Telaah Kurikulum Matematika dan Pengembangan Bahan Ajar Matematika SD/MI


A.      Hakikat Kurikulum
1.    Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum yang pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan  curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang hatus ditempuh oleh seorang pelari mulai start sampai finish untuk memperoleh medali tau penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah.
Pengertian kurikulum diatas dianggap pengertian yang sempit atau sederhana. Pengertian secara luasnya adalah kurikulum itu tidak hanya pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experience) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.
Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan atau persekolahan dinegara kita yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses belajar-mengajar. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum yang tertera dalam UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar”. Rencana atau pengaturan tersebut dituangkan dalam kurikulim tertulis yang disebut Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP). GBPP tersebut memuat komponen-komponen minimal yang mencakup tujuan yang ingin dicapai, konten atau materi yang kan disampaikan, strategi pembelajatran yang dapat dilakukan, atau evaluasi, bahkan tercakup pula distribusi materi dalam setiap semester atau caturwulan. Media pembelajaran, dan sumber-sumber rujukannya.
2.      Peranan dan Fungsi Kurikulum
Sudah diungkapkan bahwa peranan kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah itu sangatlah strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkan kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Menurut Hamalik (1990) peranan kurikulum dibagi menjadi :
(1)      Peranan Konservatif
Peranan konservatif menekankan bahwa kurikulum itu dapay dijadikan seabagi sarana untuk mentransmiskan nilai-nilai warisan budayamasa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam halini para siswa. Dengan demikian, peranan konservatif ini padahakikatnya menepatkan kurikulum yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses social. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai social yang hidup di lingkungan masyarakat.
(2)      Peranan Kreatif
Perkembangan IPTEK dan aspek-aspek lainnyasenantiasa terjadi setiap saat. Peranan kreatif menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai denga perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.


(3)      Peranan Kritis dan Evaluatif
Peranan ini dilatar belakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilali-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan sehingga pewarusan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Oleh karena itu peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budayayang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini kurikulum berpartisipasi dalam control atau filter social.

Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang dan harmoni agar dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang menyebabkan peranan kurikulum pendidikan menjadi tidak optimal.
Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses belajar-mengajar(PBM). Bagi Kepala Sekolah dan pengawas kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervise atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar dirumah. Bagi masyarakat, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Dan bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa, dalam literarur lain. Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum, yaitu :
1)   Fungsi Penyesuaian
Mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted, yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan sifat dinamis. Oleh karena itu siswa pun harus memilikikemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
2)   Fungsi Integrasi
Mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi denan masyarakat.
3)   Fungsi Diferensiasi
Menandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memilikli perbedaan, baik dari aspek fisik, maupun psikis, yang harus dihargai dan ndilayani dengan baik.
4)   Fungsi Persiapan
Menandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu kurikulum juga diharapkan mampu mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat sendainya ia karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5)   Fungsi Pemilihan
Mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memebrikan kesempatan kepaa siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sngat erat kaitannya dengan fungsi diferensiasi karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula dibernya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai denagn minat dan kemampuannya.



6)   Fungsi Diagnostik
Mengandung makna bahwa kurikulm sebagai alat pendidikan harusmampu membantu danmenogarshkan siswa untuk dapata mmahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudaj mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya maka diharapkan siswa dapat menembangkan sendiri potensi/kekuatan yang dimilkinya atau memperbaiki kelemahannya
3.      Komponen Kurikulum
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Kurikulum untuk suatu lembaga pendidikan tertentu pada umumnya sudah ada. Biasanya tugas para guru yaitu melaksanakan, membina, dan dalam batas-batas tertentu mengembangkannya.
Ralph W. Tyler (1975), dalam buku kecilnya menyajikan empat langkah pengembangan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jarus dijawab, baik dalam mengembangkan suatu kurikulum maupun pembelajaran. Pertanyaan-petanyaan tersebut adalah :
1)   What educational purpose should the school seek to attain?
2)   What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes?
3)   How can these educational experiences be effectively organized?
4)   How can we determine wether these purpose are being attained?
Pertanyaan pertama pada hakikatnya merupakan arah dari suatu program atau tujuan kurikulum, pertanyaan kedua berkenaan dengan isi/bahan ajar yang harus diberikan unttk mencapai tujuan, pertanyaan ketiga berkenaan dengan strategi pembelajaran, dan pertanyaan keempat berkenaan dengan penilaian pencapaian tujuan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam suatu kegiatan pengembangan kurikulum. Komponen-komponen itu tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling pengaruh mempengaruhi, berinteraksi dsatu sama lain dan membetuk suatu system.aspek-aspek yang harus dikembangkan adalah tujuan, isi/bahan, strategi pembelajaran, dan evaluasi.
a.    Komponen Tujuan
b.    Komponen Isi/Materi
c.    Aspek Strategi Pembelajaran
d.   Aspek Evaluasi

