“Dan dia bersedih meratapi perpisahan yang kan terjadi.. Ini bukannya keinginanku dan dia tapi mereka..”
Penyesalan selalu datang terlambat, seperti itulah yang ku alami saat ini. Aku yang sudah membiarkan seorang wanita yang sangat aku cintai pergi meninggalkanku. Lidya, tidak ada satupun yang bisa menggantikan kamu dihati ini.
“Abebh, dari tadi kok bengong si? Mikirin aku yah?”
“eh? Maaf bebh, tadi aku kepikiran sama tugas sekolah aku. Sudah gurunya tua, cepat naik darah lagi. Apess banget tuh kalo ngga dikerjain”
Maaf Lidya, kali ini aku bilang sama Tia kalo kamu tugas sekolah aku. Aku harap kamu mengerti keadaan aku saat ini. My lovely.
“Sudah lah bebh, tugas sekolah ntuh bisa dikerjain ntar kan. Yang penting sekarang, kamu seneng-seneng dulu sama aku”
“Iya bebh kuu sayang...”
Andai yang saat ini didepanku adalah Lidya, mungkin aku tidak berada di pantai seperti saat ini, tapi berada diperpustakaan. Dengan senyum terindah yang selalu dia berikan untukku, dia adalah orang nomer satu yang selalu mendukung aku dan membantu aku mengerjakan tugas-tugas sekolah ku yang teramat dan sangat sulit bagi ku.
Lidya, dimana kamu sekarang? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang pujaan hatiku?
-@My room_09.12 p.m.-
Perasaanku kembali terbayang akan sosok Lidya, yang selalu membuat malam-malam ku indah. Yang bisa merubah suasana dinginnya malam menjadi hangat.
Ku ambil handphone ku yang dari tadi selalu mengeluarkan bunyi-bunyi yang menandakan adanya pesan masuk. Kali ini, ku berharap akan ada satu pesan yang masuk ke inbox ku dari Lidya, tapi ternyata... Oh My God !! 24 new message yang ada di inbox ku semuanya dari Tia !!
Tidak seperti Lidya yang penyabar, Tia selalu marah jika aku tidak balas sms nya atau tidak ngasih tau khabar kepadanya. Bahkan, Tia juga ngelarang aku untuk temenan sama temen cewek !! it’s crazy !! Cemburu yaa okelah, tapi jangan cemburu buta juga kan. Huuuft, susah juga punya cewek yang overrrrr.. T.T
-@07.00 a.m. in school-
Setelah meletakkan motorku diparkiran, aku berniat untuk lewat kelas Lidya dengan harapan agar aku bisa bertemu dengannya. Oh Tuhan.. Kabulkan permohonan ku ini.
“Indra !!”
Hey, aku kenal suara ini. Suara seseorang yang selama ini selalu ku bayangkan dan ku impikan, suara seseorang yang ku harap akan dapat menemani setiap hari ku.
“Lidya, ada apa?”
“Aku bisa titip ini kan sama Rama?”
Dengan menyerahkan sebuah buku, Lidya tersenyum manis untukku. Aku mungkin memang cemburu saat ini, karena sekarang Lidya lebih akrab dengan Rama, sahabat ku.
“Iya deh, ada bayarannya ngga nih, aku jadi tukang antar buku?”
“Ih, dasar! Kalo mau bayaran, minta sama Rama aja yah.. hehehe”
“Ehm.. ehm.. ada apa niih?”
“Ngga ada apa-apa Indra”
“Gitu ya Lidyaaaaaa”
Dengan sebuah cubitan dipipi kanannya yang kuberikan pagi ini, aku merasa puas dan bahkan sangat puas sudah bisa bertemu dan bercanda lagi dengan Lidya, walaupun aku tau sekarang dia sangat jaga jarak denganku. Setidaknya permintaanku pagi ini udah dikabulin. hheee...
