A. Hakikat
Kurikulum
1. Pengertian
Kurikulum
Istilah
kurikulum yang pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere
(tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang hatus
ditempuh oleh seorang pelari mulai start sampai finish untuk memperoleh medali
tau penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia
pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang
siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah.
Pengertian
kurikulum diatas dianggap pengertian yang sempit atau sederhana. Pengertian
secara luasnya adalah kurikulum itu tidak hanya pada sejumlah mata pelajaran
saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experience) yang dialami siswa dan mempengaruhi
perkembangan pribadinya.
Pandangan
atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan atau persekolahan dinegara kita yaitu
kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses
belajar-mengajar. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum yang
tertera dalam UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional “Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
belajar-mengajar”. Rencana atau pengaturan tersebut dituangkan dalam kurikulim
tertulis yang disebut Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP). GBPP
tersebut memuat komponen-komponen minimal yang mencakup tujuan yang ingin
dicapai, konten atau materi yang kan disampaikan, strategi pembelajatran yang
dapat dilakukan, atau evaluasi, bahkan tercakup pula distribusi materi dalam
setiap semester atau caturwulan. Media pembelajaran, dan sumber-sumber
rujukannya.
2.
Peranan dan Fungsi Kurikulum
Sudah
diungkapkan bahwa peranan kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah itu
sangatlah strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum
memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses
pendidikan, bahkan kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak
terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Menurut Hamalik (1990) peranan
kurikulum dibagi menjadi :
(1) Peranan
Konservatif
Peranan
konservatif menekankan bahwa kurikulum itu dapay dijadikan seabagi sarana untuk
mentransmiskan nilai-nilai warisan budayamasa lalu yang dianggap masih relevan
dengan masa kini kepada generasi muda, dalam halini para siswa. Dengan
demikian, peranan konservatif ini padahakikatnya menepatkan kurikulum yang
berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar,
disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses
social. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku
siswa sesuai dengan nilai-nilai social yang hidup di lingkungan masyarakat.
(2) Peranan
Kreatif
Perkembangan
IPTEK dan aspek-aspek lainnyasenantiasa terjadi setiap saat. Peranan kreatif
menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai
denga perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa
sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat
membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk
memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan baru, serta cara berpikir
baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
(3) Peranan
Kritis dan Evaluatif
Peranan
ini dilatar belakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilali-nilai dan budaya yang
hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan sehingga pewarusan
nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi
yang terjadi pada masa sekarang. Oleh karena itu peranan kurikulum tidak hanya
mewariskan nilai dan budayayang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru
terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai budaya
serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini kurikulum
berpartisipasi dalam control atau filter social.
Ketiga
peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang dan harmoni agar
dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi
ketimpangan-ketimpangan yang menyebabkan peranan kurikulum pendidikan menjadi
tidak optimal.
Bagi
guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses
belajar-mengajar(PBM). Bagi Kepala Sekolah dan pengawas kurikulum berfungsi
sebagai pedoman dalam melaksanakan supervise atau pengawasan. Bagi orang tua,
kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar dirumah.
Bagi masyarakat, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan
bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Dan bagi siswa itu sendiri,
kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.
Berkaitan
dengan fungsi kurikulum bagi siswa, dalam literarur lain. Alexander Inglis
(dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum, yaitu :
1) Fungsi
Penyesuaian
Mengandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar
memiliki sifat well adjusted, yaitu
mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan social. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan sifat
dinamis. Oleh karena itu siswa pun harus memilikikemampuan untuk menyesuaikan
diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
2) Fungsi
Integrasi
Mengandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan
pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian
integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian
yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi denan masyarakat.
3) Fungsi
Diferensiasi
Menandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan
terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memilikli perbedaan, baik dari
aspek fisik, maupun psikis, yang harus dihargai dan ndilayani dengan baik.
4) Fungsi
Persiapan
Menandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk
melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu kurikulum juga
diharapkan mampu mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat
sendainya ia karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5) Fungsi
Pemilihan
Mengandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memebrikan kesempatan kepaa
siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan
minatnya. Fungsi pemilihan ini sngat erat kaitannya dengan fungsi diferensiasi
karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula dibernya
kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai denagn minat dan
kemampuannya.
6) Fungsi
Diagnostik
Mengandung makna
bahwa kurikulm sebagai alat pendidikan harusmampu membantu danmenogarshkan
siswa untuk dapata mmahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang
dimilikinya. Apabila siswa sudaj mampu memahami kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahannya maka diharapkan siswa dapat menembangkan sendiri
potensi/kekuatan yang dimilkinya atau memperbaiki kelemahannya
3.
Komponen Kurikulum
Pengembangan
kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam keseluruhan kegiatan
pendidikan. Kurikulum untuk suatu lembaga pendidikan tertentu pada umumnya
sudah ada. Biasanya tugas para guru yaitu melaksanakan, membina, dan dalam
batas-batas tertentu mengembangkannya.