4.      Landasan Pengembangan Kurikulum
Sebuah bangunan membutuhkan landasan yang kuat agar dapat berdiri tegak, kokoh dan tahan lama. Jika tidak maka bangunan tersebut akan cepat ambruk dan hancur. Begitu juga dengan pengembangan kurikulum. Apabila landasan pendidikan/kurikulum tidak kuat dan kokoh maka yang dipertaruhkan adalah manusianya (peserta didik). Landasan kurikulum pada hakikatnya merupakan factor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.
Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu :
(1)      Landasan Filosofis
Landasan filosofis mengacu pada pentingnya filsafat dalam melaksanakan, membina, dan mengembangkan kurikulum di sekolah. Dalam pengertian umum, filsafat adalah cara berpikir yang radikal, menyeluruh, dan mendalam atau suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya (Socrates). Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landassan filosofis ini ditentuksn tujuan pendidikan nasional, tujuan nasional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.
(2)      Landasan Psikologis
Landasn psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar dan psikologi perkembangan. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang telah diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
(3)      Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Disamping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK.

B.       Profil Kurikulum Sekolah Dasar
1.    Perkembangan Kurikulum SD di Indonesia
Perkembangan kurikulum secara nasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan ditanah air dari dulu sampai sekarang. Sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Ini berarti, pendidikan secara formal telah ada sejak zaman itu dan tentu saja telah ada kurikulum yang dijadikan pedoman dalam menyelenggarakan pendidikan tersebut. Pada zaman kolonial Belanda, pelaksanaan pendidikan dan kurikulum sekolah diwarnai dengan kepentingan-kepentingan penjajah yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara menguras sumber alam dan sumber daya manusia. Pada zaman penjajahan Jepang, pendidikan kurikulum sekolah lebih diarahkan untuk membantu mereka menghadapi musuh-musuhnya dalam peperangan yang ganas.
Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945, bangsa Indonesia berada pada babak baru, pendidikan pun mulai mendapat perhatian dan menunjukkan perkembangan tersendiri. Pada masa orde lama (sekitar tahun 1959 sampai tahun 1965), sistem pendidikan berkembang sejalan dengan laju pembangunan pada masa itu, termasuk juga perkembangan kurikulum di sekolah-sekolah. Sejak tahun 1965 sampai sekarang, pelaksanaan pembangunan di indonesia berlangsung sangat cepat, begitu pula pembangunan bidang pendidikan. Upaya-upaya inovatif telah banyak dilakukan dan dukungan terhadap pendidikan semakin meningkat sejalan dengan kesadaran pihak pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan sumber daya manusia. Program pendidikan atau kurikulum lebih bannyak diarahkan guna menanggulangi masalah-masalah besar seperti masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan kualitas hasil pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan, perluasan kesempatan kerja, dan masalah-masalah besar lainnya. Sampai akhirnya pada saat sekarang ini, dimana zaman telah berubah begitu pesat, kurikulum sekolah diarahkan untuk mempersiapkan warga negara memasuki abad baru yang penuh dengan persaingan-persaingan global.
Adapun perkembangan kurikulum di Indonesia meliputi :
a)      Kurikulum SD sebelum tahun 1968
b)      Kurikulum SD tahun 1968
c)      Kurikulum SD tahun 1975
d)     Kurikulum SD tahun 1984
e)      Kurikulum SD tahun 1994

