? Kak Mei atau Kak Rina?”
“Udaah,, yang penting lo cari cara aja, supaya Andri bisa deket sama gue”
“Dapet gaji nggak neh?”
“Niih.. ingus gue kalo lo berhasil buat dia jadi pacar Rina”
“Idiiih.. kakak sialan.. kenapa juga gue harus punya kakak kaya kak Mei”
“Siapa suruh lo lahir kedunia”
“Aduuuh.. kalian bisa diem ngga sieh..”
            Rina, Mei dan Doni bersekolah di SMA yang sama, hanya saja Rina dan Mei berada dikelas XI dan Doni baru berada dikelas X. Dikarenakan rumah mereka yang berdekatan, Rina dan Mei menjadi sahabat sejak mereka kecil. Sehingga mereka bertiga pun sudah seperti adik kakak, walaupun sebenarnya hanya Mei dan Doni yang punya ikatan darah adik-kakak.
            Di perempatan lorong menuju kelas, Rina dan Mei berpisah dengan Doni, karena wilayah kelas mereka yang berbeda. Tiba-tiba, Rina melihat sesosok bayang laki-laki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya, tersenyum manis saat berjalan didepannya. ANDRI.. !!!!
            Mei dan Doni yang menyadari kalau Rina gugup melihat Andri langsung bertindak untuk membuat Mei seperti mati berdiri.
“Ndri, sebentar dong, ada yang mau gue kenalin sama lu”
“Siapa?”
“Nggak usah banyak tanya, ikutin gue aja”
            Doni langsung berjalan kembali menuju Rina dan Kakaknya yang masih berada diperempatan jalan. Seketika wajah Rina berubah menjadi pusat pasi, takut bercampur bahagia.
“Nah Ndri, kenalin ini kakak gue, namanya Mei, nama lengkapnya Meriang, tapi karena pengen keren, makanya dipanggil Mei” Dengan menepuk bahu kakaknya Doni tertawa dengan bangga.
“Gue udah kenal kali sama kak Mei, cuman gue baru tau kalau nama kakak lu Meriang, gue kira dulu Meriam”
“Hahaha.. itu mah dulu, soalnya sekarang kan kentut nya udah nggak senyaring meriam lagi, makanya ganti nama menjadi Meriang”
            Untuk pertama kalinya, Rina tertawa seperti orang yang lagi sekarat, hampir seperti hanya bunyi angin kentut yang ditahan yang keluar dari mulutnya. Seketika Doni langsung melancarkan aksinya..
“Nah Ndre, selanjutnya, temen kakak gue. Kenal nggak lu?”
“Emmh,, kayaknya gue sering  liat deh”
            Mata Rina langsung terbelalak mendengar apa yang dikatakan Andri, apakah selama ini Andri juga sering memperhatikannya seperti dia memperhatikan Andri? Pikir Rina senang.
“Ya.iyalaaah lu sering liat dia ndre, secara, dia kan tukang jamu yang sering lewat muka rumah lo”
“Hahaha.. sialan lu Don, cewek kayak gini lu bilang tukang jamu”
“Trus apa dong?”
“Bibi jamu gendong”
“Sama aja bodoh!” Cetus Mei yang dari tadi ngakak mendengar omong kosong dari Doni dan Andre..
            Wajah Rina jadi memerah, antara menahan malu dan perasaan marah ingin menjitak Doni yang ada dihadapannya saat ini “Awass lu Don, pulang sekolah nanti, nggak bakal gue ijinin iduph lagi lu!” Teriak Rina dalam hati.
“Udah, ah Mei, ke kelas yukk.. tinggal 5 menit lagi bel bakalan bunyi” ucap Rina yang dari tadi hanya terdiam dan hampir tak bernafas melihat ulah mereka.
“Okee boss...”
            Dengan kissbye yang diberikan Mei kepada Doni dan dibalas Doni dengan tepukan dipantat kirinya, mereka pun saling melangkah meninggalkan perempatan jalan,, menuju ke kelas masing-masing.
            Pulang sekolah, Doni yang mempunyai firasat bakal nggak selamat kalau ikut Rina dan Mei, memutuskan untuk pulang ikut Andri. Sesampainya dirumah, Doni mengajak Andri untuk mampir sebentar di teras rumahnya yang dilengkapi dengan ring basket yang sekaligus menjadi sarang untuk burung-burung miskin yang tidak mempunyai rumah.