Ralph
W. Tyler (1975), dalam buku kecilnya menyajikan empat langkah pengembangan
dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jarus dijawab, baik dalam
mengembangkan suatu kurikulum maupun pembelajaran. Pertanyaan-petanyaan
tersebut adalah :
1) What
educational purpose should the school seek to attain?
2) What
educational experiences can be provided that are likely to attain these
purposes?
3) How
can these educational experiences be effectively organized?
4) How
can we determine wether these purpose are being attained?
Pertanyaan
pertama pada hakikatnya merupakan arah dari suatu program atau tujuan
kurikulum, pertanyaan kedua berkenaan dengan isi/bahan ajar yang harus
diberikan unttk mencapai tujuan, pertanyaan ketiga berkenaan dengan strategi
pembelajaran, dan pertanyaan keempat berkenaan dengan penilaian pencapaian
tujuan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi komponen utama yang harus
dipenuhi dalam suatu kegiatan pengembangan kurikulum. Komponen-komponen itu
tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling pengaruh mempengaruhi, berinteraksi
dsatu sama lain dan membetuk suatu system.aspek-aspek yang harus dikembangkan
adalah tujuan, isi/bahan, strategi pembelajaran, dan evaluasi.
a. Komponen
Tujuan
b. Komponen
Isi/Materi
c. Aspek
Strategi Pembelajaran
d. Aspek
Evaluasi
4.
Landasan Pengembangan Kurikulum
Sebuah bangunan
membutuhkan landasan yang kuat agar dapat berdiri tegak, kokoh dan tahan lama.
Jika tidak maka bangunan tersebut akan cepat ambruk dan hancur. Begitu juga
dengan pengembangan kurikulum. Apabila landasan pendidikan/kurikulum tidak kuat
dan kokoh maka yang dipertaruhkan adalah manusianya (peserta didik). Landasan
kurikulum pada hakikatnya merupakan factor-faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan,
baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.
Secara umum
terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu
:
(1) Landasan
Filosofis
Landasan
filosofis mengacu pada pentingnya filsafat dalam melaksanakan, membina, dan
mengembangkan kurikulum di sekolah. Dalam pengertian umum, filsafat adalah cara
berpikir yang radikal, menyeluruh, dan mendalam atau suatu cara berpikir yang
mengupas sesuatu sedalam-dalamnya (Socrates). Filsafat ini menjadi landasan
utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya
bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang
berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang
berbeda pula. Berdasarkan landassan filosofis ini ditentuksn tujuan pendidikan
nasional, tujuan nasional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.
(2) Landasan
Psikologis
Landasn
psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar dan psikologi
perkembangan. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana
kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan
strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam
menentukan isi kurikulum yang telah diberikan kepada siswa agar tingkat
keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
(3) Landasan
Sosiologis
Landasan
sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam
pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma
yang berlaku dalam masyarakat. Disamping itu, keberhasilan suatu pendidikan
dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik
dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu
pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam
pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan
perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK.
B. Profil
Kurikulum Sekolah Dasar
1. Perkembangan
Kurikulum SD di Indonesia
Perkembangan
kurikulum secara nasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan
ditanah air dari dulu sampai sekarang. Sekolah atau lembaga pendidikan di
Indonesia telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Ini berarti, pendidikan
secara formal telah ada sejak zaman itu dan tentu saja telah ada kurikulum yang
dijadikan pedoman dalam menyelenggarakan pendidikan tersebut. Pada zaman
kolonial Belanda, pelaksanaan pendidikan dan kurikulum sekolah diwarnai dengan
kepentingan-kepentingan penjajah yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya
dengan cara menguras sumber alam dan sumber daya manusia. Pada zaman penjajahan
Jepang, pendidikan kurikulum sekolah lebih diarahkan untuk membantu mereka
menghadapi musuh-musuhnya dalam peperangan yang ganas.
Setelah
proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945, bangsa
Indonesia berada pada babak baru, pendidikan pun mulai mendapat perhatian dan
menunjukkan perkembangan tersendiri. Pada masa orde lama (sekitar tahun 1959
sampai tahun 1965), sistem pendidikan berkembang sejalan dengan laju pembangunan
pada masa itu, termasuk juga perkembangan kurikulum di sekolah-sekolah. Sejak
tahun 1965 sampai sekarang, pelaksanaan pembangunan di indonesia berlangsung
sangat cepat, begitu pula pembangunan bidang pendidikan. Upaya-upaya inovatif
telah banyak dilakukan dan dukungan terhadap pendidikan semakin meningkat
sejalan dengan kesadaran pihak pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan
sumber daya manusia. Program pendidikan atau kurikulum lebih bannyak diarahkan
guna menanggulangi masalah-masalah besar seperti masalah pemerataan kesempatan
memperoleh pendidikan, peningkatan kualitas hasil pendidikan, relevansi
pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan, perluasan kesempatan
kerja, dan masalah-masalah besar lainnya. Sampai akhirnya pada saat sekarang
ini, dimana zaman telah berubah begitu pesat, kurikulum sekolah diarahkan untuk
mempersiapkan warga negara memasuki abad baru yang penuh dengan
persaingan-persaingan global.