C.       Prosedur Pengembangan Kurikulum
Berdasarkan ruang lingkupnya, pengembangan kurikulum dapat dipilih menjadi dua bagian, yaitu pengembangan kurikulum makro dan pengembangan kurikulum mikro. Pengembangan kurikulum makro biasanya dilakukan oleh suatu tim pengembang yang ditunjuk secara khusus. Tim ini akan bekerja mengembangkan kurikulum pada tataran makro (kurikulum pendidikan secara umum sampai pada kurikulum bidang studi/GBPP). Sedangkan pengembangan kurikulum mikro dilakukan oleh guru, meliputi kegiatan perencanaan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi kegiatan pembelajaran.
1.      Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum
Langkah-langkah pengembangan kurikulum terdiri atas diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi.
a)      Analisis dan Diagnosis Kebutuhan
Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah. Pendekatan yang dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas. Survei kebutuhan merupakan cara yang relatif sederhana dalam menganalisis kebutuhan, studi kompetensi dilakukan dengan analisis terhadap kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan suatu jenis dan jenjang program pendidikan, dan analisis tugas merupakan cara yang lebih rumit dibandingkan pendekatan lainnya karena dilakukan dengan cara menganalisis setiap jenis tugas yang harus diselesaikan. Tugas-tugas itu bisa berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil akhir kegiatan analisis dan diagnosis kebutuhan ini adalah deskripsi kebutuhan sebagai bahan yang akan dijadikan masukan bagi langkah selanjutnya dalam pengembangan kurikulum yaitu perumusan tujuan.
b)      Perumusan Tujuan
Setelah kebutuhan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan. Tujuan-tujuan dalam kurikulum berhierarki, mulai dari tujuan yang paling umum (kompleks) sampai pada tujuan-tujuan yang lebih khusus dan operasional. Hierarki tujuan tersebut meliputi: tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, serta tujuan instruksional: tujuan instruksional umum dan tujuan instruktional khusus.
c)      Pemilihan dan Pengorganisasian Materi
            Dalam Handbook for Evaluating and Selecting Curriculum Materials, M.D. Gall (1981) mengemukakan sembilan tahap dalam pengembangan bahan kurikulum, yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan misi kurikulum, menentukan anggaran biaya, membentuk tim, mendapatkan susunan bahan, menganalisis bahan, menilai bahan, membuat keputusan adopsi, menyebarkan, mempergunakan, dan memonitor penggunaan bahan.
            Secara spesifik, yang dimaksud dengan materi kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Isi dari kegiatan pembelajaran tersebut adalah isi dari kurikulum. Isi atau bahan tersebut disusun dalam berbagai program pendidikan berdasarkan jenis dan jenjang sekolah, kemudian dikemas dalam berbagai bidang studi yang kemudian dijabarkan dalam pokok dan subpokok bahasan, yang secara lebih rinci disusun dalam bentuk bahan pengajaran dalam berbagai bentuknya. Tugas guru adalah mengembangkan bahan pelajaran tersebut berdasarkan tujuan instruksional yang telah disusun dan dirumuskan sebelumnya.           


d)     Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar
            Setelah materi kurikulum dipilih dan diorganisasikan, langkah selanjutnya adalah memilih dan mengorganisasikan pengalaman belajar. Cara pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapatdilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat nateri yang akan diberikan. Pengalaman belajar yang dipilih harus mencakup berbagai kegiatan mental-fisik yang menarik minat siswa, sesuai dengan tingkat perkembangannya, dan merangsang siswa untuk belajar aktif dan kreatif.
e)      Pengembangan Alat Evaluasi
            Pengembangan alat evaluasi dimaksudkan untuk menelaah kembali apakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Mc. Neil (1977) mengungkapkan ada dua hal yang perlu mendapatkan jawaban dari penilaian kurikulum, yaitu:
(1)     Apakah kegiatan-kegiatan yang dikembangkan dan diorganisasikan itu memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan, dan
(2)     Apakah kurikulum yang telah dikembangkan itu dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Setelah informasi/jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut diperoleh, langkah selanjutnya adalah memutuskan dan menetapkan bahwa kurikulum itu diberlakukan dan dilaksanakan.
Evaluasi kurikulum dapat dilakukan terhadap komponen-komponen kurikulum itu sendiri, evaluasi terhadap implementasi kurikulum, dan evaluasi terhadap hasil yang dicapai.
2.      Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum, antara lain prinsip berorientasi pada tujuaan, prinsip kontinuitas, prinsip fleksibilitas, dan prinsip integritas.
a)   Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Prinsip ini berkenaan bahwa setiap komponen yang dikembangkan dalam pengembangan kurikulum harus mengacu pada tujuan.
b)   Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antar berbagai jenis dan jenjang sekolah antar tingkatan kelas.
c)   Prinsip Fleksibilitas
Prinsip ini berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimilikiguru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.
d)  Prinsip Integritas
Prinsip ini berkenaan dengan kurikulum harus mampu membentuk manusia yang utuh. Untuk membentuk manusia yang utuh, kurikulum diharapkan dapat mengembangkan keterampilan hidup (life skills) yang meliputi:
1)   Keterampilan mengenal diri sendiri (self awareness) atau keterampilan personal (personal skill),
2)   Keterampilan berpikir rasional (thinking skill),
3)   Keterampilan sosial (social skill), dan
4)   Keterampilan akademik (academic skill), serta
5)   Keterampilan vokasional (vocational skill).