“Temen kakak lu tadi siapa?”
“Cewek..”
“Gue juga tau di cewek, maksud gue namanya siapa?”
“Napa lu? Naksir?”
“Bolehkan kalau gue naksir cewek..”
“Nggak..”
“Kenapa?”
“Gue nggak bakalan ngijinin temen kakak gue deket sama cowok maho kayak lu”
“Hahahaha.. sialan lu Don.. Gue waras tau!”
“Sejak kapan lu tobat? Perasaan, terakhir Lu muasin hasrat maho lu itu, waktu kita lomba karate ke Ja-Tim akhir bulan lalu kan? Waktu lu ngerayu pelatih dari tim musuh kita”
“Itu bukan ngerayu bodoh! Gue cuman mau tau aja, seberapa kuat pasukan musuh kita! Dan terbukti kan akhirnya gue menang”
“Gue kira waktu itu, lo bisa menang, karen pelatih mereka udah lo jadiin pacar.. hahaha”
            Pembicaraan mereka terhenti ketika sebuah mobi berwarna silver berhenti didepan rumah Doni dan dari dalam mobil keluar lah Mei, kakak Doni.
“Yaaah,, knpa lu nggak bilang-bilang siih kalo ada disini, kan gue bisa bilang gitu ke teman gue yang tadi”
“Bilangin lagi ajah, biar asik gitu nongkrong dikuburan siang-siang gini”
“Lu pikir rumah gue kuburan?”
“Becanda Don.. sensi banget siih lu.. dapet yah?”
“Iyyaa. Gue dapet makan siang, sate temen gue sendiri”
“Sialan lu Sumanto!”
            Kejadian hari ini benar-benar membuat Rina merasakan yang namanya jatuh cinta, wajar saja, karena terakhir dia jatuh cinta saat kelas 9 SMP. Itupun tidak seperti ini rasanya, karena saat itu dia jatuh cinta kepada cowok yang biasa-biasa saja, tidak seperti dengan Andri, cowok yang pas dengan kriteria yang dia inginkan selama ini.
            Dilain tempat, Andri yang merasakan sesuatu hal yang aneh saat bertemu teman kakaknya Doni disekolah tadi mencoba mencari tau siapa gerangan cewek itu sebenarnya. Setelah pulang dari rumah Doni, Andri mengetahui bahwa teman dari kakaknya Doni yang bertemu nya di sekolah tadi bernama Rina dan merupakan sahabat dari Mei sejak mereka masih kecil.

            Pagi itu, Rina semangat bangun pagi pada hari libur, entah karena apa penyebabnya, dikejutkan oleh bunyi sms masuk dari hapenya.
            Dari Mei ?? Huaalah.. ngapain tuu anak ngajak aku kerumahnya pagi-pagi gini? Haah.. Mei ngajak Lari pagi..? Kesembur setan apa sih tuu anak..? Diliriknya jam dinding yang ada dikamarnya. Pukul 05.42...
            Sekitar 2 menit kemudian Rina sudah ada didepan rumah Mei, betapa terkejutnya dia melihat ada sebuah motor berjeniskan CBR yang berwarna biru terprkir dengan gagahnya didekat ia berdiri sekarang.
            Pelan-pelan Rina melangkah memasuki rumah Mei, dan yang membuatnya seperti hampir mati berdiri lagi, saat melihat Andri yang sudah siap dengan perlengkapan karate nya duduk disebuah kursi yang berada disebelahnya.
“Hai..” sapa Andri dengan senyum khas nya yang membuat hati Rina seperi mendidih melihatnya.
“Haii juga”
“Kakak yang waktu itu sama kak Mei kan?”
“Eh iya..” Dengan cepat Rina menjawab pertanyaan Andri. Sambil mencari-cari dimana sebenarnya Mei dan Doni berada.
“Emm.. Mei nya mana yah?”
“Tadi, siap-siap. Katanya mau lari pagi sama kakak. Mungkin lagi ada di kamarnya”
            Setelah mendengar apa yang dikatakan Andri, Rina melangkah menuju kekamarnya Mei, tapi. Betapa terkejutnya Rina, saat sekali melangkah, Andri langsung mengatakan sesutu yang membuatnya seperti patung batu dipagi hari.