-@Pulang sekolah-
Ku lihat Lidya, sedang nunggu jemputannya didepan pintu gerbang sekolah, ku pelankan laju motorku dengan maksud untuk dapat mengajak Lidya pulang bareng denganku. Tapi... Tiba-tiba aku terpaksa menghentikan motorku saat melihat Rama berhenti didepan Lidya dan kemudian, Lidya ikut motornya Rama! Apa? Apa maksud semua ini?
Pikiranku mendadak kacau, antara benci, penyesalan dan kemarahan! Lidya, orang yang sangat aku cintai sekarang pulang sekolah bersama sahabat aku sendiri, sahabat yang dulunya selalu mendukung aku dengan Lidya, tapi sekarang?
“Boss! Tumben pulang sekolah tadi lu ngga keliatan, pulang duluan yha?”
“Ngga!”
“Lalu?”
“Gw liat lu sama Lidya sepulang sekolah tadi, kemana? Mau pesta karena udah berhasil hianatin gw sebagai sahabat lu?”
“Heii, apa maksud lu sih Ndra? Gw ngehianatin lu? Hianatin apa?”
“Ngga usah pura-pura deh Ram! Gw tau kok lu suka kan sama Lidya? Atau jangan-jangan, kalian udah pacaran? Selamat yah!”
“Astagaaa Indra! Lu ini bicara apa! Mana mungkin gw merebut cewek yang selama 3 tahun ini selalu ada dihati sahabat gw sendiri! Gw sama Lidya tuh ngga ada apa-apa, bahkan dia udah gw anggep kayak adik gw sendiri. Ngga ada hubungan apa-apa! Suwer”
“Lalu, apa yang kalian lakukan sepulang sekolah tadi?”
“Kencan”
“Heh apa?”
Hampir saja saat itu sebuah tinjuan dari tangan kananku melayang ke wajah sahabat aku sendiri. Cinta memang gila!
“Weeeh, santai dulo donk boss, biasanya lu fine-fine aja kalo gw ngajak becanda kayak gini, tapi kenapa sekarang kayaknya sensi banget? Lagi eM yaa? Hahahha”
“Idiiih, dasar kancil sialan! Cepet bilang tadi kalian ngapain?”
“Iya deh, iya.. gw ceritain, tapi kamu janji, pulang dari sini traktir makan. Oke?”
“Okee.. Beres!”
“Cuma ngantar dia pulang”
Seketika perasaanku terasa tenang kembali. Entah mengapa sebabnya setelah mendengar 4 kata yang keluar dari mulut Rama tersebut aku merasa seperti baru terlepas dari jeratan sebuah tali yang sejak tadi terlilit di leherku.
“Kenapa Ndra? Cenburu kah dirimu kepada diriku?”
“Hahaha. Ngomong apa sih lu Ram! Mana mungkin gw cemburu, toh gw juga udah punya Tia kan?”
“Jangan bohongi perasaan lu sob!”
Apa yang kamu katakan itu benar Ram! Tidak ada satupun cewek yang bisa menggantikan Lidya dihati ini, walaupun aku selalu beranggapan bahwa aku bisa bahagia dengan cewek lain selain Lidya. Tapi itu salah, hanya Lidya dan akan selalu Lidya yang ku inginkan!
-@08.00 p.m.-
Aku yakin, Tia sangat marah sama aku, mulai dari kemaren sikapku udah berubah dengannya, aku udah ngga perhatiin dia lagi. Apa aku ini salah? Apapun keputusan ku nanti, ku harap ini yang terbaik. Tia maafkan aku !
Ku kirim sebuah pesan singkat kepada Tia. Hanya beberapa kata yang ku harap Tia mengerti maksudnya.
Tia..
Aku minta maaf, bukan maksud ku nyakitin kamu..
Tapi aku memang ngga bisa lagi beri kamu kasih sayang kayak dulu...
Aku merasa sekarang pelajaranku lebih berharga dibanding harus bersenang-senang dengan kamu..
Semoga kamu bisa mengerti.. Bebh...