D.      Pengembangan Kurikulum di Indonesia
1.      Pengembangan Kurikulum di Indonesia
a.       Tahap Pengembangan Kurikulum
1)      Pengembangan Kurikulum pada Tahap Makro
Pada tahap ini, pengembangan kurikulum dikaji dalam lingkup nasional, baikuntuk pendidikan sekolah maupun diluar sekolah, baik secara vertical maupun horizontal dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional.

2)      Pengembangan Kurikulum pada Tahap Institusi
Pada tahap ini, kegiatan pengembangan kurikulum dilakukan disetiap lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah dasar.
3)      Pengembangan Kurikulum pada Tahap Mata Pelajaran
Pada tahap ini, pengembangan kurikulum diwujudkan dalam bentuk Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk masing-masing mata pelajaran yang dikembangkan disekolah dasar.
4)      Pengembangan Kurikulum pada Tahap Program Pengajaran
Tahap ini merupakan tahap pengembangan kurikulum secara mikro pada level kelas, dimana tugas pengembangan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang guru.
b.      Unsur-Unsur yang Terlibat dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam kegiatan pengembangan kurikulum, termasuk kurikulum sekolah dasar, tentu saja banyak pihak yang turut terlibat atau berpartisipasi. Dari sekian banyak pihak yang terlibat, maka yang secara terus-menerus terlibat dalam kegiatan pengembangan kurikulum, yaitu para administrator pendidikan, para ahli pendidikan dan ahli kurikulum, dan tentu saja para guru sebagai pelaksana kurikulum.

E.       Pengembangan Kurikulum untuk Abad Ke-21
1.    Kebutuhan Pendidikan di Abad Ke-21
a.    Kecenderungan-Kecenderungan di Abad Ke-21
Globalisasi merupakan suatu proses strukturisasi dunia sebagai suatu keseluruhan (structuration of the world as a whole) yang menghadirkan dua kecenderungan yang saling bertentangan sekaligus, yaitu proses penyeragaman (homogenization) dan pemberagaman (differentiation).
Dari beberapa literature diperoleh sejumlah keterangan bahwa kemunculan era globalisasi ini ditandai oleh hal-hal berikut.
1)   Meningkatnya interaksi antarwarga dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung
2)   Semakin banyak informasi yang tersedia dan dapat diperoleh.
3)   Meluasnya cakrawala intelektual
4)   Munculnya arus keterbukaan dan demokrasi baik dalam politik maupun ekonomi.
5)   Memanjangnya jarak budaya antar generasi tua dan muda.
6)   Meningkatkan kepedulian akan perlunya dijaga keseimbangan dunia.
7)   Meningkatnya kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis.
8)   Mengaburnya batas kedaulatan wilayah tertentu karena tidak terbendung informasi.
Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi maka globalisasi sebagai gejala mengerutnya dunia karena jarak jauh yang dapat ditempuh dalam waktu yang lebih pendek dan informasi dari segala penjuru dunia yang dapat diperoleh dalam waktu makin cepat.
Pada jaman yang cepat berubah ini, apabila kita tidak ingin kehilangan unsur budaya sebagai akar pendidikan kita harus mampu mengembangkan secara progresef yaitu dengan tidak berpandangan hidup sempit (local).
b.    Profil Lulusan Pendidikan di Abad Ke-21
1)   Empat Pilar Pendidikan
a)    Learning to know : pilar pertama ini merupakan kunci pendidikan sepanjang hayat.
b)   Learning to do : pilar kedua ini secara umum mentut penguasaan kompetensi.
c)    Learning to be : pilar ketiga ini yaitu belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri.
d)   Learning to live together : pilar keempat ini sebagai landasan pendidikan dari ketiga pilar sebelumnya.


