Untitle



Cerpen hina 😂✌️:D

“Agil sayang.. kamu inget ngga besok tanggal berapa?”  Tanya Nely dengan suara yang terdengar sangat bahagia.
“10 Agustus kan?”
“100 untuk anda”
“Lalu, apa yang terjadi dengan 10 Agustus?”
“Agil.. kamu ini lupa atau pura-pura lupa siih.. besok itu kan Anniversary kita yg pertama” Jawab Nely dengan nada kesal.
“Yayaya.. aku baru inget hal itu. Lalu kamu mau apa?”
“Aku mau kita jalan-jalan besok. Jadi...”
“Maaf, Nely. Aku kayaknya ngga bisa nemenin kamu jalan-jalan besok deh. Lain kali aja yah. Aku sibuk” Potong Agil dengan nada ketus dan segera mematikan panggilan teleponnya.
...
1 New Message from : Nely
Agil.. aku sayang kamu.. aku ngerti kalau kamu sibuk..
Maafin aku tadi yah.. aku terlalu agresif sama kamu..
Sekali lagi, aku minta maaf..
Good Night My Love J
                Arrrrrrrrrrght.. semua pikiran sayang, benci, cinta dan bosan bertarung dibatin Agil. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa kalau Nely sudah tidak berarti apa-apa dihidupnya, tapi dia tetap saja tidak bisa melepaskan Nely. Sampai pada saat ini, semua pikiran itu menjadi satu tanpa ada satu jawaban pun yang bisa ia dapatkan.
...
                Nely masih menunggu balasan sms dari Agil, dengan terduduk lemas diteras rumahnya. Ia tersenyum memandang langit malam ini yang penuh dengan bintang. Nely kembali teringat akan sosok Agil yang telah menemaninya selama satu tahun ini, selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya saat Nely memerlukan.
                Tapi, dibalik semua itu, Nely juga menyadari kalau Agil bukan sosok sempurna seperti yang sering disebut-sebut orang lain padanya. Mungkin hanya Nely dan orang-orang terdekat Agil yang mengetahui semua kelemahan Agil dan mungkin pula hanya Nely lah yang dapat memberikan ketenangan saat Agil sedang galau dengan semua beban hidupnya. Tapi kali kini, Agil seperti ingin membuang jauh-jauh obat penawar hatinya itu.
                1 jam berlalu sejak sms tadi dikirim Nely, Agil tak juga membalas pesannya. Nely yang tau akan watak Agil yang sepertinya sedang banyak masalah itu segera mencari nama di kontak handphonenya “Agil”. Dengan cepat Nely menekan tombol berwarna hijau di keypad handphonenya. Betapa terkejutnya Nely saat mendengan kata-kata sang operator yang berbicara padanya “Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi”.
                Berkali-kali ia mencoba menghubungi Agil, tapi hasilnya tetap sama ‘nihil’. Tidak ada satu panggilan pun yang berhasil dijawab Agil, tapi terlebih dahulu dijawab oleh sang operator.
...
“Gil, cewek lo tuh” kata Dion, sahabat Agil yang dari tadi duduk bersebelahan dengannya.
“Biarin aja deh Di, aku lagi ngga mood ketemu dia” Jawab Agil dengan wajah kusut tanpa sentuhan setrika setahun penuh.
“Hey, kalian berantem?” Tanya Dion yang lebih mirip dengan pengintrogasian yang dilakukan oleh polisi kepada para penjahat.
“ngga”
“Lalu?”
“Gue bosen” Jawab Agil dengan ketus seraya pergi meninggalkan Dion.
                Nely yang melihat sikap aneh Agil pagi ini segera mempercepat langkahnya menuju kelas Agil. Sesampainya dipintu masuk kelas Agil, Nely sudah ditunggu oleh Dion yang ingin lebih jelas mendapat kabar tentang hubungan sahabatnya itu.
“Nel, lo ada masalah sama Agil?”
“Agil mana Di?” Tanya Nely tanpa memperdulikan pertanyaan Dion barusan.
“Gue ngga akan nemuin lo berdua sebelum lo cerita sama gue. Ada malah apaan sih?”
