Maafkan aku menyukai kekasihmu

                Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, disaat dirimu dan dirinya bisa tersenyum bahagia. Disaat dua orang yang sangat aku sayangi bisa bahagia dengan rasa sakit yang begitu teramat pilu menusuk lubuk hati ini. Aku selalu mencoba tersenyum melihat kalian, tersenyum diatas kekalahanku sendiri.
                Pagi ini, aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Aku berharap bisa mengakui kekalahanku dan menyadarkan diriku bahwa aku memang harus berhenti memikirkannya. Tapi, aku salah. Aku tak bisa berhenti memikirkannya sedetikpun dan tidak akan pernah bisa berhenti mengagumi sosok dirinya itu.
                Perjalanan antara pintu gerbang menuju kelas terasa begitu berat, seakan menempuh waktu beribu cahaya. Bulir-bulir permata yang tersimpan begitu rapat itu tak bisa disembunyikan lagi. Bagaimana aku tidak sakit ketika melihatnya, orang yang sangat aku cintai sejak dulu, yang selalu aku kagumi dan aku banggakan sedang tertawa bahagia bersama sahabatku sendiri. Tanpa memikirkan ada orang yang tersakiti atas apa yang telah mereka lakukan.
                Senyumku palsu saat kedua sosok mata mu menatapku dari tempat mereka berdua bercanda gurau, tertawa dan bahagia bersama. Ya. Itu kebahagiaan mereka, bukan kebahagiaanku! Buat apa aku tersenyum diatas kesakitan yang mereka berikan? Persetan dengan semua ini.
                Aku berlari menuju kelas tanpa memerhatikan siapa-siapa lagi. Sudah teramat cukup perasaan ini menyiksa batinku. Menghancurkan benteng terkuatku selama ini. Hanya air mata yang dapat memahami apa yang terjadi denganku. Canda gurau yang dulu selalu di lakukan bersama, kini tiada lagi. Canda itu tak pernah dia berikan padaku lagi.
“Key, kamu kenapa?”
“Ga papa Bell, aku Cuma agak sedikit kurang enak badan”
“Mata kamu kok sembab gitu? Abis nangis ya? Kenapa?”
“Ga papa, kamu tenang aja. Oh iya, Doni mana?”
Apa yang ku lakukan? Apa yang barusan aku tanyakan? Mengapa aku menanyakan dimana kamu? Bukankah itu membuatku semakin merasa tersakiti, membuat luka didalam hati ini semakin terasa perih.
“Dia ke kantin bentar. Kamus ekarang jarang gabung sama kita Key, kenapa? Ada masalah?”
Bodoh betul dia bertanya seperti itu, sahabat macam apa? Tidak pernah kah bisa memikirkan perasaanku selama ini? Tidak pernahkah dia mendengarkan semua ceritaku tentang Doni? Bagaiman perasaanku dengannya dan betapa gilanya aku pada sosok Doni. This Fucking Perfect For You !!
“Aku pengen sendiri dulu, bisa kan Bel?”
“Ya udah, kalau ada apa-apa panggil aku aja yah. Aku mau ke kantin dulu nyusul Doni”
...
                Aku memang tidak seperti Bella yang cantik, memilikis segalanya yang ia inginkan, punya banyak teman dan selalu menyenangkan. Aku hanya seorang manusia teramat biasa yang sangat banyak memiliki kekurangan. Hanya air mata yang dapat memahami isi hati ini, tanpa ada orang lain yang mau mendengarkan keluh kesah ini.
                Aku ini memang bodoh, bodoh karena tidak bisa melupakan sosok dirimu yang sekarang sudah menjadi milik sahabatku sendiri. Tapi, apalah dayaku, aku memang begini dan akan terus begini. Aku tak kuasa untuk menghentikannya, untuk melupakan semua bayang tentang mu, semua kenangan yang telah kau ukir dihati ini.