2)   Kompetensi Lulusan Sekolah Dasar
Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan maka sekolah dasar di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupan dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, kompetensi akademik, kompetensi ekonomik dan kompetensi social pribadi.
Sekolah harus dipandang sebagai satu kesatuan system pendidikan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain.
Perkembangan terkini mengenai dunia kurikulum yang diterapkan di Negara kita ditandai dengan diberlakukannya penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), tamatan sekolah dasar harus mempunyai kemampuan berikut.
a)    Mengenali dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakini.
b)   Mengenali dan menjalankan hak dan kewajiban diri, beretos kerja, dan perduli terhadap lingkungan.
c)    Berpikir kogis, kritis dan kreatif.
d)   Menikmati dan menghargai keindahan.
e)    Membiasakan pola hidup sehat.
f)    Memiliki rasa cinta dan bangga terhadap tanah air.
2.    Model Kurikulum untuk Abad Ke-21
a.    Model-Model Kurikulum untuk Abad Ke-21
Adanya perubahan yang sangat menonjol sejalan dengan perkembangan yang terjadi, juga sebabgai upaya untuk mencari pendekatan pemecahan masalah pendidikan, khususnya masalah pengembangan kurikulum sekolah dasar yang lebih cocok diterapkan pada era sekarang dan masa datang. Di bawah ini, tiga model kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar masa depan.
1)   Model Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pada tahun 1970-an konsep pendidikan berdasarkan kompetensi (PBK) atau Competency-Based Education (CBE) mulai banyak digunakan di dunia pendidikan. Konsep tersebut semakin berkembang dengan adanya berbagai tuntutan yang harus dipenuhi oleh pendidikan, terutama yang berkaitan dengan persoalan akuntabilitas (pertanggung jawaban).
2)   Model Kurikulum Berbasis Masyarakat
Kurikulum berbasis masyarakat bisa dikembangkan baik dalam lingkup nasional, regional, maupun lingkup local oleh guru di sekolah. Ciri utama kurikulum berbasis masyarakat, yaitu keterkaitan berbagai komponen kurikulum dengan berbagai aspek dan dimensi kehidupan masyarakat, baik dalam bentuk proses pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai kurikulum, yaitu manusia yang memiliki kualitas yang diperlukan untuk pelestarian dan pengembangan kehidupan masyarakat.
Model kurikulum rekonstruksi social mengandung ciri-ciri sebagai berikut.
a)    Tujuan kurikulum diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Tujuan bisa berubah-ubah setiap waktu.
b)   Isi kurikulum adalah masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Isi dam proses dikemas sekaligus serta disusun bersma-sama.
c)    Guru dan siswa belajar bersama, guru membantu siswa menemukan minat/bakatkebutuhannya dan bersama siswa berusaha memecahkan masalah social yang dihadapi.
d)   Evaluasi diarahkan pada penilaian proses dan hasil kerja kelompok. Penilaian bersifat kualitatif.
3)   Model Kurikulum Konstruktivisti
Model kurikulum ini dilatarbelakangi oleh munculnya filsafat pengetahuan yang banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan (terutama sains dan matematika), yaitu filsafat konstruktivisme, aliran ini menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi (bentuk) manusoa.
Model kurikulum yang bercorak konstruktivistik dalam pelaksanaannya menerapkan beberapa prinsip sebagaimana dikemukakan oleh Cunningham, duffy, dan knuth (sulton,1998), yaitu sebagai berikut.
a)    Mengembangkan pengenalan melalui proses konstruksi pengetahuan.
b)   Mengembangkan pengalaman belajar yang memungkinkan apresisasi dan kaya akan berbagai alternative. 
c)    Mengintegrasi proses belajar dengan pengalaman yang nyata dan relevan.
d)   Memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan arah belajar mereka sendiri.
e)    Menanamkan belajar melalui pengalaman bersosialisasi.
f)    Mendorong penggunaan berbagai bentuk representasi.
g)   Mendorong peningkatan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan.