“Gue juga ngga tau. Tadi malam tiba-tiba saja sikap Agil mendadak dingin ke gue. Sudah gitu handphonenya dimatiin lagi” Ucap Nely tanpa bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.
                Tiba-tiba Dion teringat kata-kata Agil sebelum ia masuk kedalam ruang kelas ‘Gue Bosen’. Ya ampun, bodoh banget tuh cowok bisa bosen sama cewek cantik, supel dan pinter kayak Nely, teriak Dion didalam hatinya.
                Tak ingin membuat Nely semakin sakit dengan sikap sahabatnya itu, Dion lalu mengajak Nely untuk bicara dikantin sekolah.
“Gue akan bantuin lo Nel, lo tenang aja. Jangan sedih gitu ya” Ucap Dion menenangkan Nely yang dari tadi terlihat murung.
“Salah gue apa Di? Kenapa juga Agil bersikap dingin begitu sama gue. Padahal kan hari ini harusnya bisa bahagia dan seneng-seneng bareng sekaligus ngerayain Anniversary kita yang pertama”
“Mmm.. Jadi, kalian hari ini genap jadian setaun?” Tanya Dion dengan nada agak tidak percaya.
“Iya. Kenapa?” Tanya Nely bingung.
“Lo hebat Nel, baru kali ini Agil pacaran, dan ternyata kalian berdua bisa mempertahankannya selama satu tahun.”
“Maksud lo?” Tanya Nely heran.
“Hebat aja, lo bisa bertahan dengan sikap cuek Agil dan sikap keras kepalanya itu selama satu tahun”
                Nely terdiam mendengar kata-kata Dion tadi. Benar, semuanya benar. Nely bisa bertahan dengan sikap cuek dan keras kepalanya Agil selama 1 tahun. Hubungan ini pun juga merupakan hubungan yang dijalaninya dengan waktu terlama, 1 tahun.
...
                Pulang sekolah, Nely melangkah menuju gerbang sekolah sendirian. Tak ada Agil yang seperti biasa berada disampingnya dan menggandeng tangannya. Nely merasa begitu merindukan sosok Agil yang terakhir dilihatnya pagi tadi.
                Agil melihat sosok Nely berjalan menuju gerbang sekolah dengan tatapan yang kosong, ia merasa bersalah jika tidak bicara jujur dengan Nely. Tanpa pikir panjang dipercepatnya langkah menuju Nely yang sedang terdiam menunggu jemputan sopir pribadinya di depan sekolah.
“Nel..” sapa Agil dengan nada datar.
“Agil.. kamu..” Ucap Nely dengan penuh harap
“Maafin aku yaa Nel” Terdengar jelas sebuah penyesalah terlontar dimulut Agil.
“Maaf? Untuk apa?” Tanya Nely heran.
“Aku, aku bosen..  sama kamu.. Nel” Dengan memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan Agil berusaha menjelaskan kata-katanya.
“Bosen? Kenapa?” Ucap Nely setengah berteriak.
“Aku juga ngga tau, tapi,, aku ngga paham dengan semua perasaanku saat ini. Aku juga ngga bisa ngambil keputusan yang terbaik untuk kita saat ini.”
“Baik, aku paham keadaanmu Gil” Kata Nely dengan nada lemah karena permata-permata kecil itu telah pecah dan membasahi kedua pipinya.
“Nel..”
“Semudah itukah kamu bilang ke aku kalau kamu bosen Gil?”
“Nely.. maafin aku, aku juga ngga paham...”
“Aku ngga mau kamu ninggalin aku tanpa alasan. Aku akan beri kamu waktu 3 hari untuk tidak menghubungi aku dan saat itu kamu bisa berhubungan dengan siapa saja yang kamu mau. Jika menurut kamu waktu 3 hari itu tidak cukup, hari keempat kamu masih bisa ngga menghubungi aku, hingga satu minggu. Setelah seminggu berlalu, kamu bisa mutusin apa yang kamu inginkan. Agil..” Kata-kata tenang Nely terhenti karena bulir-bulir permata indah itu tak bias terbendung lagi oleh kedua matanya.