                Kesabaran ku sudah mulai habis, aku sudah lelah dengan sandiwara yang selalu bisa tersenyum seakan ikut bahagia melihat hubungan kalian. Aku lelah tertawa diatas penderitaanku sendiri. Aku tak bisa membohongi perasaanku lagi. Apapun yang akan terjadi, kalian harus tau kalau aku sakit, aku kecewa, terluka, karena kalian.
“Don...”
“Key.. ada apa?”
“Aku boleh ngomong sesuatu ngga?”
“Ngga kayak biasanya neh.. ada apa?”
“Aku.. suka..”
Pembicaraan ku terhenti seketika melihat Bella datang dengan dua kaleng minuman dingin ditangannya.
“Ya ampun Key.. aku cuman beli dua nih.. tunggu bentar yah.. aku ngambil satu lagi”
“Ngga usah Bel.. ngga papa kok” ucapku basa-basi.
“Yaa ngga boleh gitu dong.. kamu pasti haus juga.. nih minhum punyaku dulu” Ucap Bella seraya menyerahkan minuman tersebut kepada ku dan Doni.
                Sesaat berlalu setelah Bella pergi, Dion memaksaku menyelesaikan perkataanku yang sempat terputus.
“Kamu mau bilang apa tadi Key?”
“Ngga papa kok.. ngga jadi deh”
“Jangan bohong Key.. kamu suka apa?”
“Aku..” membisu, hanya itu yang bisa ku katakan.
“Kamu suka aku?”
“Iya Don..”
                Aku langsung pergi meninggalkan Doni yang bengong dengan apa yang telah didengarnya, aku tak berani lagi berdiri didepannya, berada didekatnya dan hadir diantara Dia dan Bella. Aku merasa terlalu bodoh saat ini. Aku tak bisa mengendalikan akal sehatku lagi. Aku telah mengahncurkan persahabatan kami dengan mengatakan hal yang tidak boleh aku katakan.
                Aku menangis sejadi-jadinya diruang UKS. Tanpa ku sadari ternyata Doni mengikutiku secara diam-diam.
“Kamu sungguh-sungguh Key?” ucapnya mengejutkanku.
“Pergi kamu Don.. aku ngga mau ketemu kamu”
“Key.. aku tanya baik-baik sama kamu.. kamu beneran suka aku?” Tanya Doni sekali lagi diiringi dengan usapan lenbutnya diubun-ubun kepala ku.
“Aku menyesal Don udah mengatakan itu sama kamu, aku tau aku ngga pantas mengatakannya”
“Key..  maafin aku, aku ngga mungkin membagi rasa ini untukmu, aku juga ngga bermaksud menyakiti kamu. kamu harus pahami ini, aku ngga mungkin pacaran dengan dua orang sekaligus, apalagi mereka bertiga sebelumnya adalah sahabat aku sendiri. itu terlalu egois Key.”
                Aku tau itu, tanpa Doni mengatakan hal itu pun aku juga sudah tahu akan seperti ini jadinya. Doni tidak mungkin menyukaiku, dan aku tak mungkin bisa memiliki Doni sepenuhnya.
...
                Kejadian itu membuatku semakin tersiksa, persahabatanku mulai renggang. Doni pun semakin dingin terhadapku, tak ada lagi senyumannya saat aku lewat dihadapannya. Begitu juga dengan Bella, mungkin dia tak bisa lagi mempercayaiku sepenuihnya setelah mengetahui hal ini semua. Aku menyesal telah berbuat seperti ini. Hingga akhirnya, aku sendiri dan tak ada satu orang pun yang bisa menyembuhkan luka kekalahan ini.
                Aku tau semua ini salahku, salahku yang sejak dulu tak pernah mengakui bahwa aku memang menyukai Doni. Hingga semuanya terlambat sudah, saat sahabatku sendiri bersamanya, aku seakan menyalahkan dirinya yang tak pernah mengerti akan perasaanku. Betapa egoisnya aku hanya memikirkan perasaanku sendiri.
                Bahagialah orang yang bisa memilikimu, tidak seperti aku yang hanya bisa mengagumimu dan tak boleh mengungkapkannya.

Comments