“Tunggu disini aja kak, sekalian temenin aku”
“eh, eee,, emh.. Iya deh..”
“duduk aja disini” sambil menepuk paha atasnya yang mengisyaratkan bahwa Andri ingin Rina duduk disitu.
“nggak ah..”
“hehee.. becanda kak..”
            8 menit kemudia, Mei dan Doni datang menghampiri mereka. Dengan wajah tanpa dosa karena telah mempersilakan tamunya menunggu hingga lumutan Mei dan Doni tersenyum memandang keduanya. Tanpa banyak basa basi mereka pun pergi meninggalkan rumah.
            Lari pagi kali ini membuat Rina seakan tidak merasa capek karena baru kali ini dia bisa bicara dengan Andri, walaupun hanya masalah ringan. Tapi itu sudah membuatnya cukup, dan lebih dari cukup. Kemudian Mei menceritakan sesuatu hal yang membuat Rina terkejut.
“Tadi, Andri bilang sama Doni mau minta nomor hape kamu..”
“Haaah.. yang bener?”
“Beneran..”
“Lalu?”
“Lalu dikasih Doni..”
            Rina benar-benar seperti dalam mimpi, dia sangat berharap kalau kali ini mimpinya akan menjadi kenyataan. Rina sangat inggin untuk bisa mendapatkan seorang pangeran seperti yang ia inginkan.
            Malam itu, Rina menunggu kedatangan telpon dan sms dari Andri. Tapi hingga pagi tiba handphone Rina tidak juga berbunyi.
            Pagi itu, seperti biasanya Rina pergi sekolah bersama dengan Mei dan Doni. Entah mengapa kali ini Mei dan Doni tampak sedih dan tidak seceria biasanya. Berkali-kali Rina menyakan apa penyebabnya, mereka tetap saja mengelak untuk menceritakan apa yang telah membuat mereka tampak murung.
            Selama disekolah, dari pertama masuk, istirahat hingga pulang sekolah, Rina mencari-cari sosok Andri, tapi entah mengapa dia tidak menemukan Andri.
            Pulang sekolah, Rina yang merasa ada suatu kejanggalan yang diperlihatkan Mei dan Doni juga dengan tidak hadirnya Andri kesekolah kali ini, membuat Rina memaksa Mei dan Doni untuk menceritakan ada apa dengan Andri sang pujaan hati nya itu.
“Kak, sebelumnya aku minta maaf dulu, kalau nggak berani kasih tau ini sama kakak sebelumnya”
“Iya, ngga papa Don, sebenarnya ada apa dengan Andri?”
“Kemaren, sepulang latihan karate, Andre ngajak aku kerumahnya. Sesampainya disana, aku melihat beberapa koper sudah dipersiapkan dan sewaktu aku kekamarnya, Andre bilang kalau jam 10.00 pagi ini pesawat yang ditumpanginya akan berangkat ke Belanda”
“Haaa? Maksud kamu....”
“Andri pindah kak, Dia terpaksa harus mengikuti kedua orang tuanya yang dipindah tugaskan ke Belanda. Dia juga bilang, mungkin ngga sempat pamitan sama kakak secara langsung”
“Jadi, Andri udah nggak tinggal disini? Andri udah pergi?”

            Seketika air mata jatuh dari mata Rina, Semua perasaan campur aduk dipikirannya. AKU JANJI AKAN LUPAIN KAMU, MEMANG AKU KAGUM AKAN SOSOK MU ITU, TAPI ITU SEMUA HANYALAH SEBUAH KEKAGUMAN, YANG APABILA KU BIARKAN BERTAMBAH. RASA ITU AKAN SEMAKIN MENYIKSAKU DAN MEMBUAT HATI KU TERAMAT SAKIT UNTUK MENAHAN SEMUANYA. TOH, PERCUMA JUGA KALAU SEANDAINYA AKU MASIH NYIMPEN RASA ITU SAMA KAMU!
            Andri, biarlah kamu menjadi kenangan dihati ini, walaupun hanya aku yang mengetahuinya.

Comments