Malam ini, di dinginnya malam karena hujan kembali turun. Aku hanya bertemankan dengan laptop dan hape yang ku non-aktifkan setelah mengirim sms kepadas Tia tadi. Ku akui selama ini memang laptop dan hape lah teman-teman setia ku saat ku merasa kesepian seperti saat ini.
Entah mengapa malam ini aku sangat ingin melihat isi profil facebooknya Lidya, walaupun sebenarnya hal ini biasa kulakukan jika aku sangat merindukannya. Tapi kali ini, berbeda dengan sebelumnya, karena betapa terkejutnya aku saat melihat sebuah pemberitahuan yang muncul diprofil Lidya, Lidya Astika Putri sekarang Berpacaran dengan Rakha Syamsudin. Apa? Rakha? Kalau aku tidak salah inget, Rakha adalah temen sekolah Lidya, Aku dan Rama sewaktu SMP dulu. Dengan perasaan bersalah, karena sempat meninggalkan Lidya, aku memberanikan diri membuka profil facebooknya Rakha, dan ternyata! It’s right! Itu adalah Rakha temen ku dan Lidya dulu. Dan sekarang, dia menjabat sebagai ketua osis disekolahnya.
Memang pantas, seorang Rakha yang hebat mendapatkan seorang puteri Lidya yang juga sangat dan teramat hebat.
Tiba-tiba..
“Indra! Indra! Indra!”
Dengan tergesa-gesa Rama datang menemuiku dikamar, masih dengan keringat yang keluar ditubuhnya.
“Hey boss.. kenape kayak gitu? Motor lu mogok lagi ya?”
“Ini bukan soal motor, tapi soal Lidya!”
“Heh? Lidya? Kenapa?”
“Lidya kecelakaan! Sekarang dia ada di Rumah Sakit! Sepuluh menit yang lalu nyokapnya telpon gw!”
“Hah? Apa?”
“Udah, lo ngga usah bengong kaya orang bego gitu, cepet sekarang ikut gw kesana!”
15 menit kemudian aku dan Rama sudah berada dirumah sakit. Aku tak perduli, apakah ada Rakha atau tidak, yang penting bagiku saat ini adalah keselamatan dari Lidya. Hanya itu!
Ku lihat ibu Lidya terduduk lemas dengan air mata yang mengalir dipipinya. Juga dengan adiknya yang dari tadi murung membayangkan nasib kakaknya sekarang. Tanpa Rakha, yaa tanpa ada Rakha disini.
“Kak Indra!”
Spontan kata-kata Gian tadi menyadarkan Ayah dan Ibunya yang dari tadi terbayang akan kekhawatiran dengan anaknya, berubah menjadi memandangku dengan wajah harap akan kebahagiaan puterinya. Karena dulu, hubungan ku dengan Lidya sudah direstui oleh orang tua Lidya dan orang tuaku.
“Syukurlah, nak Indra datang, tadi waktu Ibu telpon ke hape kamu, sepertinya kamu sibuk. Jadi terpaksa Ibu menghubungi Rama untuk memberitahu kamu kalau Lidya kecelakaan”
Mampussss! Gw baru sadar kalau hape mati! Pasti Tia udah nyiapin perlengkapan perang nih. Aaaah bodo’ mikirin Tia saat ini!
“eh, maaf bu. Tadi hape saya lowbatt”
Tiba-tiba, seorang Dokter keluar dari ruang Operasi.
“Bapak dan Ibunya Lidya, bisa bicara sebentar?”
“iya dok, lalu bagaimana keadaan puteri kami”
“maafkan kami, kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi yang maha kuasa berkehendak lain. Lidya udah pergi”
Spontan Ibunya Lidya pun berteriak karena harus menerima kenyataan kehilangan anak yang selama ini sangat mereka sayangi. Tanpa kusadari air mataku keluar dengan sendiriya. Aku tidak percaya ini, baru pagi tadi aku bicara dengannya, apakah harus seperti ini! Mengapa harus seperti ini! Mengapa Lidya harus ninggalin aku dan orang-orang yang menyayanginya secepat ini. Aku seperti orang yang terombang-ambing tak tau harus berbuat apa. Aku tak bisa menerima kenyataan ini, sungguh aku tak sanggup harus kehilangan Lidya untuk selamanya.