Adapun
perkembangan kurikulum di Indonesia meliputi :
a) Kurikulum
SD sebelum tahun 1968
b) Kurikulum
SD tahun 1968
c) Kurikulum
SD tahun 1975
d) Kurikulum
SD tahun 1984
e) Kurikulum
SD tahun 1994
C. Prosedur
Pengembangan Kurikulum
Berdasarkan ruang lingkupnya, pengembangan kurikulum
dapat dipilih menjadi dua bagian, yaitu pengembangan kurikulum makro dan
pengembangan kurikulum mikro. Pengembangan kurikulum makro biasanya dilakukan
oleh suatu tim pengembang yang ditunjuk secara khusus. Tim ini akan bekerja
mengembangkan kurikulum pada tataran makro (kurikulum pendidikan secara umum
sampai pada kurikulum bidang studi/GBPP). Sedangkan pengembangan kurikulum
mikro dilakukan oleh guru, meliputi kegiatan perencanaan, pengembangan,
implementasi, dan evaluasi kegiatan pembelajaran.
1. Langkah-Langkah
Pengembangan Kurikulum
Langkah-langkah
pengembangan kurikulum terdiri atas diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan,
pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian
pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi.
a) Analisis
dan Diagnosis Kebutuhan
Analisis dan
diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu kebutuhan
siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah.
Pendekatan yang dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan
analisis tugas. Survei kebutuhan merupakan cara yang relatif sederhana dalam
menganalisis kebutuhan, studi kompetensi dilakukan dengan analisis terhadap
kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan suatu jenis dan jenjang
program pendidikan, dan analisis tugas merupakan cara yang lebih rumit
dibandingkan pendekatan lainnya karena dilakukan dengan cara menganalisis
setiap jenis tugas yang harus diselesaikan. Tugas-tugas itu bisa berkaitan
dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil akhir kegiatan analisis
dan diagnosis kebutuhan ini adalah deskripsi kebutuhan sebagai bahan yang akan
dijadikan masukan bagi langkah selanjutnya dalam pengembangan kurikulum yaitu
perumusan tujuan.
b) Perumusan
Tujuan
Setelah
kebutuhan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan.
Tujuan-tujuan dalam kurikulum berhierarki, mulai dari tujuan yang paling umum
(kompleks) sampai pada tujuan-tujuan yang lebih khusus dan operasional.
Hierarki tujuan tersebut meliputi: tujuan pendidikan nasional, tujuan
institusional, tujuan kurikuler, serta tujuan instruksional: tujuan
instruksional umum dan tujuan instruktional khusus.
c) Pemilihan
dan Pengorganisasian Materi
Dalam Handbook for Evaluating and Selecting Curriculum Materials, M.D.
Gall (1981) mengemukakan sembilan tahap dalam pengembangan bahan kurikulum,
yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan misi kurikulum, menentukan anggaran
biaya, membentuk tim, mendapatkan susunan bahan, menganalisis bahan, menilai
bahan, membuat keputusan adopsi, menyebarkan, mempergunakan, dan memonitor
penggunaan bahan.
Secara spesifik, yang dimaksud
dengan materi kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada siswa dalam
kegiatan belajar mengajar. Isi dari kegiatan pembelajaran tersebut adalah isi
dari kurikulum. Isi atau bahan tersebut disusun dalam berbagai program
pendidikan berdasarkan jenis dan jenjang sekolah, kemudian dikemas dalam
berbagai bidang studi yang kemudian dijabarkan dalam pokok dan subpokok
bahasan, yang secara lebih rinci disusun dalam bentuk bahan pengajaran dalam
berbagai bentuknya. Tugas guru adalah mengembangkan bahan pelajaran tersebut
berdasarkan tujuan instruksional yang telah disusun dan dirumuskan sebelumnya.
d) Pemilihan
dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Setelah materi kurikulum dipilih dan
diorganisasikan, langkah selanjutnya adalah memilih dan mengorganisasikan
pengalaman belajar. Cara pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar
dapatdilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta
teknik yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat nateri yang akan diberikan.
Pengalaman belajar yang dipilih harus mencakup berbagai kegiatan mental-fisik
yang menarik minat siswa, sesuai dengan tingkat perkembangannya, dan merangsang
siswa untuk belajar aktif dan kreatif.
e) Pengembangan
Alat Evaluasi
Pengembangan alat evaluasi
dimaksudkan untuk menelaah kembali apakah kegiatan yang telah dilakukan itu
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Mc. Neil (1977) mengungkapkan ada
dua hal yang perlu mendapatkan jawaban dari penilaian kurikulum, yaitu:
(1)
Apakah kegiatan-kegiatan yang
dikembangkan dan diorganisasikan itu memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan
yang dicita-citakan, dan
(2)
Apakah kurikulum yang telah dikembangkan
itu dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Setelah
informasi/jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut diperoleh, langkah
selanjutnya adalah memutuskan dan menetapkan bahwa kurikulum itu diberlakukan
dan dilaksanakan.