F.        Perancangan Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbale balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1.      Prinsip-Prinsip Merancang Pengalaman Belajar
Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila sebagai guru, Anda memiliki kemampuan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Untuk itu, Anda harus memiliki kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar secara terencana, sejalan dengan tujuan pembelajaran dan rentang waktu yang tersedia.
Berikut ini adalah beberapa prinsip yang perlu anda perhatikan dalam merancang pengalaman belajar siswa.
a.       Prinsip Mengaktifkan Siswa
Cara yang dapat dilakukan guru antara lain dengan menggunakan berbagai metode atau media pembelajaran yang tepat, yang dapat merangsang keterlibatan fisik dan psikis siswa.
b.      Prinsip Kesesuaian
Seorang siswa hendaknya tidak terlalu berharap untuk mendapatkan seorang guru yang benar-benar ideal sesuai dengan harapannya. Jangan sampai seorang anak mengabaikan sama sekali suatu mata pelajaran karena tidak senang pada seorang guru.
Bagi seorang guru membantu siswa dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, serta memeroleh perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan yang berebeda-beda.
c.       Prinsip Memberi Kepuasan
Pembelajaran yang dirancang diharapkan akan menjadi suatu kegiatan yang dapat memfasilitasi minat dan kebutuhan siswa. Suatu ikatan stimulus yang direspon akan terus berlanjut apabila individu yang belajar memeroleh dampak yang menyenangkan.
d.      Prinsip Pengalaman Belajar yang Sama Menimbulkan Hasil yang Berbeda
Yang penting disini adalah bagaimana guru dapat memberikan pengalaman yang sama untuk tiap siswa, walaupun ada perbedaan hasil belajar diantara siswanya.
e.       Prinsip Variasi Pengalaman Belajar
Kerucut pengalaman dari Edgar Dale, ada sebelas jenis pengalaman yang dapat divariasikan, yaitu (a) pengalaman langsung, (b) pengalaman melalui media tiruan, (c) pengalaman melalui dramatisasi, (d) pengalaman melalui demonstrasi, (e) pengalaman melalui karyawisata, (f) pengalaman melalui pameran, (g) pengalaman melalui televise, (h) pengalamn melalui gambar hidup, (i) pengalaman melalui rekaman, radio, gambar diam, (j) pengalaman melalui lambing visual, dan (k) pengalaman melalu lambing verbal.
2.      Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Merancang Kegiatan Pembelajaran
a.       Siswa
   Dalam merancang kegiatan pembelajaran guru harus mengetahui terlebih dahulu pengetahuan awal siswa. Pemahaman terhadap pengetahuan awal ini merupakan titik awal bagi guru untuk merancang kegiatan pembelajaran, baik yang menyangkut tujuan, materi, metode, dan evaluasinya.
b.      Kemampuan Guru
   Kemampuan guru bukan hanya terkait pada kemampuan mnegajar, tetapi juga terkait dengan banyaknya waktu yang tersedia oleh guru untuk mengajar.
c.       Tujuan Pembelajaran
   Komponen tujuan dalam kegiatan pembelajaran berperan sebagai arah untuk melaksanakan komponen lainnya.
d.      Sarana dan Prasarana
   Sarana dan prasarana pembelajaran khususnya ketika guru merancang suatu kegiatan pembelajaran yang memerlukan sarana penunjang yang khusus dan perlu dipersiapkan secara matang.
e.       Materi
   Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam merancang materi pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru diharapkan dapat menyajikan materi tersebut secara bervariasi sesuai dengan karakteristik masing-masing materi dan tentunya harus sesuai dengan TIK dan TIU mata pelajaran.
3.      Prosedur Umum Pembelajaran
a.       Pra-kegiatan Pembelajaran
     Pada tahap ini guru memelajarai kurikulum dan menguraikannya secara spesifik untuk setiap kegiatan pembelajaran.
b.      Kegiatan Awal
     Sebagai seorang guru, perlu melakukan kegiatan yang dapat menarik minat siswa untuk mau belajar.
c.       Kegiatan Inti
     Guru dapat menyajikan materi pelajaran dengan berbagai cara (metode) dan menggunakan berbagai media. Guru juga perlu melakukan asosiasi-asosiasi dan memaparkan data atau fakta-fakta yang dapat menjadi penguat bagi siswa untuk memahami apa yang telah diajarkan guru.
d.      Kegiatan Penutup
     Kegiatan penutup dalam suatu pembelajaran merupakan kegiatan generalisasi, artinya guru dapat menyimpulkan apa yang telah dipaparkan dalam kegiatan inti.
4.      Komponen-Komponen Kegiatan Pembelajaran
Komponen pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam perancangan kegiatan pembelajaran adalah metode mengajar, media pembelajaran, dan sumber belajar.
Metode pembelajaran adalah cara dalam menyajikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Media pembelajaran merupakan sarana yang membantu proses belajar siswa. Sedangkan, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan siswa untuk belajar.