“Kamu, merelakan aku sama cewek lain selama 1 minggu?” Tanya Agil heran.
“Aku ngga merelakan kamu. Aku hanya ingin mengetahui cewek seperti apa yang sebenarnya kamu butuhin dihidup kamu. Toh, walaupun akhirnya kamu mutusin aku, itu sudah resiko kan, karena aku yang merencanakannya”
                Nely pergi meninggalkan Agil yang masih terdiam ditempatnya berdiri. Sesaat sebelum memasuki mobil, Nely memandang Agil dengan tatapan penuh makna dan senyum yang begitu manis. Agil memandangnya dengan perasaan tak mengerti.
...
                Sore harinya. Agil memutuskan untuk membuang semua pikiran yang tidak menentu di otaknya. Tepat pukul 16.00 Agil sudah berada dilapangan sepak bola sekolahnya yang terletak berdampingan dengan lapangan badminton.
 “Gimana Nely?” Tanya Dion yang entah sejak kapan berada disebelah Agil.
“Dia nyuruh gue cari cewek lain selama satu minggu ini” Kata Agil datar.
“Apa? Kalian putus?”
“Ngga” Jawab Agil lagi dengan nada acuh.
“Lalu.. gue ngga ngerti maksud lo apa”
“Nely nyuruh gue cari cewek lain, karena dia bilang. Dia pengen tau, cewek kayak apa yang sebenarnya bener-bener gue butuhin”
“Trus, kalo ntar lo udah dapet tuh cewek, gimana?” Tanya Dion yang masih sangat tidak paham dengan apa yang terjadi kepada kedua sahabatnya itu.
“Gue mutusin Nely, dan Nely bersedia dengan hal itu”
“Apa? Lo bodoh Gil.. bodoh banget!” Ucap Dion dengan nada kesal.
“Sudahlah, gue ngga mau buang-buang waktu” Jawab Agil sinis.
“Siapa incaran lo?” Tanya Dion berhati-hati.
“Ntuh, dipojok lapangan yang lagi megang raket” Ucap Agil seraya tersenyum.
“Rika?” Tanya Dion tak percaya.
“Youre right my bro”
“lo beneran gila gil”
...
                Entah apa yang ada dipikan Agil sore itu, antara sebuah penyesalan dan tantangan. Penyesalan karena baginya Nely sudah tidak mencintainya lagi dan merelakannya bersama cewek lain. Dan tantangan karena Nely hanya memberinya waktu satu minggu untuk mendapatkan cewek yang selama ini benar-benar ia butuhkan.
                Tanpa pikir panjang, sore itu juga Agil memutuskan untuk mendekati Rika, adik kelasnya yang sangat cantik dan terkenal banyak melebihi kelebihan.
...
                Semua orang yang menyaksikan keanehan yang terjadi di lapangan sore itu antara Agil dan Rika langsung bertanya-tanya hal apa yang terjadi hingga mengakibatkan Agil bersikap seperti itu dengan Rika. Berita kasak-kusuk tentang berakhirnya hubungan Agil dan Nely pun langsung menyebar dari mulut kemulut, pesan ke pesan, dan bahkan bak artis yang lagi naik daun dan berada diurutan teratas, berita berakhirnya hubungan Agil dan Nely menjadi topik terhangat disekolah itu selama beberapa hari.
...
Keesokan Harinya –Hari Kedua-
                Nely tersenyum melihat Agil dan Rika yang sedang belajar bersama diperpustakaan. Hal yang sering aku lakukan dulu dengannya gumam Nely. Senyum Nely berasa pahit saat itu, bukan karena hal yang biasa mereka lakukan itu dilakukan Agil kepada cewek lain, melainkan karena ternyata cewek yang dipilih Agil adalah Rika.
                Rika yang terkenal sangat banyak penggemarnya karena memiliki wajah yang cantik juga prestasinya dibidang olahraga dan modeling yang terbilang bagus, tak terlupakan juga laki-laki yang dikabarkan pernah dekat dengan sang ratu itu adalah laki-laki yang tidak biasa, hampir dari semuanya adalah laki-laki yang tak kalah populer dengan Rika sendiri.