Evaluasi
kurikulum dapat dilakukan terhadap komponen-komponen kurikulum itu sendiri,
evaluasi terhadap implementasi kurikulum, dan evaluasi terhadap hasil yang
dicapai.
2. Prinsip-Prinsip
Pengembangan Kurikulum
Ada
beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum,
antara lain prinsip berorientasi pada tujuaan, prinsip kontinuitas, prinsip fleksibilitas,
dan prinsip integritas.
a)
Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Prinsip
ini berkenaan bahwa setiap komponen yang dikembangkan dalam pengembangan
kurikulum harus mengacu pada tujuan.
b)
Prinsip Kontinuitas
Prinsip
ini berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antar berbagai jenis
dan jenjang sekolah antar tingkatan kelas.
c)
Prinsip Fleksibilitas
Prinsip
ini berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimilikiguru dalam
mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan
bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.
d)
Prinsip Integritas
Prinsip
ini berkenaan dengan kurikulum harus mampu membentuk manusia yang utuh. Untuk
membentuk manusia yang utuh, kurikulum diharapkan dapat mengembangkan
keterampilan hidup (life skills) yang meliputi:
1)
Keterampilan mengenal diri sendiri (self awareness) atau keterampilan
personal (personal skill),
2)
Keterampilan berpikir rasional (thinking skill),
3)
Keterampilan sosial (social skill), dan
4)
Keterampilan akademik (academic skill), serta
5)
Keterampilan vokasional (vocational skill).
D. Pengembangan
Kurikulum di Indonesia
1. Pengembangan
Kurikulum di Indonesia
a. Tahap
Pengembangan Kurikulum
1) Pengembangan
Kurikulum pada Tahap Makro
Pada
tahap ini, pengembangan kurikulum dikaji dalam lingkup nasional, baikuntuk
pendidikan sekolah maupun diluar sekolah, baik secara vertical maupun
horizontal dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional.
2) Pengembangan
Kurikulum pada Tahap Institusi
Pada
tahap ini, kegiatan pengembangan kurikulum dilakukan disetiap lembaga
pendidikan, dalam hal ini sekolah dasar.
3) Pengembangan
Kurikulum pada Tahap Mata Pelajaran
Pada
tahap ini, pengembangan kurikulum diwujudkan dalam bentuk Garis-garis Besar
Program Pengajaran (GBPP) untuk masing-masing mata pelajaran yang dikembangkan
disekolah dasar.
4) Pengembangan
Kurikulum pada Tahap Program Pengajaran
Tahap
ini merupakan tahap pengembangan kurikulum secara mikro pada level kelas,
dimana tugas pengembangan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang guru.
b. Unsur-Unsur
yang Terlibat dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam kegiatan
pengembangan kurikulum, termasuk kurikulum sekolah dasar, tentu saja banyak
pihak yang turut terlibat atau berpartisipasi. Dari sekian banyak pihak yang
terlibat, maka yang secara terus-menerus terlibat dalam kegiatan pengembangan
kurikulum, yaitu para administrator pendidikan, para ahli pendidikan dan ahli
kurikulum, dan tentu saja para guru sebagai pelaksana kurikulum.
E. Pengembangan
Kurikulum untuk Abad Ke-21
1. Kebutuhan
Pendidikan di Abad Ke-21
a. Kecenderungan-Kecenderungan
di Abad Ke-21
Globalisasi
merupakan suatu proses strukturisasi dunia sebagai suatu keseluruhan (structuration of the world as a whole)
yang menghadirkan dua kecenderungan yang saling bertentangan sekaligus, yaitu
proses penyeragaman (homogenization)
dan pemberagaman (differentiation).
Dari
beberapa literature diperoleh sejumlah keterangan bahwa kemunculan era
globalisasi ini ditandai oleh hal-hal berikut.
1) Meningkatnya
interaksi antarwarga dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung
2) Semakin
banyak informasi yang tersedia dan dapat diperoleh.
3) Meluasnya
cakrawala intelektual
4) Munculnya
arus keterbukaan dan demokrasi baik dalam politik maupun ekonomi.
5) Memanjangnya
jarak budaya antar generasi tua dan muda.
6) Meningkatkan
kepedulian akan perlunya dijaga keseimbangan dunia.
7) Meningkatnya
kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis.
8) Mengaburnya
batas kedaulatan wilayah tertentu karena tidak terbendung informasi.
Dengan
kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi maka globalisasi sebagai gejala
mengerutnya dunia karena jarak jauh yang dapat ditempuh dalam waktu yang lebih
pendek dan informasi dari segala penjuru dunia yang dapat diperoleh dalam waktu
makin cepat.
Pada
jaman yang cepat berubah ini, apabila kita tidak ingin kehilangan unsur budaya
sebagai akar pendidikan kita harus mampu mengembangkan secara progresef yaitu
dengan tidak berpandangan hidup sempit (local).
b. Profil
Lulusan Pendidikan di Abad Ke-21
1) Empat
Pilar Pendidikan
a)
Learning to know : pilar pertama ini
merupakan kunci pendidikan sepanjang hayat.
b) Learning
to do : pilar kedua ini secara umum mentut penguasaan kompetensi.
c) Learning
to be : pilar ketiga ini yaitu belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai
individu mandiri.
d) Learning
to live together : pilar keempat ini sebagai landasan pendidikan dari ketiga
pilar sebelumnya.