G.      Pengembangan Rencana Pembelajaran
1.      Hakikat Pengembangan Rencana Pembelajaran
a.       Pengertian Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran merupakan kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu kegiatan pembelajaran, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, materi atau bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media atau alat apa yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses pembelajaran tersebut.
Adapun fungsi dari perencanaan pembelajaran dimaksudkan agar guru lebih siap dalam melaksanakan proses pembelajaran. Seorang guru yang baik akan senantiasa mengadakan persiapanterlebih dahulu, baik itu persiapan perencanaan yang tertulis maupun tidak tertulis.
b.      Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran
1)   Hakikat pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran pada hakikatnyaadalah proses sebab-akibat. Guru sebagai pengajar merupakan penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua perbuatan belajar siswa merupakan akibat dari guru yang mengajar. Oleh sebab itu, guru sebagai figur sentral harus mampu menetapkan strategi pembelajaran yang tepat sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif, produktif dan efisien.
Siswa sebagai peserta didik merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan siswa. Cara belajar ini dapat dilakukan dalam bentuk kelompok (klasikal) ataupun perorangan (individual). Oleh karena itu, guru dalam belajar haru memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan, dan cara belajar siswa.
Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah dilakukan.


2)    Hubungan kurikulum dalam pembelajaran
Hubungan antara kurikulum dan pembelajaran yang telah disepakati para ahli sebagai berikut.
a)   Antara kurikulum dan pembelajaran terdapat hubungan yang erat, tetapi masing-masing merupakan hal yang berbeda.
b)   Kurikulum dan pembelajaran saling terkait dan saling bergantung (interlooking dan interdependent).
c)   Kurikulum dan pembelajaran mungkin saja dipelajari dan dianalisis secara terpisah, tetapi masing-masing tidak dapat berfungsi sendiri.
c.       Karakteristik Rencana Pembelajaran
Adapun karakterisitik yang dapat dijadikan pertimbangan ketika kita menyusun suatu rencana pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
1.      Ditujukan untuk Siswa Belajar
Rencana pembelajaran yang disusun haruslah dibuat sesuai dengan tujuan serta kebutuhan siswa. Materi pelajaran yang diberikan haruslah sesuai degan tuntutan dan dalam rangka memnuhi kebutuhan siswa, perkembangan siswa, mengandung norma yang positif, serta memperhatikan minat dan perhatian siswa.
2.      Memiliki tahap-tahap
a)   Tahap persiapan
b)   Tahap pelaksanaan
c)   Tahap evaluasi
d)  Tahap tindak lanjut
3.      Sistematis
Rencana pembelajaran yang baik harus disusun secara sistematis, artinya perencanaan tersebut harus dimulai dari hal yang mudah terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan sesuatu yang harus mengikutinya.
4.      Pendekatan sistem
Pembelajaran harus dirancang sebagai suatuu sistem artinya pembelajaran itu terdiri atas komponen-komponen yang saling bekaitan dan saling memengaruhi.
5.      Didasarkan pada proses belajar manusia
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses belajar siswa sebagai pebelajar. Oleh karena itu, dalam melakukan perencanaan seorang guru harus mengutamakan pada proses belajar siswa itu sendiri sebagai manusia yang akan belajar.
d.      Model Pembelajaran
Banyak model yang digunakan untuk mengembangkan rencana pembelajaran, antara lain sebagai berikut.
1.      Model Banathy
Pengembangan pembelajaran menurut Banathy dapat dilakukan dalam enam langkah.
a)   Merumuskan Tujuan
b)   Mengembangkan Tes
c)   Menganalisis Kegiatan Belajar
d)  Mendesain Sistem Instruksional
e)   Melaksanakan Kegiatan dan Mengetes Hasil
f)    Mengadakan Perbaikan
2.      Model Kemp
Menurut Kemp model pengembangan terdiri dari delapan langkah, yaitu sebagai berikut.
a)   Menentukan tujuan pembelajaran umum
b)   Membuat analisis tentang karakteristik siswa
c)   Menentukan tujuan pembelajaran secara spesifik, operasional, dan terukur (TPK)
d)  Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai degan TPK
e)   Menentukan penjajakan awal (pre assessment)
f)    Menentukan strategi belajar-mengajar yang sesuai
g)   Mengkoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga
h)   Mengadakan evaluasi
3.      Model PPSI
Ada lima langkah menurut Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional, yaitu :
a)   Merumuskan tujuan instruksional, dalam hal ini TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
b)   Menyusun alat evaluasi
c)   Menentukan kegiatan belajar dan materi pembelajaran
d)  Merencanakan program kegiatan, dan
e)   Melaksanakan program
4.      Model Gerlach & Ely
Model pengembangan rencana pembelajaran menurut Gerlach & Ely disusun berdasarkan 10 unsur, yaitu:
a)   Spesifikasi isi pokok bahasan
b)   Spesifikasi tujuan pengajaran
c)   Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa
d)  Penentuan cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar
e)   Pengelompokkan siswa
f)    Penyediaan waktu
g)   Pengaturan ruang
h)   Pemilihan media
i)     Evaluasi
j)     Analisis umpan balik
2.      Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran
a.    Langkah-Langkah Umum Pengembangan Rencana Pembelajaran
Langkah-langkah umum pengembangan rencana pembelajaran, yaitu:
1)      Perumusan Tujuan
2)      Pengembangan Alat Evaluasi
3)      Perencanaan Materi Pembelajaran
4)      Perencanaan Kegiatan Pembelajaran