                Sebuah kecemasan tak bisa tertutupi oleh Nely. Apakah hal ini yang terbaik untuk dia lakukan, apakah ini yang terbaik yang dia pilih. Nely sangat takut akan kehilangan Agil, tapi semua telah terjadi. Keputusan yang ia katakan kemaren adalah keputusan yang mungkin terbaik untuk mereka berdua. Walaupun mungkin akhirnya Nely lah yang selalu harus mengalah untuk kebahagiaan Agil dengan orang lain, bukan dengan dirinya.
...
                Masih dihari yang sama, malam itu. Nely terdiam memandang photo dirinya dengan Agil dilayar handphone. Sekelebat bayang Agil memang tidak bisa dan takkan pernah bisa ia hilangklan dari pikirannya. Tapi, bayangan itu tiba-tiba menjadi aneh, dengan adanya kehadiran Rika yang terlihat sangat bahagia bersama Agil, begitu pula Agil yang terlihat bahagia bersama Rika.
                Air mata menetes dipipi Nely, tanpa ia sadari hal itu. Nely berusaha untuk tegar dan menghadapi keputusannya ini dengan tenang. Semua kepercayaan dirinya yang ia pikir hanya ia lah yang terbaik untuk Agil memudar dan hampir menghilang dengan adanya Rika yang selalu mendampingi Agil selama satu hari ini.
...
Hari Keempat –Minggu-
                Pagi ini, sesuai janji. Jika Agil sudah bisa membuat suatu keputusan, Agil akan menghubunginya dan mengatakan apa yang ia inginkan selama ini.
                Tapi, dari Nely bangun tidur hingga siang hari, tak ada satu pun sms dan telpon masuk dari Agil. Semua kesabaran itu usai, saat permata-permata indah itu kembali pecah tanpa diinginkan. Dengan cepat Nely mencari nama Dion dikontak HP nya.
“Hallo” ucap orang diseberang sana yang mengangkat telpon Nely.
“Emmb.. dion, gue ganggu lo ngga nih?” tanya Nely ragu.
“Ya engga lah Nel, kenapa sih? Tumben lo nelpon gue. Mau minta bantu ngerjain PR kimia yaa?” Tanya Dion dengan nada sombong dan tawanya yang meledak diakhir kalimat.
“Bukannya lo yang biasanya minta bantuin gue? Aduh Dion, udah gue ngga lagi becanda nih” Ucap Nely setengah memaksa.
“Iya.. iya.. sori.. ada apa Nel?”
“Lo tau ngga hari ini Agil kemana?” Tanya Nely dengan suara tertekan.
“Embb.. kayaknya jalan sama Rika deh Nel.. sori yaa Nel.. gue..”
“Tuuuut.. tuttttt.. tuuuuuuuuuuuuuuuutttttt”
                Belum selesai Dion menjelaskan kalimatnya, Nely langsung menutup telpon. Seperti mengetahui apa yang ingin dikatakan Dion kepadanya.
                Air mata Nely kembali menetes. Ternyata satu minggu, ucap Nely lirih disela tangis nya yang terisak-isak.
                Aku masih bertahan Gil, aku masih bertahan buat kamu. Aku masih yakin kamu itu untuk aku dan aku untuk kamu.  Walaupun kamu sering bosen sama aku, sering ngga ngasih kabar ke aku. Tapi aku tetap bisa bertahan dan selalu bertahan buat kamu Gil. Tekad Nely dalam hatinya.
...
Hari Ketujuh –Hari Terakhir-
                Nely sudah pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan semua keputusan Agil hari ini. Sejak hari kedua hingga keenam, Nely selalu melihat Agil begitu bahagia dengan adanya Rika. Selalu bersama, kemana-mana berdua dan terlihat sangat cocok dibanding kalau Agil harus dengan dirinya.
                Pagi itu, Nely berjalan dengan langkah yang lemah menuju ruang kelasnya. Sesaat ia menghentikan langkahnya didepan kelas Agil, tapi sosoknya tak terlihat. Hanya ada Dion dan segerombolan anak cowok lainnya yang terlihat didalam kelas.