2) Kompetensi
Lulusan Sekolah Dasar
Dengan
memperhatikan empat pilar pendidikan maka sekolah dasar di Indonesia seharusnya
dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupan
dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, kompetensi akademik, kompetensi
ekonomik dan kompetensi social pribadi.
Sekolah harus
dipandang sebagai satu kesatuan system pendidikan yang terdiri atas sejumlah
komponen yang saling bergantung satu sama lain.
Perkembangan
terkini mengenai dunia kurikulum yang diterapkan di Negara kita ditandai dengan
diberlakukannya penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), tamatan sekolah
dasar harus mempunyai kemampuan berikut.
a) Mengenali
dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakini.
b) Mengenali
dan menjalankan hak dan kewajiban diri, beretos kerja, dan perduli terhadap
lingkungan.
c) Berpikir
kogis, kritis dan kreatif.
d) Menikmati
dan menghargai keindahan.
e) Membiasakan
pola hidup sehat.
f) Memiliki
rasa cinta dan bangga terhadap tanah air.
2. Model
Kurikulum untuk Abad Ke-21
a. Model-Model
Kurikulum untuk Abad Ke-21
Adanya
perubahan yang sangat menonjol sejalan dengan perkembangan yang terjadi, juga
sebabgai upaya untuk mencari pendekatan pemecahan masalah pendidikan, khususnya
masalah pengembangan kurikulum sekolah dasar yang lebih cocok diterapkan pada
era sekarang dan masa datang. Di bawah ini, tiga model kurikulum yang
diterapkan di sekolah dasar masa depan.
1) Model
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pada tahun
1970-an konsep pendidikan berdasarkan kompetensi (PBK) atau Competency-Based Education (CBE) mulai
banyak digunakan di dunia pendidikan. Konsep tersebut semakin berkembang dengan
adanya berbagai tuntutan yang harus dipenuhi oleh pendidikan, terutama yang
berkaitan dengan persoalan akuntabilitas (pertanggung jawaban).
2) Model
Kurikulum Berbasis Masyarakat
Kurikulum
berbasis masyarakat bisa dikembangkan baik dalam lingkup nasional, regional,
maupun lingkup local oleh guru di sekolah. Ciri utama kurikulum berbasis masyarakat,
yaitu keterkaitan berbagai komponen kurikulum dengan berbagai aspek dan dimensi
kehidupan masyarakat, baik dalam bentuk proses pembelajaran. Tujuan yang ingin
dicapai kurikulum, yaitu manusia yang memiliki kualitas yang diperlukan untuk
pelestarian dan pengembangan kehidupan masyarakat.
Model kurikulum
rekonstruksi social mengandung ciri-ciri sebagai berikut.
a) Tujuan
kurikulum diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Tujuan bisa berubah-ubah setiap waktu.
b) Isi
kurikulum adalah masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Isi dam proses
dikemas sekaligus serta disusun bersma-sama.
c) Guru
dan siswa belajar bersama, guru membantu siswa menemukan
minat/bakatkebutuhannya dan bersama siswa berusaha memecahkan masalah social
yang dihadapi.
d) Evaluasi
diarahkan pada penilaian proses dan hasil kerja kelompok. Penilaian bersifat
kualitatif.
3) Model
Kurikulum Konstruktivisti
Model kurikulum
ini dilatarbelakangi oleh munculnya filsafat pengetahuan yang banyak
mempengaruhi perkembangan pendidikan (terutama sains dan matematika), yaitu
filsafat konstruktivisme, aliran ini menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil
konstruksi (bentuk) manusoa.
Model kurikulum
yang bercorak konstruktivistik dalam pelaksanaannya menerapkan beberapa prinsip
sebagaimana dikemukakan oleh Cunningham, duffy, dan knuth (sulton,1998), yaitu
sebagai berikut.
a) Mengembangkan
pengenalan melalui proses konstruksi pengetahuan.
b) Mengembangkan
pengalaman belajar yang memungkinkan apresisasi dan kaya akan berbagai
alternative.
c) Mengintegrasi
proses belajar dengan pengalaman yang nyata dan relevan.
d) Memberikan
kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan arah belajar mereka sendiri.
e) Menanamkan
belajar melalui pengalaman bersosialisasi.
f) Mendorong
penggunaan berbagai bentuk representasi.
F.
Perancangan Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses
komunikasi transaksional yang bersifat timbale balik, baik antara guru dengan
siswa, maupun antara siswa dengan siswa, untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
1. Prinsip-Prinsip
Merancang Pengalaman Belajar
Proses
pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila sebagai guru, Anda memiliki
kemampuan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Untuk itu, Anda
harus memiliki kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar secara
terencana, sejalan dengan tujuan pembelajaran dan rentang waktu yang tersedia.