H.       Pengembangan Bahan Ajar Melalui Media dan Sumber Belajar
1.      Konsep Dasar Media Pembelajaran
a.       Pengertian Media Pembelajaran
     Pertama, NEA (1969) mengartikan media pembelajaran sebagai sarana komunikasi, baik dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk perangkat kerasnya.
     Kedua, Wibur Schramm (1977) mendefinisikan media pembelajaran sebagai teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.
     Ketiga, Miarso (1980) menegaskan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
     Jadi, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya.
     Secara sederhana, media pembelajaran dapat dipilih menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
1)      Media Visual
Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan.contoh dari media visual adalah, tabel, poster, foto, dan slide.
2)      Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar.
3)      Media Audiovisual
Media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau biasa disebut media pandang-dengar.
b.      Fungsi Media Pembelajaran
     Dalam pembelajaran, media memiliki banyak fungsi/kegunaan, antara lain untuk mengatasi berbagai hambatan proses komunikasi, sikap pasif siswa dalam belajar, dan mengatasi keterbatasan fisik kelas.
     Kegunaan media pembelajaran untuk mengatasi hambatan proses komunikasi antara lain untuk mengatasi verbalisme (ketergantungan untuk menggunakan kata-kata lisan dalam memberikan penjelasan), artinya dengan kata-kata lisan yang mungkin abstrak dapat digambarkan dan dibantu dengan penggunaan media sehingga verbalisme dapat diminimalkan atau bahkan ditiadakan.
     Berkaitan dengan keterbatasan fisik kels, media memiliki kegunaan untuk memerkecil objek yang terlalu besar, memerbesar objek yang terlalu kecil, menyederhanakan objek yang terlalu rumit, dan menggambarkan objek yang terlalu luas.
     Dalam mengatasi sikap pasif siswa, media pembelajaran juga memiliki berbagai kegunaan, antara lain menimbulkan kegairahan belajar, menarik perhatian, mendekatkan interaksi langsung dengan dunia nyata, memberikan perangsang yang sama untuk memersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.
2.      Konsep Dasar Sumber Belajar
a.       Pengertian Sumber Belajar
Berdasarkan paparan yang dikemukakan Association for Education and Commication Technology (AECT), sumber belajar diartikan sebagai semua sumber, baik berupa data, orang maupun wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.

b.      Fungsi Sumber Belajar
Kalau metode pembelajaran lebih sekadar sebagai media untuk menyampaikan pesan, sedangkan sumber belajar tidak hanya memilikii fungsi tersebut tetapi juga termasuk strategi, metode, dan tekniknya.
c.       Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemilihan Media dan Sumber Belajar
Untuk memeroleh hasil yang optimal, pemlihan media dan sumber belajar perlu memerhatikan hal-hal berikut ini.
1)   Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran memuat kompetesi yang diharapkan akan dimiliki siswa di akhir pembelajaran.
2)   Situasi Belajar
Jumlah siswa dan besar kecilnya kelas juga ikut menentukan pemilihan media dan sumber belajar.
3)   Kemudahan
Pilih media dan sumber belajar yang mudah diperoleh.
4)   Ekonomis
Pilih media pembelejaran yang ekonomis, dalam arti efektif dan efesien.
5)   Fleksibel
Dapat digunakan pada berbgaia mata pelajaran dan tujuan pembelajaran.
6)   Kepraktisan dan Kesederhanaan
Sebaiknya pilih media pembelajaran yang praktis dan sederhana penggunaannya.
7)   Kemampuan Guru
Jika seorang guru dapat menggunakan atau mendapatkan media dan sumber belajar secara mudah, berarti seoang guru tersebut tidak akan tergantung pada siapa pun.

Comments