                Selama satu hari ini, Agil seperti menghilang dari hadapan dan pandangan Nely. Sejak pagi hingga pulang sekolah Nely sama sekali tidak melihat Agil. Anehnya, hanya Agil yang menghilang. Berkali-kali hari ini Nely melihat Rika yang hanya berjalan sendirian di koridor sekolah. Tanpa ada Agil.
...
                Malam harinya, Nely terdiam di teras rumahnya menunggu sms ataupun telepon dari Agil. Jam dilayar handphonenya sudah menunjukkan pukul 21.30. tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di handphonenya. Hanya diam membisu seperti keheningan malam ini.
                Nely yang sudah pasrah dan putus asa dengan semua yang akan terjadi memutuskan untuk menenangkan dirinya sesaat untuk malam ini. Walaupun mungkin besok ia akan menerima kesakitan yang lebih dari ini.
                Aku sadar Gil, aku memang tidak sesempurna Rika. Aku hanyalah seorang perempuan yang sangat biasa dan mungkin tidak akan membuatmu bahagia. Aku rela jika harus mengalah untuk kebahagiaanmu. Walaupun aku yakin, aku tidak akan bahagia dengan orang lain selain kamu. Ucap Nely sebelum tidurnya malam ini.
...
                Sekitar pukul 23.30 Nely terbangun saat mendengan suara ringtone hanphonenya berbunyi. Seketika mata Nely langsung terbelalak melihat nama yang tertera dilayar handphonenya “My Love”. Agil !!!
“Hallo..” dengan berhati-hati Nely memulai bicara.
“Hallo.. Nely..” Ucap Agil setengah berbisik.
“Agil.. kamu kenapa?” Tak dapat Nely menyembunyikan kekhawatirannya mendengar suara Agil.
“Aku masih bisa berubah ngga?”
“Maksud kamu?” Tanya Nely heran.
“Aku sayang kamu Nel.. hanya kamu.. tidak akan ada yang lain selain kamu..”
“Agil sudah.. hentikan semua omong kosong mu..” jawab Nely dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes.
“Aku minta maaf Nel.. Aku sayang kamu, sungguh.. Aku cinta kamu” Ucap Agil meyakinkan.
“Kamu lebih pantas dengan Rika, bukan dengan aku”
“Kamu bodoh. Yang pantas untuk aku cuma kamu, dan yang pantas untuk kamu Cuma aku.”
                Hening.. Nely tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia teramat sangat menyayangi Agil, sangat mencintai Agil. Tapi sekarang, entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka. Nely merasa bersalah telah memaksa Agil mencari cewek terbaik untuk Agil saat ia mendengar kata-kata Agil kalau yang pantas untuk Agil hanya dirinya.
“Kamu takkan mendapatkan kebahagiaan jika bersama aku” Ucap Nely lirih.
“Itu bohong Nel, aku memang bahagia bersama Rika. Tapi, siapa yang berani menjamin aku bisa bahagia selama satu tahun penuh bersamanya nanti? Mungkinkah aku mendapatkan dukungan dan semangat saat aku hampir jatuh jika aku tidak bersama kamu? Mungkinkah aku akan merasa hidup aku lebih berarti jika tidak bersama kamu?”
                Suasana hening kembali. Permata-permata indah Nely kembali pecah mebasahi kedua pipinya. Kebahagiaan itu terasa begitu sangat indah setelah ia merasakan sebuah sakit yang teramat sakit.
“Nely.. bisakah aku memasuki kehidupan mu lagi? Bisakah aku berada disamping kamu lagi? Dan dapatkah aku merubah semua sikap egois ku selama ini?” Ucap Agil tenang.
“Agil.. kamu masih bisa berubah selama waktu masih ada bersama kamu. Kesempatan untuk kamu bersama aku selalu ada dan terbuka lebar selama aku masih bisa bersabar untuk menunggu kamu, walaupun saat itu kamu bersama orang yang sangat sempurna di dunia ini.”
...
Cerpen yang tak tersentuh sekitar 3 tahun. Entahlah apa yang ada dipikiran saat menulisnya -____-

Comments