Berikut ini
adalah beberapa prinsip yang perlu anda perhatikan dalam merancang pengalaman
belajar siswa.
a. Prinsip
Mengaktifkan Siswa
Cara yang dapat
dilakukan guru antara lain dengan menggunakan berbagai metode atau media
pembelajaran yang tepat, yang dapat merangsang keterlibatan fisik dan psikis
siswa.
b. Prinsip
Kesesuaian
Seorang siswa
hendaknya tidak terlalu berharap untuk mendapatkan seorang guru yang
benar-benar ideal sesuai dengan harapannya. Jangan sampai seorang anak
mengabaikan sama sekali suatu mata pelajaran karena tidak senang pada seorang
guru.
Bagi seorang
guru membantu siswa dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, serta
memeroleh perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan yang berebeda-beda.
c. Prinsip
Memberi Kepuasan
Pembelajaran
yang dirancang diharapkan akan menjadi suatu kegiatan yang dapat memfasilitasi
minat dan kebutuhan siswa. Suatu ikatan stimulus yang direspon akan terus
berlanjut apabila individu yang belajar memeroleh dampak yang menyenangkan.
d. Prinsip
Pengalaman Belajar yang Sama Menimbulkan Hasil yang Berbeda
Yang penting
disini adalah bagaimana guru dapat memberikan pengalaman yang sama untuk tiap
siswa, walaupun ada perbedaan hasil belajar diantara siswanya.
e. Prinsip
Variasi Pengalaman Belajar
Kerucut
pengalaman dari Edgar Dale, ada sebelas jenis pengalaman yang dapat
divariasikan, yaitu (a) pengalaman langsung, (b) pengalaman melalui media
tiruan, (c) pengalaman melalui dramatisasi, (d) pengalaman melalui demonstrasi,
(e) pengalaman melalui karyawisata, (f) pengalaman melalui pameran, (g)
pengalaman melalui televise, (h) pengalamn melalui gambar hidup, (i) pengalaman
melalui rekaman, radio, gambar diam, (j) pengalaman melalui lambing visual, dan
(k) pengalaman melalu lambing verbal.
2. Faktor-Faktor
yang Perlu Diperhatikan dalam Merancang Kegiatan Pembelajaran
a. Siswa
Dalam
merancang kegiatan pembelajaran guru harus mengetahui terlebih dahulu
pengetahuan awal siswa. Pemahaman terhadap pengetahuan awal ini merupakan titik
awal bagi guru untuk merancang kegiatan pembelajaran, baik yang menyangkut
tujuan, materi, metode, dan evaluasinya.
b. Kemampuan
Guru
Kemampuan
guru bukan hanya terkait pada kemampuan mnegajar, tetapi juga terkait dengan
banyaknya waktu yang tersedia oleh guru untuk mengajar.
c. Tujuan
Pembelajaran
Komponen
tujuan dalam kegiatan pembelajaran berperan sebagai arah untuk melaksanakan
komponen lainnya.
d. Sarana
dan Prasarana
Sarana
dan prasarana pembelajaran khususnya ketika guru merancang suatu kegiatan pembelajaran
yang memerlukan sarana penunjang yang khusus dan perlu dipersiapkan secara
matang.
e. Materi
Banyak
cara yang dapat dilakukan guru dalam merancang materi pembelajaran. Oleh karena
itu, seorang guru diharapkan dapat menyajikan materi tersebut secara bervariasi
sesuai dengan karakteristik masing-masing materi dan tentunya harus sesuai
dengan TIK dan TIU mata pelajaran.
3. Prosedur
Umum Pembelajaran
a. Pra-kegiatan
Pembelajaran
Pada
tahap ini guru memelajarai kurikulum dan menguraikannya secara spesifik untuk
setiap kegiatan pembelajaran.
b. Kegiatan
Awal
Sebagai
seorang guru, perlu melakukan kegiatan yang dapat menarik minat siswa untuk mau
belajar.
c. Kegiatan
Inti
Guru
dapat menyajikan materi pelajaran dengan berbagai cara (metode) dan menggunakan
berbagai media. Guru juga perlu melakukan asosiasi-asosiasi dan memaparkan data
atau fakta-fakta yang dapat menjadi penguat bagi siswa untuk memahami apa yang
telah diajarkan guru.
d. Kegiatan
Penutup
Kegiatan
penutup dalam suatu pembelajaran merupakan kegiatan generalisasi, artinya guru
dapat menyimpulkan apa yang telah dipaparkan dalam kegiatan inti.
4. Komponen-Komponen
Kegiatan Pembelajaran
Komponen
pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam perancangan kegiatan pembelajaran
adalah metode mengajar, media pembelajaran, dan sumber belajar.
Metode
pembelajaran adalah cara dalam menyajikan isi pelajaran kepada siswa untuk
mencapai tujuan tertentu. Media pembelajaran merupakan sarana yang membantu
proses belajar siswa. Sedangkan, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan siswa untuk belajar.
G. Pengembangan
Rencana Pembelajaran
1. Hakikat
Pengembangan Rencana Pembelajaran
a. Pengertian
Rencana Pembelajaran
Rencana
pembelajaran merupakan kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai
oleh suatu kegiatan pembelajaran, cara apa yang digunakan untuk menilai
pencapaian tujuan tersebut, materi atau bahan apa yang akan disampaikan,
bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media atau alat apa yang diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan proses pembelajaran tersebut.