-@10.00 a.m.-
Selesai acara pemakaman Lidya, Aku bertemu dengan Rakha. Ku yakin, dia juga merasakan kehilangan yang sama seperti ku.
“Sabar yah sob! Memang umur ngga bisa ditebak kapan dia mau berakhir”
“Makasih ya Ndra, gw tau. Bukan hanya gw yang merasakan kehilangan kayak gini, tapi juga lu! Ternyata kehilangan orang yang sangat kita cintai untuk selamanya itu sakit banget yah!”
“Mungkin semua orang yang ada disini juga ngerasain apa yang kita rasa, karena sosok Lidya adalah sosok wanita yang sangat baik, bahkan teramat sangat baik.”
Sepulang dari pemakaman, Rama yang dari tadi juga tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan air matanya ikut pulang kerumahku.
“Ada yang mau gw ceritain sama lu Ndra!”
“Apa?”
“Kemaren, gw bohong. Gw ngga langsung pulang saat nganter Lidya pulang sekolah, tapi gw nemenin dia beliin ini buat lu”
“Buku?”
“Iya, kemaren dia ngajak gw ketoko buku, katanya mau beliin kado buat ultah lu. Waktu gw bilang ultah lu masih 2bulan lagi, Lidya bilang, takut ngga sempat beliin ini lagi buat lu”
Ku buka halaman pertama buku yang dikasih Lidya untukku. Tertuliskan dengan tinta hijau..
“For my Lovely : Indra Hartantyo”
Happy Birthday Sayang..
Sweet17th yah!
Aku sayang kamu, dan akan selalu menyayangi kamu..
Walaupun aku tau kamu sekarang dengan orang lain..
Dan walaupun juga aku bersama yang lain..
Tapi aku tetep sayang kamu sampai kapanpun!
Sampai aku menutup mata dan sampai aku ngga bisa lagi ketemu kamu untuk selamanya..
Kecuali saat nanti Tuhan mempertemukan kita lagi dialam yang lain
Forever Love “Indra & Lidya”
Happy Birthday Sayang..
Sweet17th yah!
Aku sayang kamu, dan akan selalu menyayangi kamu..
Walaupun aku tau kamu sekarang dengan orang lain..
Dan walaupun juga aku bersama yang lain..
Tapi aku tetep sayang kamu sampai kapanpun!
Sampai aku menutup mata dan sampai aku ngga bisa lagi ketemu kamu untuk selamanya..
Kecuali saat nanti Tuhan mempertemukan kita lagi dialam yang lain
Forever Love “Indra & Lidya”
Lidya, aku juga sayang kamu! Sekarang aku benar-benar mengetahui kalau selama ini hanya kamu yang aku inginkan, hanya kamu juga yang aku sayangi dan aku cintai. Semoga kamu tenang dan mendapatkan tempat yang layak dialam sana! Aku ngga bakalan bisa lupain kamu, karena kamu adalah sosok wanita terindah yang ada di hidupku. You’re the best. Mungkin sekarang, aku akan pergi keperpust dan ngerjain tugas-tugas aku berdua dengan Rama, tidak berdua dengan kamu lagi. Walaupun begitu, kamu tetap seorang Lidya yang selalu memberikan suport saat aku menyerah! Akan ku ingat dan ku kenang selalu semua kenangan yang pernah kita berdua lakukan. My lovely girl !!! I will always remember you in my self, because you are my first lovely and my first girlfriend.. Thanks for your attention to me, I sure, I can’t forget you until end time..
“Melukis duniamu kulukis dunia ku, kita jauh berbeda itulah adanya, tetap kau didepanku, didepan mataku, bertahanlah menunggu ikuti jalanku..”
Comments
Post a Comment