Adapun fungsi
dari perencanaan pembelajaran dimaksudkan agar guru lebih siap dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Seorang guru yang baik akan senantiasa
mengadakan persiapanterlebih dahulu, baik itu persiapan perencanaan yang
tertulis maupun tidak tertulis.
b. Hubungan
Kurikulum dan Pembelajaran
1) Hakikat
pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu
proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru
dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa, untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Pembelajaran
pada hakikatnyaadalah proses sebab-akibat. Guru sebagai pengajar merupakan
penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua
perbuatan belajar siswa merupakan akibat dari guru yang mengajar. Oleh sebab
itu, guru sebagai figur sentral harus mampu menetapkan strategi pembelajaran
yang tepat sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang
aktif, produktif dan efisien.
Siswa sebagai
peserta didik merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan
pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang
dilakukan siswa. Cara belajar ini dapat dilakukan dalam bentuk kelompok
(klasikal) ataupun perorangan (individual). Oleh karena itu, guru dalam belajar
haru memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan, dan cara belajar siswa.
Tujuan
pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar
tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah
dilakukan.
2) Hubungan kurikulum dalam pembelajaran
Hubungan antara
kurikulum dan pembelajaran yang telah disepakati para ahli sebagai berikut.
a) Antara
kurikulum dan pembelajaran terdapat hubungan yang erat, tetapi masing-masing
merupakan hal yang berbeda.
b) Kurikulum
dan pembelajaran saling terkait dan saling bergantung (interlooking dan interdependent).
c) Kurikulum
dan pembelajaran mungkin saja dipelajari dan dianalisis secara terpisah, tetapi
masing-masing tidak dapat berfungsi sendiri.
c. Karakteristik
Rencana Pembelajaran
Adapun
karakterisitik yang dapat dijadikan pertimbangan ketika kita menyusun suatu
rencana pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
1. Ditujukan
untuk Siswa Belajar
Rencana
pembelajaran yang disusun haruslah dibuat sesuai dengan tujuan serta kebutuhan
siswa. Materi pelajaran yang diberikan haruslah sesuai degan tuntutan dan dalam
rangka memnuhi kebutuhan siswa, perkembangan siswa, mengandung norma yang
positif, serta memperhatikan minat dan perhatian siswa.
2. Memiliki
tahap-tahap
a) Tahap
persiapan
b) Tahap
pelaksanaan
c) Tahap
evaluasi
d) Tahap
tindak lanjut
3. Sistematis
Rencana
pembelajaran yang baik harus disusun secara sistematis, artinya perencanaan
tersebut harus dimulai dari hal yang mudah terlebih dahulu, kemudian diikuti
dengan sesuatu yang harus mengikutinya.
4. Pendekatan
sistem
Pembelajaran
harus dirancang sebagai suatuu sistem artinya pembelajaran itu terdiri atas
komponen-komponen yang saling bekaitan dan saling memengaruhi.
5. Didasarkan
pada proses belajar manusia
Proses
pembelajaran pada hakikatnya adalah proses belajar siswa sebagai pebelajar.
Oleh karena itu, dalam melakukan perencanaan seorang guru harus mengutamakan
pada proses belajar siswa itu sendiri sebagai manusia yang akan belajar.
d. Model
Pembelajaran
Banyak model
yang digunakan untuk mengembangkan rencana pembelajaran, antara lain sebagai
berikut.
1. Model
Banathy
Pengembangan
pembelajaran menurut Banathy dapat dilakukan dalam enam langkah.
a) Merumuskan
Tujuan
b) Mengembangkan
Tes
c) Menganalisis
Kegiatan Belajar
d) Mendesain
Sistem Instruksional
e) Melaksanakan
Kegiatan dan Mengetes Hasil
f) Mengadakan
Perbaikan
2. Model
Kemp
Menurut Kemp
model pengembangan terdiri dari delapan langkah, yaitu sebagai berikut.
a) Menentukan
tujuan pembelajaran umum
b) Membuat
analisis tentang karakteristik siswa
c) Menentukan
tujuan pembelajaran secara spesifik, operasional, dan terukur (TPK)
d) Menentukan
materi/bahan pelajaran yang sesuai degan TPK
e) Menentukan
penjajakan awal (pre assessment)
f) Menentukan
strategi belajar-mengajar yang sesuai
g) Mengkoordinasikan
sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu,
dan tenaga
h) Mengadakan
evaluasi
3. Model
PPSI
Ada lima langkah
menurut Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional, yaitu :
a) Merumuskan
tujuan instruksional, dalam hal ini TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
b) Menyusun
alat evaluasi
c) Menentukan
kegiatan belajar dan materi pembelajaran
d) Merencanakan
program kegiatan, dan
e) Melaksanakan
program
4. Model
Gerlach & Ely
Model
pengembangan rencana pembelajaran menurut Gerlach & Ely disusun berdasarkan
10 unsur, yaitu:
a) Spesifikasi
isi pokok bahasan
b) Spesifikasi
tujuan pengajaran
c) Pengumpulan
dan penyaringan data tentang siswa
d) Penentuan
cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar
e) Pengelompokkan
siswa
f) Penyediaan
waktu
g) Pengaturan
ruang
h) Pemilihan
media
i) Evaluasi
j) Analisis
umpan balik
2. Prosedur
Pengembangan Rencana Pembelajaran
a. Langkah-Langkah
Umum Pengembangan Rencana Pembelajaran
Langkah-langkah
umum pengembangan rencana pembelajaran, yaitu:
1) Perumusan
Tujuan
2) Pengembangan
Alat Evaluasi
3) Perencanaan
Materi Pembelajaran
4) Perencanaan
Kegiatan Pembelajaran
H.
Pengembangan
Bahan Ajar Melalui Media dan Sumber Belajar
1. Konsep
Dasar Media Pembelajaran
a. Pengertian
Media Pembelajaran
Pertama, NEA (1969) mengartikan media
pembelajaran sebagai sarana komunikasi, baik dalam bentuk cetak maupun pandang
dengar, termasuk perangkat kerasnya.
Kedua, Wibur Schramm
(1977) mendefinisikan media pembelajaran sebagai teknologi pembawa pesan yang
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.
Ketiga, Miarso (1980)
menegaskan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak didik sehingga
dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Jadi, dapat disimpulkan
secara sederhana bahwa media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan
atau informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya.
Secara
sederhana, media pembelajaran dapat dipilih menjadi tiga bagian, yaitu sebagai
berikut.
1) Media
Visual
Media visual
adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra
penglihatan.contoh dari media visual adalah, tabel, poster, foto, dan slide.
2) Media
Audio
Media audio
adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar)
yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan para siswa
untuk mempelajari bahan ajar.
3) Media
Audiovisual
Media ini
merupakan kombinasi audio dan visual atau biasa disebut media pandang-dengar.
b. Fungsi
Media Pembelajaran
Dalam
pembelajaran, media memiliki banyak fungsi/kegunaan, antara lain untuk
mengatasi berbagai hambatan proses komunikasi, sikap pasif siswa dalam belajar,
dan mengatasi keterbatasan fisik kelas.
Kegunaan
media pembelajaran untuk mengatasi hambatan proses komunikasi antara lain untuk
mengatasi verbalisme (ketergantungan untuk menggunakan kata-kata lisan dalam
memberikan penjelasan), artinya dengan kata-kata lisan yang mungkin abstrak
dapat digambarkan dan dibantu dengan penggunaan media sehingga verbalisme dapat
diminimalkan atau bahkan ditiadakan.
Berkaitan
dengan keterbatasan fisik kels, media memiliki kegunaan untuk memerkecil objek
yang terlalu besar, memerbesar objek yang terlalu kecil, menyederhanakan objek
yang terlalu rumit, dan menggambarkan objek yang terlalu luas.
Dalam
mengatasi sikap pasif siswa, media pembelajaran juga memiliki berbagai
kegunaan, antara lain menimbulkan kegairahan belajar, menarik perhatian,
mendekatkan interaksi langsung dengan dunia nyata, memberikan perangsang yang
sama untuk memersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.
2. Konsep
Dasar Sumber Belajar
a. Pengertian
Sumber Belajar
Berdasarkan
paparan yang dikemukakan Association for
Education and Commication Technology (AECT), sumber belajar diartikan
sebagai semua sumber, baik berupa data, orang maupun wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar, baik secara terpisah maupun
terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.
b. Fungsi
Sumber Belajar
Kalau metode
pembelajaran lebih sekadar sebagai media untuk menyampaikan pesan, sedangkan
sumber belajar tidak hanya memilikii fungsi tersebut tetapi juga termasuk
strategi, metode, dan tekniknya.
c. Faktor-faktor
yang Memengaruhi Pemilihan Media dan Sumber Belajar
Untuk memeroleh
hasil
yang optimal, pemlihan media dan sumber belajar perlu memerhatikan hal-hal
berikut ini.
1) Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran memuat kompetesi yang diharapkan akan dimiliki siswa di akhir
pembelajaran.
2) Situasi
Belajar
Jumlah siswa dan
besar kecilnya kelas juga ikut menentukan pemilihan media dan sumber belajar.
3) Kemudahan
Pilih media dan
sumber belajar yang mudah diperoleh.
4) Ekonomis
Pilih media
pembelejaran yang ekonomis, dalam arti efektif dan efesien.
5) Fleksibel
Dapat digunakan
pada berbgaia mata pelajaran dan tujuan pembelajaran.
6) Kepraktisan
dan Kesederhanaan
Sebaiknya pilih
media pembelajaran yang praktis dan sederhana penggunaannya.
7) Kemampuan
Guru
Jika seorang
guru dapat menggunakan atau mendapatkan media dan sumber belajar secara mudah,
berarti seoang guru tersebut tidak akan tergantung pada siapa pun.
Comments
Post a Comment